GemaDakwah – Keikhlasan merupakan salah satu perkara terpenting dalam kehidupan seorang Muslim. Amal yang besar di hadapan manusia belum tentu bernilai di sisi Allah apabila tidak dibangun di atas niat yang benar.
Sebaliknya, amal yang tampak sederhana dapat menjadi sangat bernilai apabila dilakukan semata-mata karena Allah Ta'ala. Karena itu, seorang Muslim hendaknya senantiasa memperhatikan niat, memperbaruinya, dan menjaga hatinya dari berbagai tujuan yang dapat merusak keikhlasan.
Daftar Isi
- Pengertian dan Hakikat Keikhlasan
- Pentingnya Memperbarui Niat
- Tujuan Amal dan Peringatan Imam Al-Banna
- Keikhlasan dalam Amal Duniawi
- Keikhlasan dalam Medan Dakwah
- Kemuliaan Sejati adalah Ketaatan kepada Allah
- Peringatan terhadap Riya dan Pamer
- Peringatan terhadap Sikap Tertinggal
- Buah dan Keutamaan Niat serta Keikhlasan
- Kesimpulan
- Evaluasi
1. Pengertian dan Hakikat Keikhlasan
Keikhlasan berarti memurnikan tujuan amal hanya untuk Allah Ta'ala. Seorang Muslim melakukan ibadah, kebaikan, dakwah, maupun berbagai amal yang dibenarkan syariat dengan mengharapkan keridaan dan pahala dari Allah.
Keikhlasan bukan berarti seseorang tidak boleh merasa senang ketika mendapatkan kabar gembira berupa pujian manusia atas kebaikannya. Yang menjadi masalah adalah ketika pujian tersebut sejak awal menjadi tujuan amal.
Seseorang membutuhkan pembaruan niat secara terus-menerus. Jika ia melakukan suatu amalan murni karena Allah, kemudian Allah menjadikan orang-orang beriman memujinya karena kebaikan tersebut, lalu ia merasa gembira dengan karunia dan rahmat Allah serta menyambutnya dengan rasa syukur, maka hal itu tidak membahayakannya.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam.
2. Pentingnya Memperbarui Niat
Niat merupakan perkara yang sangat penting dalam setiap amal. Hati manusia dapat berubah-ubah sehingga seorang Muslim tidak boleh merasa aman dari penyakit hati. Ia harus senantiasa memeriksa tujuan amalnya dan bertanya kepada dirinya:
- Untuk siapa saya melakukan amal ini?
- Apakah saya mengharapkan keridaan Allah?
- Apakah saya mengharapkan pujian manusia?
- Apakah saya mengejar kedudukan atau keuntungan tertentu?
Dengan memperbarui niat, seseorang dapat menjaga amalnya agar tetap berada di jalan yang diridai Allah Ta'ala.
3. Tujuan Amal dan Peringatan Imam Al-Banna
Imam Al-Banna rahimahullah memperingatkan kita dari berbagai hal yang dapat mengeluarkan niat dari keikhlasan. Beliau menekankan agar tujuan amal semata-mata karena Allah, tanpa menjadikan keuntungan dunia sebagai tujuan utama.
Di antara perkara yang perlu diwaspadai adalah:
- Keuntungan materi (maghnam)
- Penampilan atau citra (mazhar)
- Kedudukan (jah)
- Gelar (laqab)
- Posisi di depan (taqaddum)
- Posisi di belakang (ta'akhur)
Semua perkara tersebut dapat menjadi ujian bagi keikhlasan apabila seseorang menjadikannya sebagai tujuan utama dalam beramal.
4. Keikhlasan dalam Amal Duniawi
Dr. Ali Abdul Halim menyatakan bahwa pada dasarnya amal hendaknya ditujukan semata-mata karena Allah Ta'ala, baik amal tersebut bersifat keagamaan maupun keduniawian.
Banyak orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memperoleh keuntungan materi. Hal tersebut pada dasarnya tidak mengapa. Namun, seorang Muslim hendaknya tetap menjaga keikhlasan dalam pekerjaannya dengan menunaikan pekerjaan secara baik (ihsan) dan tepat (itqan).
Dengan demikian, keuntungan materi yang diperoleh menjadi sesuatu yang halal, baik, dan penuh keberkahan.
Adapun amal yang berkaitan dengan akhirat hendaknya lebih diperhatikan niatnya. Seseorang melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah serta mengharapkan pahala dan keridaan-Nya.
Orang yang berjuang demi Islam harus memahami bahwa perjuangan membutuhkan pengorbanan. Tidak ada perjuangan yang benar-benar bernilai tanpa kesediaan untuk berkorban di jalan kebaikan.
5. Keikhlasan dalam Medan Dakwah
Keikhlasan menjadi semakin penting bagi orang yang bergerak dalam bidang dakwah. Seorang da'i menyampaikan ilmu dan mengajak manusia kepada Allah bukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan duniawi, tetapi karena mengharapkan pahala dan keridaan Allah Ta'ala.
Dalam sebagian bentuk dakwah, seorang da'i mungkin mendapatkan upah karena dakwah tersebut telah menjadi pekerjaan atau profesi yang digaji oleh pemerintah maupun lembaga tertentu. Kondisi seperti ini pada dasarnya tidak mengapa dan tidak otomatis menjadikan amal tersebut tercela.
Yang tercela adalah ketika keuntungan materi menjadi tujuan utama seseorang dalam melakukan dakwah, atau ia menjadikan dakwah sebagai sarana mengejar keuntungan semata.
Seorang da'i hendaknya mengajarkan kepada manusia apa yang telah Allah ajarkan kepadanya dengan mengharapkan pahala di sisi Allah.
Inilah salah satu pembeda antara da'i yang memiliki aqidah dan prinsip dengan orang yang menjadikan dakwah semata-mata sebagai jalan untuk mendapatkan keuntungan duniawi.
6. Kemuliaan Sejati adalah Ketaatan kepada Allah
Setiap orang yang bekerja dalam bidang dakwah hendaknya meyakini bahwa kemuliaan sejati adalah kemuliaan yang datang dari ketaatan kepada Allah ('izzut-tha'ah). Sebaliknya, kehinaan yang sebenarnya adalah kehinaan akibat maksiat (dzullul-ma'shiyah).
“Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahuinya.”QS. Al-Munafiqun: 8
Para rasul Allah juga tidak menjadikan upah manusia sebagai tujuan dakwah mereka. Allah Ta'ala mengabadikan perkataan para rasul:
“Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku hanyalah dari Tuhan semesta alam.”QS. Asy-Syu'ara: 109
Seorang da'i kepada Allah tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan. Ia tidak beramal untuk mendekatkan diri kepada seseorang, bukan karena takut kepada manusia, dan bukan pula karena tamak terhadap apa yang ada di tangan mereka.
7. Peringatan terhadap Riya dan Pamer
Riya merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya. Riya terjadi ketika seseorang melakukan amal dengan tujuan agar dilihat, dipuji, atau dikagumi manusia.
Karena itu, seseorang yang bergerak dalam amal Islam hendaknya berhati-hati agar amalnya tidak berubah dari mencari keridaan Allah menjadi mencari perhatian manusia.
Tidak boleh bagi seseorang melakukan amal agar ia dikagumi, dipuji, mendapatkan kedudukan, atau memperoleh posisi tertentu di hadapan manusia.
Seorang Muslim hendaknya selalu bertanya kepada dirinya tentang tujuan amal yang sedang dilakukan. Apabila ditemukan dorongan untuk mendapatkan pujian manusia, maka ia harus segera memperbaiki niatnya.
8. Peringatan terhadap Sikap Tertinggal
Sikap tertinggal merupakan kebalikan dari kemajuan. Dalam medan amal Islam, seseorang tidak seharusnya sengaja mengurangi kesungguhan agar tertinggal dari posisinya hanya untuk menghindari beban, tanggung jawab, atau ujian.
Allah Ta'ala berfirman:
“...Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan...”QS. Al-Baqarah: 148
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan umat agar bersegera dalam melakukan amal saleh sebelum datang berbagai fitnah yang dapat menghalangi seseorang dari ketaatan.
Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya senantiasa berusaha berada di barisan kebaikan dengan niat yang benar, bukan karena ingin dipuji ataupun memperoleh kedudukan.
9. Buah dan Keutamaan Niat serta Keikhlasan
Al-Qur'an memuji orang-orang yang ikhlas dan mengharapkan wajah Allah semata. Di antaranya adalah orang-orang yang berbuat kebajikan (al-abrar) dalam QS. Al-Insan ayat 5–10, orang-orang yang berinfak karena mencari keridaan Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 265, orang-orang yang sabar bersama Rasulullah ﷺ dalam QS. Al-Kahfi ayat 28, serta ulul albab dalam QS. Ar-Ra'd ayat 22.
Di antara manfaat dan buah niat serta keikhlasan adalah sebagai berikut:
1. Meraih Keridaan Allah dan Diterimanya Amal
Allah Ta'ala berfirman:
“Maka barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”QS. Al-Kahfi: 110
2. Keselamatan dari Musibah dan Kesulitan
Keikhlasan dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Di antara contohnya adalah kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika menghadapi api dan kisah tiga orang yang terkurung di dalam gua, kemudian Allah memberikan jalan keluar berkat amal saleh yang mereka lakukan dengan ikhlas.
3. Keteguhan dan Ketenangan Jiwa
Keikhlasan memberikan keteguhan kepada hati. Hal tersebut dapat dilihat dalam kisah Ashabul Kahfi sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 14.
4. Kecintaan Penduduk Langit dan Bumi
Di antara buah keikhlasan adalah kecintaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, maka kecintaan terhadapnya akan diletakkan bagi penduduk langit.
5. Meraih Hikmah dan Bashirah
Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Keikhlasan dan ketakwaan juga menjadi sebab seorang hamba memperoleh kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
6. Memperoleh Manfaat dari Amal
Keikhlasan dapat menjadi sebab sebuah amal memberikan manfaat yang luas. Di antara contoh yang disebutkan adalah kisah sedekah yang diberikan kepada seseorang yang ternyata membutuhkan, sehingga sedekah tersebut menjadi sebab perubahan keadaan orang yang menerimanya.
7. Mengalirnya Pahala
Niat yang ikhlas memiliki kedudukan yang besar. Bahkan ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan kebaikan tetapi terhalang oleh suatu keadaan, Allah mengetahui niat tersebut dan memberikan balasan sesuai dengan keikhlasannya.
8. Menyatukan Barisan
Hati yang bersih dan ikhlas merupakan salah satu sebab persatuan. Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 63 tentang penyatuan hati orang-orang beriman.
9. Menanggung Amanah dan Mengalahkan Hawa Nafsu
Orang yang ikhlas lebih mampu memikul amanah dan mengutamakan kepentingan agama di atas kepentingan pribadi. Hal ini tercermin dalam kisah Amir bin Qais dalam penaklukan Mada'in.
10. Menerima Nasihat dengan Lapang Dada
Keikhlasan membuat seseorang tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai ukuran utama. Karena itu, ia lebih mudah menerima nasihat dan koreksi, sebagaimana teladan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma dalam berbagai persoalan umat.
11. Allah Menutupi Aib
Barangsiapa berusaha memperbaiki hati dan ikhlas karena Allah, maka Allah akan menjaga urusannya dan memberikan kebaikan kepadanya.
12. Perkara Adat Menjadi Pahala
Perkara sehari-hari yang pada asalnya merupakan kebiasaan dapat berubah menjadi ibadah apabila diniatkan untuk mencari keridaan Allah. Nafkah kepada keluarga, bekerja, makan, dan berbagai aktivitas lainnya dapat bernilai pahala apabila dilakukan dengan niat yang benar.
13. Keselamatan dan Keridaan Allah
Allah tidak menzalimi amal seorang hamba. Bahkan amal yang sedikit, apabila dilakukan dengan benar dan ikhlas, memiliki nilai di sisi Allah.
14. Kontinuitas dalam Ketaatan dan Pemaafan
Keikhlasan juga membantu seseorang untuk terus melakukan kebaikan meskipun menghadapi berbagai ujian. Salah satu teladan yang dapat diambil adalah sikap Abu Bakar radhiyallahu 'anhu terhadap Mistah dalam peristiwa Ifk sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nur ayat 22.
Kabar Gembira bagi Seorang Mukmin
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang seseorang yang melakukan kebaikan kemudian dipuji oleh manusia. Beliau ﷺ menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.
Hadis ini menunjukkan bahwa pujian manusia yang datang setelah amal dilakukan dengan ikhlas tidak otomatis merusak amal. Yang menjadi perhatian adalah tujuan hati ketika amal tersebut dikerjakan.
Kesimpulan
Keikhlasan merupakan ruh dari setiap amal. Seorang Muslim hendaknya tidak hanya memperhatikan bentuk amal, tetapi juga memperhatikan tujuan dan niat di balik amal tersebut.
Amal yang dilakukan karena Allah akan memberikan ketenangan dan keberkahan. Sebaliknya, amal yang dibangun di atas riya, mencari pujian, kedudukan, gelar, keuntungan materi, atau kepentingan pribadi dapat kehilangan nilai keikhlasannya.
Terlebih bagi seorang da'i, keikhlasan merupakan bekal utama dalam menjalankan tugas dakwah. Seorang da'i hendaknya mengajarkan apa yang telah Allah ajarkan kepadanya dengan mengharapkan pahala dari Allah, bukan menjadikan dakwah sebagai sarana mengejar pujian dan keuntungan dunia.
Karena hati manusia mudah berubah, maka niat harus senantiasa diperbarui. Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam perkataan, perbuatan, ibadah, pekerjaan, dan dakwah.
Evaluasi (At-Taqwim)
- Sebutkan beberapa ayat Al-Qur'an Al-Karim yang memerintahkan keikhlasan kepada Allah Ta'ala!
- Jelaskan unsur-unsur terwujudnya keikhlasan dan sikap syariat terhadapnya!
- Jelaskan syarat-syarat syar'i untuk diterimanya amal di sisi Allah!
- Imam Al-Banna menyebutkan dalam rukun keikhlasan tentang tujuan mengharap wajah Allah, keridaan-Nya, dan pahala-Nya yang baik. Jelaskan keabsahan syar'i hal tersebut!
- Jelaskan bahaya sifat riya' bagi seorang Muslim!
- Jelaskan hukum amal yang tercampur dan hakikat perolehan pahalanya!
- Mengapa Imam Al-Banna memperingatkan dari kecenderungan terhadap:
- Keuntungan materi (maghnam)
- Penampilan (mazhar)
- Kedudukan (jah)
- Gelar (laqab)
- Posisi di depan (taqaddum)
- Posisi di belakang (ta'akhur)
- Jelaskan keutamaan keikhlasan dalam Al-Qur'an Al-Karim dan Sunnah!
- Jelaskan buah dari keikhlasan dan niat yang tulus dalam kehidupan para da'i kepada Allah!
Pesan: Jangan hanya memperbaiki amal yang terlihat oleh manusia, tetapi perbaikilah pula niat yang tersembunyi di dalam hati. Sebab Allah melihat hati dan amal seorang hamba.

Posting Komentar
Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com