Mengenal Kitab Dalīl ath-Thālib li Nail al-Maṭālib dan Penulisnya



Pendahuluan

Sebelum memasuki pembahasan fikih dalam kitab Dalīl ath-Thālib li Nail al-Maṭālib, penting bagi seorang penuntut ilmu untuk mengenal terlebih dahulu kitab dan penulisnya.

Kitab Dalīl ath-Thālib li Nail al-Maṭālib merupakan salah satu matan fikih yang sangat dikenal dalam mazhab Hanbali. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama besar bernama Zainuddin Mar‘ī bin Yūsuf al-Karmī, yang wafat pada tahun 1033 H.

Kitab ini mendapatkan perhatian besar dari para ulama karena susunannya yang sistematis, bahasanya relatif mudah, serta memuat pendapat yang dianggap kuat dalam mazhab Hanbali.

Biografi Singkat Penulis

Penulis kitab ini adalah:

Zainuddin Mar‘ī bin Yūsuf al-Karmī

Beliau dikenal dengan nisbah al-Karmī, yang dinisbatkan kepada daerah Ṭūr Karm atau Ṭūlkarm, sebuah wilayah di Palestina yang berada tidak jauh dari Nablus.

Beliau lahir di wilayah tersebut dan mendapatkan pendidikan awal di sana. Setelah itu beliau melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Baitul Maqdis, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir.

Di Mesir, beliau menuntut ilmu di Al-Azhar, yang pada masa itu merupakan salah satu pusat keilmuan Islam yang sangat penting. Setelah memperoleh ilmu yang cukup, beliau kemudian turut berperan dalam kegiatan pengajaran di sana.

Para ulama memberikan pujian terhadap keluasan ilmu dan produktivitas beliau dalam menulis.

Dalam kitab sejarah ‘Unwān al-Majd, Ibnu Bisyr memberikan pujian bahwa Mar‘ī al-Karmī memiliki keunggulan dalam bidang fikih dan ilmu-ilmu lainnya serta menghasilkan banyak karya.

Disebutkan bahwa karya-karya beliau berjumlah lebih dari 85 kitab dalam berbagai bidang keilmuan.

Beliau kemudian menetap di Mesir hingga wafat pada tahun 1033 H.

Mengenal Kitab Dalīl ath-Thālib

Judul lengkap kitab ini adalah:

دليل الطالب لنيل المطالب

Yang dapat diterjemahkan secara umum sebagai:

“Petunjuk bagi Penuntut Ilmu untuk Meraih Apa yang Dicari.”

Kitab ini merupakan matan fikih berdasarkan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal.

Dalam mukadimahnya, penulis menjelaskan bahwa kitab tersebut merupakan ringkasan fikih berdasarkan mazhab Imam Ahmad.

Beliau juga menjelaskan metode yang digunakan, yaitu berusaha menyebutkan satu pendapat dalam mazhab Hanbali, yaitu pendapat yang telah dianggap kuat oleh para ulama ahli tahqiq dan menjadi pegangan dalam fatwa.

Dengan demikian, kitab ini tidak ditulis sebagai kumpulan berbagai pendapat dalam mazhab, tetapi lebih diarahkan untuk menyajikan pendapat yang dianggap kuat dan dapat dijadikan pegangan dalam pembelajaran fikih Hanbali.

Jangan Tertukar dengan ‘Umdat ath-Thālib

Salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh para pelajar adalah adanya kemiripan nama antara Dalīl ath-Thālib dan ‘Umdat ath-Thālib.

Keduanya merupakan kitab yang berbeda.

Dalīl ath-Thālib li Nail al-Maṭālib adalah karya:

Mar‘ī bin Yūsuf al-Karmī.

Sedangkan ‘Umdat ath-Thālib li Nail al-Ma’ārib merupakan karya:

Manshur bin Yunus al-Buhuti.

Oleh karena itu, ketika mencari kitab atau syarahnya, seorang penuntut ilmu perlu memperhatikan judul dan nama pengarang agar tidak keliru.

Kedudukan Dalīl ath-Thālib dalam Fikih Hanbali

Kitab Dalīl ath-Thālib mendapatkan perhatian besar dari para ulama, sebagaimana halnya kitab Zād al-Mustaqni‘.

Sebagian ulama memberikan keutamaan kepada Zād al-Mustaqni‘, sementara sebagian lainnya memberikan perhatian lebih kepada Dalīl ath-Thālib.

Di antara kelebihan Zād al-Mustaqni‘ adalah banyaknya masalah fikih yang dibahas. Sementara itu, salah satu kelebihan Dalīl ath-Thālib adalah kemudahan bahasanya dan sistematika penyajiannya.

Keistimewaan Penyusunan Dalīl ath-Thālib

Salah satu kelebihan yang menonjol dari kitab ini adalah cara penulis menyusun materi fikih secara sistematis.

Penulis sering mengumpulkan masalah-masalah yang memiliki hubungan dalam satu tempat dan menyebutkan jumlahnya secara langsung.

Misalnya:

أقسام الماء الطهور أربعة أقسام

“Air yang suci dan menyucikan terbagi menjadi empat.”

Kemudian pembahasan tersebut dijelaskan satu per satu.

Demikian pula ketika membahas sunnah-sunnah wudu, penulis menyebutkan jumlahnya kemudian menjelaskan perinciannya.

Contoh lainnya adalah:

  • Sunnah-sunnah wudu.

  • Syarat-syarat mengusap khuf.

  • Pembatal-pembatal wudu.

  • Pembagian air.

  • Berbagai masalah dalam ibadah dan muamalah.

Metode seperti ini sangat membantu penuntut ilmu dalam memahami, mengingat, dan menghafalkan permasalahan fikih.

Hubungan dengan Muntahā al-Irādāt

Para ulama juga menyebutkan adanya hubungan yang sangat erat antara Dalīl ath-Thālib dengan kitab:

منتهى الإرادات في جمع المقنع مع التنقيح والزيادات

atau yang dikenal dengan nama Muntahā al-Irādāt.

Terdapat keterangan bahwa Mar‘ī al-Karmī menyusun kitabnya berdasarkan hasil pembelajarannya terhadap Muntahā al-Irādāt kepada Manshur al-Buhuti.

Karena itu, terdapat kemiripan yang cukup kuat antara kedua kitab tersebut.

Syarah-Syarah Dalīl ath-Thālib

Karena kedudukannya yang penting dalam pembelajaran fikih Hanbali, Dalīl ath-Thālib mendapatkan perhatian dari para ulama dan melahirkan berbagai syarah serta hāsyiyah.

Di antara karya yang berkaitan dengan kitab ini adalah:

1. Nail al-Ma’ārib Syarḥ Dalīl ath-Thālib

Karya ini ditulis oleh ‘Abdul Qadir at-Taghlabī.

Kitab tersebut merupakan salah satu syarah yang membantu menjelaskan maksud-maksud yang terdapat dalam matan Dalīl ath-Thālib.

2. Hāsyiyah al-Bassām

Di antara karya yang juga memberikan penjelasan terhadap Dalīl ath-Thālib adalah hāsyiyah yang dinisbatkan kepada Syekh al-Bassām.

Salah satu kelebihannya adalah adanya pembahasan mengenai beberapa permasalahan fikih kontemporer.

3. Syarah as-Saffārīnī

Kitab Dalīl ath-Thālib juga pernah disyarah oleh as-Saffārīnī, meskipun syarah tersebut tidak diselesaikan dan berhenti sampai pembahasan Kitāb al-Ḥudūd.

4. Manār as-Sabīl fī Syarḥ ad-Dalīl

Salah satu syarah Dalīl ath-Thālib yang sangat terkenal adalah:

منار السبيل في شرح الدليل

karya Ibrahim bin Muhammad bin Dhuwaiyan.

Kitab Manār as-Sabīl memiliki keistimewaan karena penulis banyak mencantumkan dalil-dalil dari Al-Qur'an, hadis, dan atsar dalam menjelaskan permasalahan fikih.

Manār as-Sabīl dan Irwā’ al-Ghalīl

Karena banyaknya hadis dan atsar yang terdapat dalam Manār as-Sabīl, kitab ini kemudian mendapatkan perhatian khusus dari Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Beliau melakukan penelitian dan takhrij terhadap hadis-hadis yang terdapat di dalamnya melalui karya:

إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل

atau:

Irwā’ al-Ghalīl fī Takhrīj Aḥādīth Manār as-Sabīl.

Karya ini menjadi salah satu rujukan penting bagi mereka yang ingin mengetahui sumber dan kualitas hadis yang digunakan dalam Manār as-Sabīl.

Dalam pembahasannya, Manār as-Sabīl juga sering menampilkan sejumlah pilihan pendapat yang dinisbatkan kepada Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah.

Syifā’ al-‘Alīl Syarḥ Manār as-Sabīl

Kitab Manār as-Sabīl juga mendapatkan syarah dari Syekh Abdullah bin Jibrin.

Syarah tersebut dikenal dengan judul:

شفاء العليل شرح منار السبيل

atau Syifā’ al-‘Alīl Syarḥ Manār as-Sabīl.

Karya tersebut memberikan penjelasan lebih luas terhadap pembahasan-pembahasan yang terdapat dalam Manār as-Sabīl.

Pentingnya Mempelajari Matan Fikih

Mempelajari matan fikih seperti Dalīl ath-Thālib memberikan banyak manfaat bagi seorang penuntut ilmu.

Di antaranya:

  1. Membantu memahami struktur pembahasan fikih.

  2. Memudahkan dalam menghafal masalah-masalah fikih.

  3. Mengenalkan pendapat yang menjadi pegangan dalam suatu mazhab.

  4. Melatih kemampuan membaca kitab-kitab fikih yang lebih luas.

  5. Menjadi dasar sebelum mempelajari kitab-kitab syarah dan perbandingan pendapat ulama.

Namun, mempelajari matan fikih sebaiknya dilakukan dengan bimbingan guru atau ustaz yang memiliki kompetensi, terutama ketika memasuki masalah-masalah yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam.

Penutup

Kitab Dalīl ath-Thālib li Nail al-Maṭālib merupakan salah satu matan penting dalam khazanah fikih Hanbali. Karya Mar‘ī bin Yūsuf al-Karmī ini memiliki kelebihan dalam hal sistematika pembahasan, keringkasan, serta kemudahan ungkapan.

Selain mengenal isi kitab, seorang penuntut ilmu juga perlu mengenal karya-karya syarah seperti Manār as-Sabīl, serta karya takhrij Irwā’ al-Ghalīl, agar pembelajaran fikih dapat dilakukan dengan lebih luas dan terarah.

Semoga pembahasan ini menjadi pengantar yang bermanfaat sebelum memasuki pembahasan Kitāb ath-Thahārah (Bab Bersuci) dan pembahasan fikih lainnya dalam Dalīl ath-Thālib.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Pertemuan Pertama

Tulis materi Pertemuan Pertama di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kedua

Tulis materi Pertemuan Kedua di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Ketiga

Tulis materi Pertemuan Ketiga di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Keempat

Tulis materi Pertemuan Keempat di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kelima

Tulis materi Pertemuan Kelima di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Keenam

Tulis materi Pertemuan Keenam di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Ketujuh

Tulis materi Pertemuan Ketujuh di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kedelapan

Tulis materi Pertemuan Kedelapan di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kesembilan

Tulis materi Pertemuan Kesembilan di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kesepuluh

Tulis materi Pertemuan Kesepuluh di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kesebelas

Tulis materi Pertemuan Kesebelas di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kedua Belas

Tulis materi Pertemuan Kedua Belas di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Ketiga Belas

Tulis materi Pertemuan Ketiga Belas di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Keempat Belas

Tulis materi Pertemuan Keempat Belas di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kelima Belas

Tulis materi Pertemuan Kelima Belas di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Keenam Belas

Tulis materi Pertemuan Keenam Belas di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Ketujuh Belas

Tulis materi Pertemuan Ketujuh Belas di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kedelapan Belas

Tulis materi Pertemuan Kedelapan Belas di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

Pertemuan Kesembilan Belas

Tulis materi Pertemuan Kesembilan Belas di sini...

↑ Kembali ke Daftar Isi

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama