PENGERTIAN SAHABAT DALAM ILMU HADIS

PENGERTIAN SAHABAT
DALAM ILMU HADIS

الصحابي وتعريفه ومراتب الصحبة

Kajian Musthalah Hadis

Studi Ilmu Hadis

Daftar Isi

  1. Pengantar Ilmu Musthalah Hadis
  2. Pengertian Sahabat Secara Bahasa
  3. Pengertian Sahabat Secara Istilah
  4. Perbedaan Pendapat Ulama
  5. Sahabat yang Bertemu Nabi ﷺ dalam Waktu Singkat
  6. Anak-Anak yang Bertemu Nabi ﷺ
  7. Kedudukan Sahabat dalam Periwayatan Hadis
  8. Urgensi Mengetahui Status Sahabat
  9. Kesimpulan
  10. Referensi

1. Pengantar Ilmu Musthalah Hadis

Ilmu hadis memiliki berbagai kaidah yang digunakan untuk mengetahui kedudukan hadis, sanad, matan, dan para perawinya.

Kaidah-kaidah tersebut berkembang menjadi disiplin ilmu yang dikenal sebagai Ilmu Musthalah Hadis.

Ilmu Musthalah Hadis membahas istilah-istilah dan kaidah yang digunakan oleh para ulama hadis dalam menilai dan memahami hadis serta para perawinya.

Salah satu pembahasan penting di dalamnya adalah masalah ash-Shahabah (الصحابة), yaitu para sahabat Nabi Muhammad ﷺ.

2. Pengertian Sahabat Secara Bahasa

Kata الصُّحْبَة berasal dari akar kata yang menunjukkan makna kebersamaan, persahabatan, dan penyertaan.

الصُّحْبَةُ: المُلازَمَةُ والمُعاشَرَةُ

Dalam bahasa Arab, seseorang yang menemani orang lain disebut صاحب, sedangkan bentuk jamaknya antara lain أصحاب dan صحاب.

Makna kebersamaan tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan kebersamaan dalam waktu yang lama maupun sebentar.

3. Pengertian Sahabat Secara Istilah

Para ulama hadis memberikan definisi sahabat dengan beberapa redaksi. Salah satu definisi yang masyhur adalah:

Orang yang bertemu Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam.
مَن لَقِيَ النَّبِيَّ ﷺ مُؤْمِنًا بِهِ، وَمَاتَ عَلَى الْإِسْلَامِ

Definisi ini menjadi dasar penting dalam pembahasan status seseorang sebagai sahabat.

4. Perbedaan Pendapat Ulama

Para ulama membahas apakah seseorang harus memiliki kebersamaan yang lama dengan Nabi ﷺ untuk dapat disebut sebagai sahabat.

Beberapa pendapat yang dinukil:

  • Ada ulama yang mencukupkan dengan pernah melihat Nabi ﷺ.
  • Ada yang mensyaratkan adanya pertemuan dan kebersamaan.
  • Ada pendapat yang memberikan batasan lebih panjang mengenai masa persahabatan dan keterlibatan dalam peperangan.
Pendapat yang lebih luas dalam pembahasan ilmu hadis tidak menjadikan lamanya kebersamaan sebagai satu-satunya ukuran.

5. Bertemu Nabi ﷺ dalam Waktu Singkat

Pembahasan para ulama menunjukkan bahwa seseorang tidak harus selalu lama bersama Nabi ﷺ untuk mendapatkan status sahabat.

Ada orang yang hanya bertemu Nabi ﷺ dalam waktu yang singkat atau melihat beliau pada suatu kesempatan tertentu.

Hal tersebut tetap menjadi bagian penting dalam pembahasan status sahabat, selama syarat-syarat yang ditetapkan ulama terpenuhi.

Status sahabat tidak semata-mata diukur dari banyaknya hadis yang diriwayatkan atau lamanya seseorang bersama Nabi ﷺ.

6. Anak yang Bertemu Nabi ﷺ

Salah satu pembahasan menarik adalah status anak-anak yang bertemu Rasulullah ﷺ.

Para ulama membahas apakah seorang anak yang masih kecil tetapi telah bertemu atau melihat Nabi ﷺ dapat disebut sebagai sahabat.

Di antara contoh yang disebutkan dalam pembahasan adalah beberapa anak yang bertemu Rasulullah ﷺ ketika masih kecil.

Contoh nama:

  • Muhammad bin Hatib bin al-Harith
  • ‘Abdullah bin Abi Talhah
  • Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syammas
  • as-Sa’ib bin Yazid

7. Contoh Riwayat as-Sa’ib bin Yazid

Dalam catatan yang dikutip pada halaman kitab disebutkan riwayat as-Sa’ib bin Yazid:

حَجَّ بِي أَبِي مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَأَنَا ابْنُ سَبْعِ سِنِينَ

Artinya:

“Pada saat aku berusia tujuh tahun, ayahku menunaikan haji bersamaku bersama Nabi ﷺ.”

Riwayat tersebut menjadi salah satu contoh pembahasan mengenai anak yang bertemu Nabi ﷺ dan kemudian diperhitungkan dalam pembahasan sahabat.

8. Kedudukan Sahabat dalam Periwayatan

Mengetahui apakah seorang perawi termasuk sahabat atau bukan sangat penting dalam kajian sanad hadis.

  • Menentukan kesinambungan sanad.
  • Mengetahui posisi seorang perawi.
  • Membedakan sahabat dengan generasi setelahnya.
  • Memahami jalur periwayatan hadis.
  • Membantu menilai bentuk riwayat yang bersifat mursal.
Intinya:
Penetapan status sahabat mempunyai hubungan langsung dengan penelitian sanad dan kajian Musthalah Hadis.

9. Kesimpulan

  1. Sahabat merupakan salah satu kelompok utama dalam sanad hadis.
  2. Para ulama memberikan beberapa definisi tentang sahabat.
  3. Lama atau singkatnya pertemuan dengan Nabi ﷺ menjadi salah satu persoalan yang dibahas oleh para ulama.
  4. Anak yang bertemu Nabi ﷺ juga menjadi bagian dari pembahasan status sahabat.
  5. Mengetahui status seorang perawi sebagai sahabat sangat penting dalam penelitian sanad hadis.
Kajian tentang sahabat merupakan salah satu fondasi penting dalam memahami sejarah transmisi dan periwayatan hadis.

10. Referensi

1. Ibnu Hajar al-‘Asqalani.
al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah.

2. Ibnu Hajar al-‘Asqalani.
Nukhbat al-Fikar fi Musthalah Ahl al-Atsar.

3. Al-Khatib al-Baghdadi.
al-Kifayah fi ‘Ilm ar-Riwayah.

4. Al-‘Iraqi.
at-Taqyid wa al-Idhah Syarh Muqaddimah Ibn ash-Shalah.

5. Imam an-Nawawi.
at-Taqrib wa at-Taysir li Ma‘rifat Sunan al-Basyir an-Nadzir.

6. Shahih al-Bukhari.

7. Shahih Muslim.

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama