TARJUMĀN AL-MUSTAFĪD Studi Metode, Corak, Sumber, dan Pengaruh ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī

PRESENTASI S2 STIQ – IAT

تَرْجُمَانُ الْمُسْتَفِيْد

Studi Tafsir Tarjumān al-Mustafīd

Karya ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī
Fokus Kajian:
Metode, Corak, Sumber Penafsiran, Bahasa Melayu-Jawi dan Pengaruhnya dalam Tradisi Tafsir Nusantara.
Mata Kuliah: Studi Tafsir Lintas Mazhab / Studi Tafsir
Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
S2 STIQ

1. Peta Pembahasan

Siapa?

Mengenal ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī sebagai ulama penting dalam sejarah intelektual Islam Nusantara.

Apa?

Mengenal Tarjumān al-Mustafīd sebagai karya tafsir Al-Qur’an berbahasa Melayu-Jawi.

Bagaimana?

Menganalisis metode dan sumber penafsiran yang digunakan.

Untuk apa?

Memahami kontribusinya terhadap perkembangan tafsir dan pendidikan Islam di Nusantara.

2. Biografi ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī

‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī merupakan salah satu ulama terkemuka Aceh pada abad ke-17 yang memiliki kontribusi besar dalam bidang tafsir, hadis, fikih dan tasawuf.

  • Berasal dari wilayah Singkil, Aceh.
  • Melakukan perjalanan intelektual ke Timur Tengah.
  • Berinteraksi dengan tradisi keilmuan Haramain.
  • Berperan dalam transmisi ilmu Islam ke Nusantara.

Kata kunci biografinya: Aceh – Haramain – Nusantara – Tafsir – Tasawuf.

3. Konteks Intelektual Aceh

Aceh pada abad ke-17 menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu-ilmu keislaman di kawasan Melayu-Nusantara.

Keagamaan

Berkembangnya kajian Al-Qur’an, hadis, fikih dan tasawuf.

Pendidikan

Ulama dan pusat pendidikan menjadi sarana transmisi ilmu.

Jaringan Ulama

Hubungan intelektual Aceh dengan Haramain semakin kuat.

Bahasa

Bahasa Melayu menjadi media penting penyebaran pengetahuan Islam.

4. Identitas Tarjumān al-Mustafīd

Judul: Tarjumān al-Mustafīd

Pengarang: ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī

Bahasa: Melayu dengan aksara Jawi

Periode: Abad ke-17

Karya ini penting karena menjadi salah satu tonggak dalam sejarah penafsiran Al-Qur’an di kawasan Melayu-Nusantara.

5. Mengapa Menggunakan Bahasa Melayu?

Penggunaan bahasa Melayu berkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat Muslim Nusantara terhadap akses pengetahuan agama.

  • Melayu merupakan lingua franca di kawasan Nusantara.
  • Memudahkan proses pendidikan dan dakwah.
  • Memperluas akses terhadap pemahaman Al-Qur’an.
  • Mendorong lahirnya tradisi intelektual Islam lokal.
Perspektif akademik: Bahasa bukan sekadar media komunikasi, tetapi juga bagian dari proses transmisi dan transformasi pengetahuan.

6. Sumber-Sumber Penafsiran

Dalam membaca Tarjumān al-Mustafīd, sumber penafsiran dapat dianalisis melalui beberapa lapisan.

Al-Qur’an

Ayat digunakan untuk menjelaskan ayat lainnya.

Hadis dan Riwayat

Hadis serta riwayat generasi awal digunakan sebagai sumber penjelasan.

Tafsir Klasik

Memanfaatkan khazanah tafsir yang berkembang sebelum periode al-Sinkilī.

Intertekstualitas

Teks tafsir dapat dibaca sebagai bagian dari jaringan keilmuan Islam yang lebih luas.

7. Metode Penafsiran

Secara umum, Tarjumān al-Mustafīd dapat dikaji melalui metode tahlīlī, yaitu penafsiran yang mengikuti urutan ayat berdasarkan susunan mushaf.

  • Mengikuti susunan surah dalam mushaf.
  • Memberikan penjelasan terhadap ayat.
  • Menghadirkan riwayat dan keterangan ulama.
  • Memberikan konteks bahasa dan keagamaan.

Namun, klasifikasi metode perlu didasarkan pada analisis terhadap teks, bukan hanya berdasarkan identitas pengarang.

8. Corak Penafsiran

Corak Riwayat

Penggunaan hadis, atsar dan penjelasan ulama terdahulu.

Corak Fikih

Ayat-ayat hukum dapat dijelaskan dengan perspektif fikih.

Corak Tasawuf

Nilai spiritual dan pembinaan akhlak mendapatkan ruang dalam penafsiran.

Corak Linguistik

Bahasa menjadi bagian penting dalam menjelaskan makna ayat.

9. Tasawuf dan Tafsir al-Sinkilī

Al-Sinkilī dikenal memiliki hubungan kuat dengan tradisi tasawuf. Akan tetapi, secara akademik, karakter sufistik sebuah tafsir harus dibuktikan melalui analisis teks.

Prinsip penelitian: Biografi pengarang dapat menjadi konteks awal, tetapi tidak cukup untuk menentukan corak tafsir.

Karena itu, peneliti perlu mengidentifikasi:

  • Konsep spiritual yang muncul dalam penafsiran.
  • Penggunaan istilah tasawuf.
  • Penjelasan tentang akhlak dan penyucian jiwa.
  • Hubungan antara makna lahir dan makna batin.

10. Bahasa Melayu dan Aksara Jawi

تَرْجُمَانُ الْمُسْتَفِيْد

Penggunaan bahasa Melayu dan aksara Jawi menunjukkan proses lokalisasi pengetahuan Islam.

Arab → Melayu → Nusantara

Pengetahuan tafsir yang berasal dari tradisi keilmuan Islam yang luas diterjemahkan dan disampaikan dalam konteks masyarakat Melayu.

Dengan demikian, Tarjumān al-Mustafīd dapat dipahami sebagai salah satu jembatan antara khazanah tafsir Islam dan masyarakat Muslim Nusantara.

11. Pengaruh terhadap Tafsir Nusantara

Kehadiran Tarjumān al-Mustafīd mempunyai posisi penting dalam sejarah perkembangan literatur tafsir berbahasa Melayu.

Transmisi Ilmu

Memudahkan penyebaran pengetahuan tafsir.

Pendidikan

Menjadi bagian dari tradisi pengajaran Islam.

Dakwah

Mendekatkan pemahaman Al-Qur’an kepada masyarakat.

Literatur Nusantara

Berkontribusi terhadap perkembangan karya-karya keislaman berbahasa Melayu.

12. Periodisasi dan Jaringan Intelektual

Abad ke-17
Perkembangan pusat keilmuan Islam di Aceh dan jaringan ulama Haramain.

Tarjumān al-Mustafīd
Tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Melayu-Jawi.

Tradisi Tafsir Melayu-Nusantara
Perkembangan karya-karya tafsir pada periode berikutnya.

Kajian ini menunjukkan bahwa sejarah tafsir Nusantara tidak dapat dipisahkan dari jaringan intelektual Islam internasional.

13. Analisis Akademik S2

Epistemologi

Bagaimana pengetahuan tentang makna Al-Qur’an diperoleh dan dibangun?

Metodologi

Bagaimana ayat ditafsirkan dan sumber apa yang digunakan?

Sosiologi Pengetahuan

Bagaimana konteks Aceh, Melayu dan jaringan ulama memengaruhi proses penafsiran?

Resepsi

Bagaimana karya tersebut diterima dan diwariskan dalam tradisi Islam Nusantara?

Kajian S2 tidak berhenti pada deskripsi isi, tetapi juga menganalisis konstruksi pengetahuan, metode, konteks dan implikasi akademiknya.

14. Kesimpulan dan Referensi

Tarjumān al-Mustafīd merupakan karya penting dalam sejarah tafsir Al-Qur’an di Nusantara. Karya ini memperlihatkan proses pertemuan antara tradisi tafsir Islam, jaringan intelektual Haramain dan konteks masyarakat Melayu.

Pokok Kesimpulan:
  • Ditulis oleh ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī.
  • Menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi.
  • Dapat dikaji dengan pendekatan metode tahlīlī.
  • Memuat unsur riwayat, fikih, bahasa dan spiritualitas.
  • Berperan dalam perkembangan tradisi tafsir Nusantara.

Referensi Awal

  • ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī, Tarjumān al-Mustafīd.
  • Kajian sejarah tafsir Nusantara dan tafsir Melayu.
  • Kajian tentang jaringan ulama Nusantara dan Haramain.
  • Literatur metodologi dan studi tafsir Al-Qur’an.

Terima kasih

1/15

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama