Namimah (Adu Domba) dalam Islam : Pengertian, Sebab, Dampak dan Cara Mengobatinya

GemaDakwah — Menyebar Ilmu, Menebar Kebaikan
Namimah atau adu domba merupakan salah satu penyakit lisan yang dapat merusak persaudaraan, menimbulkan permusuhan, dan memecah persatuan. Islam memberikan peringatan keras terhadap perbuatan ini.

1. Pengertian Namimah

A. Pengertian Secara Bahasa

Namimah berasal dari kata النميمة. Secara bahasa, namimah berkaitan dengan tindakan menyampaikan atau memindahkan perkataan dari seseorang kepada orang lain.

B. Pengertian Secara Istilah Syariat

نقل كلام الناس بعضهم إلى بعض على جهة الإفساد بينهم

Artinya:

“Menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.”

Namimah tidak terbatas pada ucapan secara langsung. Perbuatan tersebut dapat dilakukan melalui perkataan, tulisan, isyarat, maupun berbagai sarana komunikasi lainnya.

Contohnya, seseorang berkata kepada temannya bahwa orang lain telah mengatakan sesuatu yang buruk tentang dirinya, dengan tujuan membuat keduanya saling membenci atau bertengkar.

Catatan: Tidak setiap penyampaian berita otomatis disebut namimah. Unsur penting dalam namimah adalah adanya penyampaian yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan kerusakan, permusuhan, atau perselisihan.

2. Perbedaan Namimah dan Ghibah

Ghibah dan namimah sama-sama termasuk perbuatan tercela yang berkaitan dengan lisan, tetapi keduanya memiliki perbedaan.

Ghibah

Ghibah adalah membicarakan seseorang tentang sesuatu yang tidak disukainya apabila ia mendengarnya, meskipun apa yang dibicarakan tersebut benar.

Namimah

Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan atau menimbulkan perselisihan.

  • Ghibah: membicarakan keburukan seseorang di belakangnya.
  • Namimah: memindahkan perkataan dari satu pihak kepada pihak lain sehingga menimbulkan kerusakan hubungan.

3. Sikap Islam terhadap Namimah

Islam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap namimah karena perbuatan tersebut dapat merusak hubungan antarmanusia.

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya jalan untuk menyalahkan hanyalah terhadap orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa alasan yang benar. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”

(QS. Asy-Syura: 42)

Hadis tentang Ancaman bagi Pelaku Namimah

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang suka melakukan namimah.”

(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya dosa namimah. Seorang Muslim hendaknya berhati-hati ketika menerima maupun menyampaikan suatu berita.

4. Sebab-Sebab Namimah

1. Hasad dan Kecintaan terhadap Keburukan bagi Orang Lain

Salah satu penyebab namimah adalah hasad, yaitu tidak senang melihat orang lain mendapatkan kebaikan.

Orang yang memiliki sifat ini terkadang berusaha merusak hubungan orang lain agar mereka tidak hidup rukun.

2. Mencari Kedekatan dengan Orang yang Memiliki Kedudukan

Sebagian orang melakukan namimah untuk mencari perhatian atau kedudukan di hadapan orang yang berpengaruh.

Ia membawa berita tentang orang lain kepada seseorang yang memiliki kekuasaan atau kedudukan dengan harapan mendapatkan pujian atau keuntungan.

3. Melampiaskan Diri dengan Kebatilan

Di antara penyebab namimah adalah keinginan seseorang untuk melampiaskan diri melalui kebatilan.

4. Tidak Melakukan Kewajiban untuk Menasihati

Namimah juga dapat berkembang ketika masyarakat tidak berusaha menghentikan perilaku buruk dengan cara yang benar.

Nasihat harus dilakukan dengan cara yang bijaksana dan bertujuan memperbaiki, bukan mempermalukan.

5. Tidak Melakukan Tabayyun

Ketika seseorang menerima berita yang dapat menyebabkan permusuhan, ia harus berhati-hati dan memastikan kebenarannya sebelum menyampaikannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

(QS. Al-Hujurat: 6)

5. Dampak dan Bahaya Namimah

1. Mengeraskan Hati

Namimah termasuk perbuatan maksiat. Jika dilakukan terus-menerus, hati dapat menjadi keras dan semakin jauh dari ketaatan kepada Allah.

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
Artinya: “Maka celakalah mereka yang hatinya telah keras dari mengingat Allah.”

(QS. Az-Zumar: 22)

2. Menghilangkan Kasih Sayang dan Kepercayaan

Namimah dapat merusak rasa percaya antarmanusia. Persahabatan, hubungan keluarga, hubungan bertetangga, dan hubungan sosial dapat terganggu karena berita yang disampaikan secara tidak bertanggung jawab.

3. Menimbulkan Permusuhan

Namimah dapat mengubah hubungan yang sebelumnya baik menjadi penuh kecurigaan dan permusuhan.

4. Menyebabkan Kerugian dan Konflik

Berita yang disampaikan secara tidak bertanggung jawab dapat menjadi pemicu pertikaian dan konflik yang lebih besar.

5. Menyebabkan Kemurkaan Allah

Namimah merupakan perbuatan yang bertentangan dengan akhlak Islam karena dapat merusak persaudaraan dan hubungan sesama manusia.

6. Memecah Persatuan

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
Artinya: “Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.”

(QS. Al-Anfal: 46)

6. Cara Mengobati dan Menghindari Namimah

1. Segera Menghentikan Kebiasaan Namimah

Jika seseorang menyadari bahwa dirinya sering menyampaikan berita yang dapat merusak hubungan, ia harus segera menghentikannya dan bertaubat kepada Allah.

2. Menumbuhkan Ketakwaan dan Mengawasi Diri

Seorang Muslim harus menyadari bahwa Allah mengetahui setiap perkataan yang keluar dari lisannya.

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”

(QS. Qaf: 18)

3. Memilih Lingkungan yang Baik

Lingkungan sangat memengaruhi perilaku seseorang. Lingkungan yang gemar membicarakan keburukan orang lain dapat membuat seseorang terbiasa melakukan hal yang sama.

4. Meyakini bahwa Kemuliaan Diperoleh dengan Ketakwaan

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Jangan mencari kemuliaan dengan menjatuhkan orang lain atau menyebarkan keburukan mereka.

5. Mencegah Kerusakan dengan Cara yang Benar

Pihak yang memiliki kewenangan mempunyai tanggung jawab untuk mencegah berbagai bentuk kerusakan sosial apabila memang diperlukan dan dilakukan berdasarkan aturan serta kemaslahatan.

6. Memutus Akar Masalah

Jika kebiasaan buruk terus berkembang, diperlukan langkah yang tepat untuk menghentikan kerusakan sesuai keadaan, aturan, dan kewenangan.

7. Evaluasi dan Jawaban

Soal 1 — Benar atau Salah

1. من أصلح بين الناس بالكذب فهو غمام

Jawaban: Benar.
Perkataan tersebut berkaitan dengan orang yang melakukan perbaikan hubungan manusia dengan perkataan yang tidak benar. Dalam kondisi tertentu terdapat keringanan untuk perkataan yang bertujuan mendamaikan manusia, bukan untuk merusak hubungan.

2. تنتهي النميمة بصاحبها إلى التعرض لسخط الله

Jawaban: Benar.
Namimah merupakan perbuatan tercela yang dilarang syariat dan terdapat ancaman keras bagi pelakunya.

3. مقاطعة النمام أولى وسائل العلاج

Jawaban: Salah.
Memutus hubungan bukan satu-satunya atau selalu menjadi cara pertama. Perbaikan dapat dimulai dengan menghentikan namimah, meningkatkan ketakwaan, memperbaiki lingkungan, memberikan nasihat, dan melakukan pencegahan dengan cara yang tepat.

Soal 2 — Sebutkan Beberapa Dampak Namimah!

Jawaban:
  1. Munculnya kebencian antarmanusia.
  2. Hilangnya rasa percaya.
  3. Rusaknya persaudaraan.
  4. Timbulnya permusuhan dan pertengkaran.
  5. Terpecahnya persatuan masyarakat.
  6. Dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
  7. Menimbulkan keresahan dalam kehidupan sosial.

Soal 3 — Apa Saja Sebab-Sebab Namimah?

Jawaban:
  1. Hasad dan tidak senang terhadap kebaikan orang lain.
  2. Kecintaan kepada keburukan bagi orang lain.
  3. Keinginan mendapatkan perhatian atau kedudukan.
  4. Melampiaskan kepentingan pribadi melalui cara yang batil.
  5. Tidak berusaha memperbaiki kemungkaran dengan cara yang benar.
  6. Membiarkan jalan menuju perselisihan terbuka.
  7. Tidak melakukan tabayyun terhadap berita yang diterima.

8. Inti Pelajaran

Namimah merupakan penyakit lisan yang sangat berbahaya. Ia bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi merupakan penyampaian perkataan dengan cara yang dapat merusak hubungan dan menimbulkan perselisihan.

Seorang Muslim hendaknya:

  • Menjaga lisannya.
  • Tidak tergesa-gesa menyampaikan berita.
  • Melakukan tabayyun.
  • Tidak mudah percaya kepada berita yang belum jelas.
  • Tidak membawa perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan.
  • Menjauhi hasad.
  • Memilih lingkungan pergaulan yang baik.
  • Memperbanyak ketakwaan.
  • Berusaha mendamaikan manusia, bukan memecah belah mereka.

9. Kesimpulan

Namimah adalah salah satu akhlak tercela yang memiliki dampak besar terhadap kehidupan pribadi maupun masyarakat. Islam memberikan peringatan keras terhadapnya karena namimah dapat menghancurkan kepercayaan, menimbulkan kebencian, memutus persaudaraan, dan bahkan menyebabkan konflik yang lebih besar.

Oleh karena itu, menjaga lisan merupakan bagian penting dari ketakwaan. Setiap berita yang diterima harus diperiksa sebelum disampaikan, terutama jika berita tersebut berpotensi merusak hubungan manusia.

Seorang Muslim hendaknya menjadikan lisannya sebagai sarana menyebarkan kebaikan, mendamaikan perselisihan, dan memperkuat ukhuwah, bukan sebagai sarana menyebarkan kebencian dan permusuhan.

Semoga Allah Ta'ala menjaga lisan kita dari ghibah, namimah, dusta, dan seluruh perkataan yang dapat merusak persaudaraan.

Sumber : في نور الإسلام — محمود أبو رية
Jilid: الأول — Jilid Pertamama

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama