Hadis hasan merupakan salah satu kategori hadis yang diterima dalam ilmu musthalah hadis. Kedudukannya berada di bawah hadis sahih, tetapi pada prinsipnya hadis hasan dapat dijadikan hujah dan diamalkan sesuai dengan ketentuan ilmu hadis.
1. Pengertian Hadis Hasan
Hadis hasan adalah hadis yang memenuhi persyaratan penerimaan, tetapi tingkat ketelitian perawinya tidak setinggi perawi hadis sahih. Hadis tersebut tetap harus terbebas dari kejanggalan (syudzudz) dan cacat tersembunyi ('illah) yang merusak kualitasnya.
Hadis hasan memiliki persyaratan yang sama dengan hadis sahih dalam hal kesinambungan sanad, keadilan perawi, serta tidak adanya kejanggalan dan cacat tersembunyi. Perbedaan utamanya terletak pada tingkat ketelitian dan kekuatan hafalan perawi.
Dalam pembahasan ilmu hadis, hadis hasan dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu hadis hasan li-dzatihi dan hadis hasan li-ghairihi.
2. Pembagian Hadis Hasan
A. Hadis Hasan Li-Dzatihi (حسن لذاته)
Hadis hasan li-dzatihi adalah hadis yang sanadnya bersambung dan diriwayatkan oleh para perawi yang adil, tetapi tingkat ketelitian salah seorang atau beberapa perawinya berada di bawah tingkat ketelitian perawi hadis sahih. Hadis tersebut tidak mengandung kejanggalan dan cacat tersembunyi yang merusak penerimaannya.
Hadis ini disebut hasan li-dzatihi karena kualitas hasannya berasal dari karakteristik hadis itu sendiri, bukan semata-mata karena faktor eksternal yang menguatkannya.
Hadis hasan li-dzatihi dapat meningkat menjadi sahih li-ghairihi apabila didukung oleh jalur periwayatan lain yang dapat memperkuatnya. Penguatan tersebut dapat menutupi kelemahan ringan pada tingkat ketelitian perawi sehingga riwayat mencapai derajat yang lebih tinggi.
Contoh yang dibahas dalam literatur ilmu hadis adalah riwayat Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ
Artinya: “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak melaksanakan salat.”
Ibnu ash-Shalah menjelaskan bahwa Muhammad bin Amr bin Alqamah dikenal sebagai perawi yang jujur dan memiliki sifat amanah. Namun, tingkat ketelitiannya belum mencapai derajat para perawi yang paling kuat hafalan dan ketelitiannya. Riwayatnya dapat memperoleh penguatan melalui jalur lain.
Catatan: Penilaian terhadap contoh hadis ini perlu mempertimbangkan jalur sanad dan metode penilaian yang digunakan oleh ahli hadis. Istilah hasan dan sahih dapat berbeda menurut penilaian ulama terhadap riwayat tertentu.
B. Hadis Hasan Li-Ghairihi (حسن لغيره)
Hadis hasan li-ghairihi adalah hadis yang pada asalnya memiliki kelemahan ringan, kemudian memperoleh penguat melalui jalur periwayatan lain sehingga dapat diterima.
Kelemahan tersebut tidak boleh terlalu berat. Apabila kelemahannya sangat berat, misalnya karena perawi tertuduh berdusta, penguatan melalui jalur lain tidak otomatis menjadikan hadis tersebut hasan.
Perbedaan hadis hasan li-dzatihi dan hasan li-ghairihi terletak pada sumber kualitasnya. Hadis hasan li-dzatihi memenuhi persyaratan hasan pada dirinya sendiri, sedangkan hadis hasan li-ghairihi mencapai derajat hasan karena adanya faktor penguat dari luar.
3. Hukum Hadis Hasan
Mayoritas ulama hadis dan ahli fikih berpendapat bahwa hadis hasan dapat dijadikan hujah dan diamalkan, sebagaimana hadis sahih, meskipun tingkat kekuatannya berada di bawah hadis sahih.
Hadis hasan li-dzatihi diterima karena memenuhi persyaratan hadis hasan. Adapun hadis hasan li-ghairihi diterima karena adanya jalur-jalur periwayatan lain yang memperkuatnya.
Dengan demikian, hadis hasan termasuk hadis maqbul, yaitu hadis yang dapat diterima. Penggunaannya dalam penetapan hukum dan pengamalan agama tetap harus memperhatikan kualitas riwayat serta penjelasan para ahli hadis.
4. Tingkatan Hadis Hasan
Tingkatan hadis hasan berbeda-beda sebagaimana tingkatan hadis sahih. Imam adz-Dzahabi menjelaskan adanya perbedaan tingkat kekuatan riwayat yang dinilai hasan.
Di antara riwayat yang dibahas dalam literatur adalah riwayat Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya; riwayat Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya; serta riwayat Ibnu Ishaq dari jalur yang disebutkan dalam pembahasan tersebut.
Penilaian terhadap riwayat-riwayat tersebut dapat berbeda di antara para ulama, bergantung pada jalur sanad, keadaan perawi, dan metode penilaian yang digunakan.
Setelah tingkatan tersebut, terdapat hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, tetapi dinilai sahih oleh ulama lain. Perbedaan ini dapat muncul karena perbedaan penilaian terhadap para perawi, tingkat ketelitian mereka, atau kekuatan jalur periwayatan.
5. Sumber untuk Mengetahui Hadis Hasan
Imam as-Suyuthi menjelaskan bahwa kitab karya Imam at-Tirmidzi merupakan salah satu rujukan penting untuk mengetahui hadis hasan. Kitab tersebut dikenal luas karena memuat penilaian terhadap berbagai hadis.
Selain itu, hadis dapat ditelusuri melalui kitab-kitab Sunan yang disusun oleh para ulama hadis, seperti:
- Sunan Abu Dawud.
- Sunan an-Nasa'i.
- Sunan Ibnu Majah.
- Jami' at-Tirmidzi.
- Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.
Kitab-kitab tersebut dapat digunakan untuk menelusuri hadis dan mempelajari penilaian ulama terhadap kualitas riwayatnya. Namun, setiap hadis tetap perlu diperiksa berdasarkan sanad, matan, dan penilaian para ahli hadis.
6. Makna Ungkapan Imam at-Tirmidzi: Hasan Sahih
Imam at-Tirmidzi sering menggunakan ungkapan berikut:
حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Artinya: “Hadis hasan sahih.”
Sebagian ulama mempertanyakan bagaimana sebuah hadis dapat disebut hasan sekaligus sahih, padahal hadis sahih memiliki tingkat ketelitian perawi yang lebih tinggi daripada hadis hasan.
Ungkapan tersebut dapat dipahami melalui beberapa kemungkinan.
- Hadis tersebut memiliki dua sanad: satu sanad dinilai sahih dan sanad lainnya dinilai hasan.
- Hadis tersebut diriwayatkan melalui satu sanad, tetapi para ulama berbeda pendapat mengenai penilaiannya. Sebagian menilainya sahih, sedangkan sebagian lainnya menilainya hasan.
- Ungkapan tersebut menunjukkan perbedaan penilaian ulama terhadap kekuatan riwayat, baik dari segi sanad maupun kualitas para perawinya.
Dengan demikian, penggunaan istilah hasan sahih oleh Imam at-Tirmidzi tidak harus dipahami sebagai pertentangan antara dua kategori yang berbeda. Maknanya perlu ditentukan berdasarkan konteks hadis dan jalur periwayatannya.
7. Apakah Kesahihan Sanad Menjamin Kesahihan Matan?
Apabila suatu hadis disebut memiliki sanad sahih atau hasan, hal tersebut tidak secara otomatis berarti bahwa matannya terbebas dari seluruh kemungkinan masalah.
Sanad dapat dinilai sahih karena para perawinya terpercaya dan rangkaian periwayatannya bersambung. Akan tetapi, matannya tetap perlu diperiksa untuk memastikan tidak mengandung kejanggalan atau cacat yang memengaruhi penerimaan hadis.
Demikian pula, sanad yang hasan tidak serta-merta menjamin bahwa seluruh isi matannya memenuhi persyaratan hadis hasan.
Oleh karena itu, penilaian hadis perlu memperhatikan dua unsur utama:
- Sanad: rangkaian para perawi yang menyampaikan hadis.
- Matan: isi atau teks hadis yang diriwayatkan.
Keduanya harus diteliti secara cermat agar penilaian terhadap suatu hadis dilakukan secara tepat.
8. Penjelasan tentang Sanad dan Matan
Apabila seorang ulama mengatakan, “Hadis ini sahih atau hasan,” penilaian tersebut didasarkan pada penelitian terhadap riwayat, keadaan para perawi, dan jalur periwayatannya.
Seorang ahli hadis yang memiliki pengetahuan luas mengenai para perawi dan jalur sanad dapat memberikan penilaian berdasarkan hasil penelitiannya. Akan tetapi, penilaian tersebut tetap berkaitan dengan persyaratan yang harus dipenuhi oleh hadis.
Apabila seorang ulama menyatakan bahwa suatu hadis sahih atau hasan tanpa menyebutkan secara terperinci alasan penilaiannya, hal itu tidak berarti bahwa ia mengabaikan persyaratan ilmu hadis.
Syekh al-Islam menjelaskan bahwa para imam ahli hadis tidak menjadikan kesahihan sanad sebagai satu-satunya dasar untuk menetapkan kesahihan hadis. Mereka juga memperhatikan keadaan matan dan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan penerimaan hadis.
Dengan demikian, kesahihan sanad merupakan unsur penting, tetapi tidak dapat dipisahkan dari penelitian terhadap matan dan keseluruhan persyaratan hadis.
9. Istilah-Istilah untuk Hadis yang Dapat Diterima
Dalam ilmu hadis, terdapat sejumlah istilah yang digunakan untuk menunjukkan hadis yang dapat diterima atau memiliki kualitas tertentu.
- Al-Jayyid (الجيد): hadis yang baik.
- Al-Qawiy (القوي): hadis yang kuat.
- Ash-Shalih (الصالح): hadis yang layak atau dapat diterima.
- Al-Ma'ruf (المعروف): riwayat yang dikenal dalam pembahasan hadis.
- Al-Mahfuzh (المحفوظ): riwayat yang terpelihara dan lebih kuat dibandingkan riwayat yang menyelisihinya.
- Ats-Tsabit (الثابت): riwayat yang terbukti atau kuat penetapannya.
- Al-Maqbul (المقبول): hadis yang diterima.
Istilah-istilah tersebut tidak selalu memiliki makna teknis yang sama dalam setiap penggunaan. Maknanya perlu dipahami sesuai konteks pembahasan dan kebiasaan para ulama yang menggunakannya.
Hadis Syadz dan Hadis Munkar
Hadis syadz (الشاذ) adalah riwayat yang disampaikan oleh perawi yang dapat dipercaya, tetapi riwayatnya menyelisihi riwayat perawi lain yang lebih kuat.
Hadis munkar (المنكر) dalam pengertian yang umum digunakan oleh ahli hadis adalah riwayat perawi lemah yang menyelisihi riwayat perawi terpercaya.
Keduanya merupakan istilah penting dalam penelitian kualitas hadis karena berkaitan dengan perbandingan antarriwayat dan kekuatan para perawinya. Apabila kejanggalan yang merusak riwayat telah terbukti, riwayat tersebut tidak dapat diterima sebagai hadis sahih atau hasan berdasarkan jalur tersebut.
10. Definisi Hadis Hasan Menurut Para Ulama
A. Definisi Menurut Imam at-Tirmidzi
Imam at-Tirmidzi menjelaskan hadis hasan dengan menekankan bahwa sanadnya tidak mengandung perawi yang dituduh berdusta, riwayatnya tidak bersifat syadz, dan hadis tersebut dikenal melalui jalur periwayatan yang mendukungnya.
Maksud tidak adanya perawi yang dituduh berdusta adalah bahwa definisi tersebut tidak mencakup riwayat yang mengandung perawi tertuduh berdusta. Adapun tidak bersifat syadz berarti riwayat itu tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat.
Jalur periwayatan tambahan dapat memberikan penguatan terhadap hadis, selama kelemahan yang ada masih tergolong ringan dan memenuhi persyaratan penerimaan.
B. Definisi Menurut Ibnu al-Jauzi
Dalam teks yang diterjemahkan, Ibnu al-Jauzi mengaitkan hadis hasan dengan adanya kelemahan yang masih dapat ditoleransi dan kemungkinan hadis tersebut untuk diamalkan.
Inti pembahasan ini adalah bahwa kelemahan ringan berbeda dari kelemahan berat yang menyebabkan hadis tertolak. Penilaian akhirnya tetap memerlukan penelitian terhadap sanad dan jalur pendukungnya.
C. Definisi Menurut ath-Thibi
Ath-Thibi menjelaskan hadis hasan dengan memperhatikan kualitas sanad, keadaan para perawi, serta keselamatan riwayat dari kejanggalan dan cacat tersembunyi.
Penjelasan tersebut menegaskan pentingnya menggabungkan berbagai unsur dalam penelitian hadis, bukan hanya melihat satu unsur secara terpisah.
11. Penggunaan Hadis Hasan oleh Para Ahli Fikih
Hadis hasan digunakan oleh banyak ahli fikih sebagai salah satu dasar pertimbangan hukum. Dalam pembahasan ini, terdapat perbedaan pendekatan di antara para ulama mengenai penerimaan suatu riwayat.
Sebagian ulama menerima riwayat tertentu, sedangkan sebagian lainnya menolaknya karena menemukan kejanggalan atau cacat yang memengaruhi kualitasnya.
Oleh karena itu, penerimaan hadis tidak hanya berkaitan dengan istilah yang digunakan untuk menyebutnya, tetapi juga dengan penelitian terhadap sanad, matan, serta alasan ilmiah di balik penilaian tersebut.
12. Kesimpulan
Hadis hasan merupakan salah satu kategori hadis yang dapat diterima dalam ilmu musthalah hadis. Hadis ini memiliki dua jenis utama, yaitu hasan li-dzatihi dan hasan li-ghairihi.
Hadis hasan li-dzatihi memenuhi persyaratan hasan pada dirinya sendiri, sedangkan hadis hasan li-ghairihi memperoleh derajat hasan melalui penguatan jalur periwayatan lain.
Hadis hasan pada prinsipnya dapat dijadikan hujah dan diamalkan. Namun, penetapan kualitas hadis harus mempertimbangkan kesinambungan sanad, keadilan dan ketelitian perawi, serta keselamatan riwayat dari kejanggalan dan cacat tersembunyi.
Ungkapan hasan sahih yang digunakan Imam at-Tirmidzi perlu dipahami berdasarkan konteks riwayat dan penilaian ulama. Demikian pula, kesahihan sanad perlu disertai penelitian terhadap matan agar kesimpulan mengenai kualitas hadis dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Catatan redaksi GemaDakwah: Artikel ini disusun berdasarkan terjemahan teks yang tersedia. Sebelum dijadikan rujukan akademik, nama kitab, identitas penulis, dan redaksi definisi para ulama perlu dicocokkan kembali dengan sumber aslinya, khususnya pada bagian yang berkaitan dengan perbedaan pendapat dalam penilaian hadis.

إرسال تعليق
Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com