Menjaga Kehormatan Sesama dan Menjauhi Kebiasaan Menelusuri Aib

🖨️ Cetak / Simpan PDF

Khutbah Jumat — Menjaga Lisan, Hati, dan Kehormatan Sesama
GemaDakwah
Menyebar Ilmu, Menebar Kebaikan

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah penyakit sosial yang sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar, yaitu kebiasaan mencari-cari aib dan kekurangan orang lain.

Bahaya Menelusuri Aib

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setiap manusia memiliki kekurangan. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari kesalahan. Namun, Allah mengajarkan kepada kita agar tidak sibuk mencari kesalahan dan kekurangan saudara kita.

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

"Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain."

QS. Al-Hujurat: 12

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat penting. Seorang Muslim bukan hanya diperintahkan menjaga lisannya, tetapi juga diperintahkan menjaga sikapnya agar tidak mencari-cari sesuatu yang tersembunyi dari kehidupan orang lain.

Menelusuri aib dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada orang yang senang bertanya tentang urusan pribadi orang lain, bukan karena kepentingan yang baik, tetapi karena ingin mengetahui rahasianya.

Ada yang senang menguping pembicaraan. Ada yang memperhatikan kehidupan orang lain secara berlebihan. Ada yang mencari kelemahan seseorang untuk dijadikan bahan pembicaraan.

Menelusuri Aib di Era Digital

Pada zaman sekarang, kebiasaan tersebut dapat dilakukan melalui media sosial dan teknologi digital.

Seseorang dapat dengan mudah mencari informasi tentang orang lain, membaca percakapan yang bukan haknya, menyebarkan informasi pribadi, atau mengambil kesalahan seseorang kemudian menyebarkannya kepada banyak orang.

Renungan: Kemudahan memperoleh informasi tidak berarti kita memiliki hak untuk mengetahui semua kehidupan orang lain.

Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana kebaikan justru menjadi alat untuk membuka rahasia, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan aib.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan agar kaum Muslimin tidak menggunjing dan tidak mencari-cari aib sesama Muslim.

Kehormatan seorang Muslim merupakan sesuatu yang harus dijaga.

Jangan sampai kita mengetahui kekurangan seseorang kemudian menjadikannya bahan hiburan. Jangan sampai kita mengetahui rahasia seseorang kemudian menjadikannya alat untuk menekan.

Jangan sampai kita melihat kesalahan seseorang lalu merasa diri kita lebih baik darinya.

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

"Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat."

HR. Muslim

Ketika kita melihat kesalahan saudara kita, jangan langsung menyebarkannya. Jika memungkinkan, nasihati secara pribadi. Jika ia melakukan kesalahan, bantu ia memperbaikinya.

Jika ia jatuh, bantu ia bangkit. Jika ia memiliki kekurangan, jangan menjadikannya bahan untuk merendahkan.

Mengisi Waktu dengan Kebaikan

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Salah satu sebab manusia mudah terjerumus dalam aktivitas yang tidak bermanfaat adalah kekosongan waktu.

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang."

HR. Bukhari

Waktu merupakan amanah. Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat, bukan dengan mencari-cari kesalahan manusia.

Jalan Keluar dari Penyakit Menelusuri Aib

1. Memperkuat Muraqabah kepada Allah

Langkah pertama adalah menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi manusia.

Seseorang yang benar-benar memiliki muraqabah akan menyadari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang disembunyikan maupun yang ditampakkan.

Kesadaran ini akan membuat seseorang berhati-hati. Ia tidak akan mudah mencari rahasia orang lain karena menyadari bahwa dirinya sendiri berada dalam pengawasan Allah.

2. Mengingat Hari Hisab

Manusia harus selalu mengingat bahwa seluruh makhluk akan kembali kepada Allah. Setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan.

Orang yang menyadari adanya hisab akan lebih berhati-hati dalam memperlakukan orang lain.

3. Keluarga Harus Meninggalkan Kebiasaan Buruk

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter seseorang. Jika dalam keluarga terdapat kebiasaan membicarakan aib orang lain, kebiasaan tersebut dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, keluarga perlu melakukan perubahan dengan mengakui kesalahan, bertaubat, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

4. Memilih Teman yang Baik

Lingkungan pergaulan mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku seseorang.

Seseorang yang ingin meninggalkan kebiasaan buruk perlu memilih teman yang bertakwa dan senantiasa mengingatkan kepada kebaikan.

5. Mengobati Penyakit Hati

Penelusuran aib sering kali berawal dari penyakit hati seperti iri, dengki, kebencian, dendam, dan keinginan merendahkan orang lain.

Karena itu, persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengubah perilaku lahiriah. Hati juga harus dibersihkan.

6. Menjauh dari Tempat yang Menimbulkan Kecurigaan

Seseorang yang ingin menjaga kehormatan dirinya hendaknya menjauh dari keadaan yang dapat menimbulkan prasangka buruk.

7. Waspada terhadap Orang yang Mengikuti Hawa Nafsu

Seorang Muslim harus memiliki kewaspadaan yang sehat. Waspada bukan berarti mencurigai semua orang, tetapi menjaga diri dan kehormatan serta tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyalahgunakan informasi pribadi.

8. Mengisi Waktu dengan Kegiatan yang Bermanfaat

Waktu manusia dapat menjadi sarana pembangunan atau kehancuran. Jika waktu diisi dengan ilmu, ibadah, pekerjaan halal, keluarga, pelayanan sosial, dan amal saleh, seseorang akan memiliki sedikit ruang untuk melakukan aktivitas yang tidak berguna.

9. Masyarakat Harus Menghadapi Penelusuran Aib

Islam menjadikan masyarakat sebagai bagian dari sistem penjagaan moral.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

"Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar."

QS. At-Taubah: 71

Masyarakat dapat berperan dengan tidak memberikan ruang bagi kebiasaan membuka rahasia, tidak menyebarkan informasi pribadi, dan memberikan nasihat kepada orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Peran Masyarakat

Masyarakat yang sehat membutuhkan rasa saling percaya. Karena itu, setiap orang memiliki tanggung jawab menjaga kehormatan sesamanya.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman."

HR. Muslim

Peran Pemimpin

Pemimpin mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga masyarakat.

Apabila terdapat perilaku yang merusak kehormatan dan ketenteraman masyarakat, pemimpin perlu melakukan langkah pencegahan sesuai kewenangan dan hukum yang berlaku.

Kepemimpinan bukan hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga merupakan amanah untuk menjaga kemaslahatan masyarakat.

Mengingat Akibat Menelusuri Aib

Seseorang yang ingin mencegah dirinya dari penyakit ini perlu bertanya kepada dirinya sendiri:

  • Apakah saya ingin kehilangan kehormatan?
  • Apakah saya ingin kehilangan kepercayaan manusia?
  • Apakah saya ingin terjerumus ke dalam dosa yang lebih banyak?
  • Apakah saya ingin menanamkan kebencian dalam hati orang lain?
  • Apakah saya ingin hubungan persaudaraan menjadi rusak?
  • Apakah saya ingin kehilangan pertolongan Allah?

Jika direnungkan dengan baik, tentu tidak ada orang berakal yang menginginkan semua akibat tersebut.

Karena itu, sebelum mencari aib orang lain, seseorang hendaknya mengingat bahwa dirinya sendiri juga memiliki kekurangan.

Renungan:
Jangan mencari-cari aib orang lain ketika kita sendiri berharap agar Allah menutup aib kita.

Marilah kita membangun budaya saling menjaga, saling menasihati, dan saling menghormati.

Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang mengetahui seluruh rahasia anggotanya, melainkan masyarakat yang mampu menjaga kehormatan sesamanya.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.

Mari kita menjaga lisan dan hati. Jangan sampai hati kita dipenuhi iri, dengki, kebencian, dan keinginan mengetahui keburukan orang lain.

Mari kita belajar menutup aib. Jika melihat kesalahan saudara kita, berikan nasihat dengan cara yang baik. Jika seseorang membutuhkan pertolongan, bantulah.

Jika seseorang memiliki kekurangan, jangan hina. Dan jika kita mengetahui sebuah rahasia, jagalah amanah tersebut.

Doa

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَلِوَالِدِينَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِأَسَاتِذَتِنَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنْ تَتَبُّعِ عَوْرَاتِ النَّاسِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَخْلَاقَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Catatan Kaki

[1] Hadis tentang dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang, diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq.

[2] Hadis tentang pengaruh dosa terhadap hati dan terhapusnya noda dengan berhenti dari dosa, memohon ampun, dan bertaubat, diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a.

[3] Al-Qur'an, QS. At-Taubah [9]: 71.

[4] Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis tentang kewajiban mengubah kemungkaran.

Referensi

  • Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari.
  • Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim.
  • Al-Tirmidzi, Muhammad ibn Isa. Sunan al-Tirmidzi.
  • Al-Mu'jam al-Wasith.
  • Ahmad Zakariya al-Daghmi, Al-Tajassus wa Ahkamuhu fi al-Syari'ah al-Islamiyyah.
GemaDakwah
Menyebar Ilmu, Menebar Kebaikan

Kajian Islam • Fikih • Akidah • Tafsir Al-Qur'an • Hadis

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

أحدث أقدم