Mujahadah Jiwa untuk Menghindari Mira' dan Jidal
Pengertian, Sebab, Dampak, Cara Mengatasi, dan Adab Berdiskusi dalam Islam
Islam mengajarkan seorang muslim untuk menjaga lisan, hati, dan sikap ketika menghadapi perbedaan pendapat. Salah satu hal yang perlu dihindari adalah mira' (المراء) dan jidal (الجدال) yang tercela.
📚 Daftar Isi
- Pengertian Mira' dan Jidal
- Kedudukan Mira' dan Jidal dalam Islam
- Perbedaan Jidal Terpuji dan Jidal Tercela
- Hadis tentang Meninggalkan Mira'
- Sebab-Sebab Terjadinya Mira' dan Jidal
- Dampak Buruk Mira' dan Jidal
- Cara Mengobati dan Mencegah Mira' dan Jidal
- Adab Memberikan Nasihat
- Menghormati Orang yang Berbeda Pendapat
- Cara Praktis Menghindari Perdebatan
- Mujahadah Jiwa dalam Kehidupan Sehari-hari
- Evaluasi Materi
- Evaluasi Diri
- Inti Pelajaran
- Kesimpulan
- Referensi
1. Pengertian Mira' dan Jidal
A. Pengertian Mira'
Secara bahasa, المِراء (al-mirā') berkaitan dengan perdebatan dan pertentangan dalam pembicaraan.
Dalam konteks akhlak, mira' adalah sikap memperdebatkan perkataan orang lain dengan tujuan menolak, membantah, atau mencari kesalahan, terutama ketika tujuan utamanya bukan mencari kebenaran.
Mira' dapat terjadi dalam masalah agama, ilmu, kehidupan sosial, maupun persoalan sehari-hari.
B. Pengertian Jidal
Secara bahasa, الجدال (al-jidāl) berarti perdebatan atau pertengkaran dalam pembicaraan.
وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya: "Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik."
Ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak setiap bentuk perdebatan dilarang. Perdebatan yang dilakukan dengan ilmu, tujuan yang benar, serta metode yang baik dapat menjadi sarana menyampaikan kebenaran.
Namun, jidal berubah menjadi tercela ketika seseorang menggunakan perdebatan untuk mempertahankan kebatilan, memenangkan dirinya sendiri, merendahkan lawan bicara, atau menolak kebenaran.
2. Kedudukan Mira' dan Jidal dalam Islam
Mira' dan jidal memiliki beberapa bentuk. Ada perdebatan yang berkaitan dengan lafaz, makna, maupun perdebatan yang dilakukan karena keinginan untuk memenangkan diri sendiri.
Perdebatan karena persoalan lafaz
Seseorang mempermasalahkan susunan kata, istilah, cara pengucapan, atau persoalan bahasa sehingga perdebatan menjadi panjang dan tidak menghasilkan manfaat.
Perdebatan karena persoalan makna
Seseorang memahami suatu perkataan dengan cara tertentu kemudian memaksakan pemahamannya dan tidak mau menerima penjelasan yang benar.
Perdebatan karena ingin memenangkan diri
Seseorang sebenarnya mengetahui bahwa lawan bicaranya memiliki alasan yang benar, tetapi ia tetap membantah karena tidak ingin kalah.
3. Perbedaan Jidal Terpuji dan Jidal Tercela
Jidal yang Terpuji
Jidal dapat menjadi terpuji apabila:
- Bertujuan mencari kebenaran.
- Didasarkan pada ilmu.
- Menggunakan dalil.
- Dilakukan dengan adab.
- Tidak merendahkan lawan bicara.
- Tidak dilakukan dengan kesombongan.
- Bersedia menerima kebenaran apabila ternyata pendapatnya salah.
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik."
Jidal yang Tercela
Jidal menjadi tercela apabila:
- Dilakukan tanpa ilmu.
- Bertujuan mencari kemenangan.
- Dilakukan karena kesombongan.
- Menolak kebenaran.
- Merendahkan orang lain.
- Menggunakan kata-kata kasar.
- Membuka aib orang lain.
- Menimbulkan permusuhan dan perpecahan.
مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
Artinya: "Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan untuk membantah. Bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar."
4. Hadis tentang Meninggalkan Mira'
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Artinya: "Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar."
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak harus memenangkan setiap perdebatan. Bahkan ketika seseorang berada di pihak yang benar, meninggalkan perdebatan yang tidak bermanfaat dapat menjadi bentuk kemuliaan akhlak.
5. Sebab-Sebab Terjadinya Mira' dan Jidal
1. Tidak Memperhatikan Adab dalam Memberikan Nasihat
Nasihat merupakan bagian dari amar ma'ruf nahi mungkar. Namun, nasihat harus diberikan dengan cara yang benar.
- Dilakukan dengan ikhlas.
- Memilih waktu yang tepat.
- Menggunakan bahasa yang baik.
- Tidak mempermalukan orang yang dinasihati.
- Bertujuan memperbaiki.
- Dilakukan dengan penuh kasih sayang.
2. Menolak Nasihat karena Kesombongan
Salah satu sebab terjadinya mira' adalah ketika seseorang tidak mau menerima nasihat. Ia merasa dirinya selalu benar dan menganggap orang lain tidak layak memberikan masukan kepadanya.
Padahal seorang muslim harus memiliki kerendahan hati untuk menerima kebenaran dari siapa pun.
3. Bersikeras Mempertahankan Pendapat
Seseorang dapat terjerumus dalam jidal ketika ia menganggap pendapatnya pasti benar dan tidak memberikan ruang untuk menerima kemungkinan bahwa dirinya salah.
Seorang muslim hendaknya membedakan antara mempertahankan kebenaran berdasarkan dalil dengan mempertahankan pendapat karena ego.
4. Kurangnya Ilmu
Perdebatan tanpa ilmu sangat berbahaya. Seseorang terkadang mendengar potongan ayat, hadis, pendapat ulama, atau informasi kemudian langsung berdebat tanpa memahami konteksnya.
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ
Artinya: "Di antara manusia ada yang berdebat tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang menerangi."
5. Kagum kepada Diri Sendiri, Sombong, dan Takabur
Kesombongan dapat membuat seseorang sulit menerima kebenaran. Ia tidak lagi bertanya, "Apa yang benar?", tetapi berubah menjadi, "Bagaimana caranya agar pendapat saya yang menang?"
إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَالِغِيهِ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka selain kesombongan yang tidak akan mereka capai."
6. Tidak Memiliki Program untuk Mengisi Waktu dan Potensi
Waktu dan kemampuan yang tidak digunakan untuk kegiatan bermanfaat dapat menjadi salah satu sebab seseorang banyak terlibat dalam perdebatan yang tidak menghasilkan manfaat.
Karena itu, seorang muslim perlu mengisi waktunya dengan belajar, membaca, beribadah, bekerja, membantu keluarga, berdakwah, melakukan kegiatan sosial, dan mengembangkan kemampuan yang bermanfaat.
6. Dampak Buruk Mira' dan Jidal
1. Menimbulkan Kemarahan
Perdebatan dapat meningkatkan emosi hingga seseorang kehilangan kendali terhadap perkataan dan sikapnya.
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya: "Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan."
2. Hilangnya Wibawa dan Jatuhnya Harga Diri
Orang yang gemar berdebat cenderung membuka banyak sisi kelemahan dirinya. Ketika seseorang terus-menerus membantah dan membuka berbagai persoalan, wibawanya dapat berkurang.
3. Hilangnya Keamanan dalam Beragama
Perdebatan dalam masalah agama tanpa ilmu dapat membuat seseorang masuk ke dalam keraguan. Mengikuti berbagai syubhat dan perdebatan tanpa dasar dapat mengganggu ketenangan dan keyakinan.
4. Menimbulkan Perpecahan
Mira' dapat mengubah persaudaraan menjadi permusuhan. Hati yang awalnya dekat dapat dipenuhi kebencian karena masing-masing ingin mempertahankan pendapat.
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
Artinya: "Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang."
7. Cara Mengobati dan Mencegah Mira' dan Jidal
1. Memperhatikan Adab Islam dalam Memberikan Nasihat
Nasihat harus dilakukan dengan ikhlas, lembut, penuh kasih sayang, memilih waktu yang tepat, menggunakan bahasa yang baik, tidak mempermalukan, dan tidak bertujuan mencela.
2. Menghormati Orang Lain dan Bersikap Rendah Hati
Perbedaan pemikiran tidak boleh menjadi alasan untuk menghina orang lain. Seorang muslim harus memiliki kerendahan hati dan bersedia menerima kebenaran.
3. Menjalani Kehidupan dengan Sikap Moderat
Hidup secara seimbang membantu seseorang menjaga kestabilan jiwa. Orang yang mampu mengendalikan emosi akan lebih mudah mengendalikan lisannya ketika menghadapi perbedaan pendapat.
4. Membimbing Orang yang Suka Berdebat
Apabila seseorang dikenal suka berdebat, hendaknya ia dibimbing dengan cara yang sesuai dengan kondisinya. Nasihat dan pembinaan perlu disampaikan dengan hikmah dan tidak selalu harus menggunakan kemarahan.
5. Mengisi Waktu dengan Kegiatan yang Bermanfaat
- Membaca Al-Qur'an.
- Mempelajari hadis.
- Membaca buku.
- Menuntut ilmu.
- Membantu orang tua.
- Bekerja dan berkarya.
- Melakukan kegiatan sosial.
- Berdakwah dengan ilmu.
8. Adab Memberikan Nasihat
A. Nasihat Sebaiknya Dilakukan Secara Tertutup
Pada asalnya, seseorang hendaknya tidak mempermalukan orang lain di hadapan banyak orang. Tujuan nasihat adalah memperbaiki, bukan mempermalukan.
B. Memilih Waktu yang Tepat
Nasihat hendaknya disampaikan pada waktu ketika orang yang dinasihati dapat menerimanya. Orang yang sedang marah atau sangat emosional mungkin sulit menerima nasihat.
C. Menggunakan Bahasa yang Lembut
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Artinya: "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut."
D. Nasihat Harus Berdasarkan Ilmu
Jangan memberikan nasihat hanya berdasarkan dugaan. Pastikan informasi, hukum, konteks, dan penjelasan yang disampaikan benar.
E. Tidak Bertujuan Membuka Aib
Seorang penasihat seharusnya berusaha menutup aib saudaranya, bukan mencari kesempatan untuk mengungkapkannya. Tujuan nasihat adalah perbaikan.
9. Menghormati Orang yang Berbeda Pendapat
Dalam menghadapi perbedaan pemikiran, seorang muslim hendaknya tetap menjaga rasa hormat, ketenangan, sikap objektif, kesantunan, dan kejujuran ilmiah.
- Tidak menghina.
- Tidak mencaci.
- Tidak menyebarkan aib.
- Tidak memutuskan persaudaraan tanpa alasan yang benar.
- Tidak menuduh tanpa bukti.
- Tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan.
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya: "Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik."
10. Cara Praktis Menghindari Perdebatan
- Periksa niat. Tanyakan kepada diri sendiri apakah ingin mencari kebenaran atau hanya ingin menang.
- Dengarkan. Jangan langsung menyela pembicaraan orang lain.
- Periksa dalil. Jangan membantah sesuatu yang belum dipahami.
- Akui jika salah. Mengakui kesalahan bukan kehinaan.
- Hentikan perdebatan jika tidak bermanfaat. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
11. Mujahadah Jiwa dalam Kehidupan Sehari-hari
Mujahadah an-nafs dalam masalah ini berarti melatih diri agar mampu mengendalikan lisan, emosi, dan keinginan untuk selalu menang dalam perdebatan.
- Tidak mudah marah.
- Tidak cepat membantah.
- Tidak merasa selalu benar.
- Mau menerima nasihat.
- Bersedia mengakui kesalahan.
- Tidak mencari-cari kesalahan orang lain.
- Menjaga lisan.
- Memilih diam ketika perdebatan tidak menghasilkan manfaat.
- Menggunakan waktu untuk kebaikan.
- Mencari ilmu sebelum berbicara.
12. Evaluasi Materi
1. Apa yang dimaksud dengan jidal madzmum dan jidal yang dibolehkan dalam Islam?
Jawaban: Jidal madzmum adalah perdebatan yang dilakukan dengan cara tercela, seperti tanpa ilmu, menolak kebenaran, mempertahankan kebatilan, karena kesombongan, atau bertujuan mengalahkan orang lain.
Adapun jidal yang dibolehkan adalah dialog atau perdebatan yang dilakukan berdasarkan ilmu, bertujuan mencari dan menjelaskan kebenaran, menggunakan dalil, serta dilakukan dengan cara yang baik.
2. Apa saja sebab terjadinya mira' dan jidal yang tercela?
Jawaban:
- Tidak memperhatikan adab dalam memberikan nasihat.
- Menolak nasihat.
- Bersikeras mempertahankan pendapat.
- Kurangnya ilmu.
- Kagum kepada diri sendiri.
- Kesombongan dan takabur.
- Tidak memiliki kegiatan yang bermanfaat.
3. Apa akibat mira' dan jidal terhadap seorang muslim?
Jawaban:
- Menimbulkan kemarahan.
- Merusak hubungan dengan orang lain.
- Menjatuhkan wibawa.
- Membuka aib.
- Menimbulkan kebencian.
- Dapat menimbulkan keraguan dalam masalah agama.
- Menyebabkan perpecahan.
- Menghabiskan waktu.
- Menjauhkan seseorang dari akhlak mulia.
4. Apakah Anda pernah terlibat dalam perdebatan dan meninggalkannya?
Contoh jawaban: Pernah. Ketika saya menyadari bahwa perdebatan tersebut tidak menghasilkan manfaat, saya berusaha menghentikannya. Setelah meninggalkan perdebatan, hati terasa lebih tenang karena tidak lagi terbawa emosi.
Jika saya terlibat dalam perdebatan yang tidak bermanfaat, biasanya muncul rasa menyesal karena waktu terbuang dan hubungan dengan orang lain dapat menjadi kurang baik. Karena itu, saya perlu melatih diri untuk lebih banyak mendengar, memeriksa dalil, dan tidak terburu-buru membantah.
13. Evaluasi Diri
Berilah penilaian terhadap diri sendiri dengan skala berikut:
- 4 = Selalu
- 3 = Sering
- 2 = Kadang-kadang
- 1 = Jarang
| No. | Pernyataan | 4 | 3 | 2 | 1 |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Saya menghormati orang lain ketika menyampaikan pendapat. | ☐ | ☐ | ☐ | ☐ |
| 2 | Saya berusaha agar perkataan sesuai dengan perbuatan. | ☐ | ☐ | ☐ | ☐ |
| 3 | Saya mengakui kesalahan dan menerima kebenaran. | ☐ | ☐ | ☐ | ☐ |
| 4 | Saya memperhatikan adab ketika memberikan nasihat. | ☐ | ☐ | ☐ | ☐ |
| 5 | Saya menghindari perdebatan dan berhati-hati dalam berhubungan dengan orang lain. | ☐ | ☐ | ☐ | ☐ |
14. Inti Pelajaran
- Tidak semua perdebatan adalah dosa.
- Tujuan pembicaraan sangat penting.
- Ilmu harus mendahului perkataan.
- Rendah hati merupakan obat kesombongan.
- Menjaga lisan adalah bagian dari menjaga hati.
- Diam terkadang lebih baik.
- Nasihat harus membawa perbaikan.
15. Kesimpulan
Mujahadah an-nafs untuk meninggalkan mira' dan jidal merupakan bagian penting dari pembinaan akhlak seorang muslim.
Mira' dan jidal yang tercela dapat muncul karena kesombongan, merasa diri paling benar, kurangnya ilmu, menolak nasihat, ingin memenangkan perdebatan, dan tidak menggunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat.
Dampaknya pun tidak ringan. Perdebatan yang tidak terkendali dapat menimbulkan kemarahan, merusak persaudaraan, menjatuhkan wibawa, membuka aib, menimbulkan kebencian, bahkan menyebabkan perpecahan.
Karena itu, seorang muslim hendaknya membiasakan diri untuk mencari kebenaran, bukan kemenangan; menerima nasihat, bukan menolaknya; menggunakan dalil, bukan hawa nafsu; dan menjaga persaudaraan, bukan mempertajam perselisihan.
وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik."
Semoga Allah Ta'ala memberikan kepada kita hati yang rendah hati, lisan yang terjaga, ilmu yang bermanfaat, dan kemampuan untuk menerima kebenaran dari siapa pun yang menyampaikannya.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
16. Referensi
- Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn — Abu Hamid Al-Ghazali.
- Minhāj al-Qāshidīn.
- Al-Mustakhlish fi Tarbiyah an-Nafs — Sa'id Hawwa.
- Mukhtashar Madārij as-Sālikīn.
- An-Nafs al-Basyariyyah Kamā Yuhadditsu 'Anhā Al-Qur'an — Khalil Muhammad Khalil.
- Daqā'iq al-Akhbār fi Raqā'iq al-Akhbār.
- Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn — Al-Mawardi.
- Muhāsabah an-Nafs — Dr. Husain Syaḥatah.
- Muhāsabah an-Nafs — Ibn Abi ad-Dunya.
- An-Nafs fi Al-Qur'an — Dr. Ahmad Umar.
- Hilm Shun'atik — Dr. Majdi al-Hilali.
- Al-Insān baina al-Hudā wa adh-Dhalāl.
- Fi Zilāl al-Qur'an — Sayyid Quthb.
📖 Baca Juga
Jilid: الأول — Jilid Pertama

Posting Komentar
Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com