Pengaruh Iman kepada Hari Akhir dalam Kehidupan Muslim : Amal Saleh, Menghargai Waktu dan Persiapan Kematian

Iman kepada hari akhir merupakan salah satu pokok keimanan dalam Islam. Keimanan ini tidak hanya berupa keyakinan dalam hati, tetapi juga memberikan pengaruh besar terhadap akhlak, ibadah, cara menggunakan waktu, hubungan dengan sesama manusia, dan persiapan menghadapi kematian.

Pengantar: Pengaruh Iman kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Orang yang meyakini adanya kebangkitan, hisab, pahala dan hukuman akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupannya.

1. Bersegera dalam Amal Saleh

Iman kepada hari akhir mendorong seorang Muslim untuk bersegera melakukan amal saleh. Ia mengetahui bahwa setiap amal akan diperhitungkan dan mendapatkan balasan.

﴿وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ﴾
Artinya: “Dan timbangan pada hari itu adalah benar. Maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”
(QS. Al-A'raf: 8–9)
﴿أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ﴾
Artinya: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma'un: 1–3)

2. Tidak Terlalu Condong kepada Dunia

Iman kepada hari akhir mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukan tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat mendapatkan balasan.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ﴾
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepadamu, ‘Berangkatlah untuk berjuang di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan cenderung kepada dunia? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit.”
(QS. At-Taubah: 38)

3. Kekuatan Jiwa

Keyakinan terhadap kehidupan akhirat memberikan kekuatan jiwa kepada seorang mukmin. Ia menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah perjalanan menuju kehidupan yang kekal. Karena itu ia mampu bersabar dalam menghadapi ujian dan kesulitan.

Kisah 'Umair bin al-Humam رضي الله عنه pada Perang Badar menunjukkan bagaimana keyakinan terhadap surga dapat memberikan semangat dan keteguhan yang luar biasa.

ركضًا إلى الله بغير زاد
والصبر في الله على الجهاد
وكل زاد عرضة للنفاد
غير التقى والصبر والرشاد

Maknanya: Bergegaslah menuju Allah, bersabar dalam perjuangan, karena setiap bekal akan habis kecuali ketakwaan, kesabaran dan petunjuk.

4. Menghargai Nilai Waktu

Seorang mukmin memahami bahwa umur merupakan modal yang sangat berharga. Waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali. Karena itu setiap hari harus diisi dengan sesuatu yang bermanfaat.

إن الليل والنهار يعملان فيك فاعمل فيهما

Artinya: “Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka beramallah pada keduanya.”

Seorang mukmin berusaha agar hari ini lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Ia juga berusaha meninggalkan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, sedekah jariyah dan keturunan yang saleh.

5. Mengarahkan Diri kepada Negeri Akhirat

Mengingat kematian membuat seseorang sadar bahwa dunia adalah tempat sementara, sedangkan akhirat adalah tempat yang kekal.

اذكر الموت هادم اللذات

Artinya: “Ingatlah kematian, penghancur berbagai kenikmatan.”

واذكر الموت غدًا

Artinya: “Dan ingatlah kematian yang akan datang.”

Mengingat kematian membuat manusia tidak berlebihan dalam mencintai dunia, baik ketika berada dalam kesulitan maupun ketika mendapatkan kelapangan.

6. Memperbaiki Jiwa

Mengingat kematian mempunyai pengaruh besar dalam memperbaiki jiwa. Manusia dapat terlena oleh dunia, menunda taubat dan lalai dalam ibadah. Mengingat kematian mengingatkan manusia agar segera memperbaiki diri.

Di antara manfaat mengingat kematian adalah menyegerakan taubat, memiliki qanaah dalam hati dan meningkatkan semangat beribadah.

7. Persiapan Nyata Menghadapi Kematian

Kematian adalah kenyataan yang pasti terjadi. Orang yang berakal tidak seharusnya lalai terhadapnya.

﴿فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ﴾
Artinya: “Lalu kamu ditimpa musibah kematian.”
(QS. Al-Ma'idah: 106)

Persiapan menghadapi kematian dilakukan dengan memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia serta menyelesaikan berbagai tanggung jawab yang masih menjadi kewajiban.

A. Menulis dan Memperbarui Wasiat

«ما حق امرئ مسلم له شيء يوصي فيه يبيت ليلتين إلا ووصيته مكتوبة عنده»

Maknanya: Tidaklah pantas bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang hendak diwasiatkan untuk melewati dua malam kecuali wasiatnya telah tertulis di sisinya.

B. Memikirkan Sedekah Jariyah

Seorang Muslim hendaknya memikirkan amal yang manfaatnya tetap berlangsung setelah kematiannya, seperti wakaf, ilmu yang bermanfaat dan berbagai bentuk sedekah jariyah.

C. Membayar Utang

Orang yang memiliki utang hendaknya segera berusaha menyelesaikannya dan tidak menunda-nunda kewajibannya.

D. Menata Urusan Keluarga

Seorang Muslim hendaknya memperhatikan keadaan keluarganya serta menata berbagai urusan yang mereka perlukan setelah dirinya meninggal.

E. Meminta Maaf

Apabila seseorang pernah berbuat salah kepada orang lain, hendaknya ia segera meminta maaf dan memperbaiki hubungan. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, hendaknya ia mendoakan kebaikan bagi orang tersebut.

F. Segera Bertaubat

Taubat tidak boleh ditunda. Seorang mukmin hendaknya segera kembali kepada Allah, meninggalkan dosa dan memperbaiki kesalahan.

Evaluasi Diri

No. Pernyataan
1 Saya bersegera melakukan berbagai kebaikan untuk menambah bekal pahala.
2 Saya menjaga waktu agar tidak berlalu dalam perkara yang tidak bermanfaat.
3 Saya merasa tenang karena mengetahui bahwa kehidupan dan kematian berada dalam ketetapan Allah.
4 Saya selalu mengingat sedekah jariyah yang manfaatnya kembali kepada saya setelah meninggal.
5 Saya menulis wasiat dan memperbaruinya dari waktu ke waktu.
6 Saya segera berusaha melunasi utang.
7 Saya meminta maaf kepada orang yang pernah saya sakiti.
8 Saya segera bertaubat dan kembali kepada Allah.
9 Saya berusaha selalu berada dalam ketaatan kepada Allah dalam seluruh keadaan.

Soal Evaluasi

1. Apa pengaruh iman kepada hari akhir?

Iman kepada hari akhir mendorong manusia melakukan amal saleh, meninggalkan keburukan dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

2. Mengapa seorang mukmin tidak boleh terlena dengan dunia?

Karena dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal.

3. Bagaimana iman kepada hari akhir memberikan kekuatan jiwa?

Keyakinan terhadap pahala dan kehidupan akhirat memberikan kesabaran, keteguhan dan semangat dalam menghadapi berbagai ujian.

4. Mengapa waktu harus dimanfaatkan dengan baik?

Karena umur merupakan modal manusia untuk beramal dan akan dimintai pertanggungjawaban.

5. Sebutkan persiapan menghadapi kematian!

Di antaranya menulis wasiat, membayar utang, memikirkan sedekah jariyah, menata urusan keluarga, meminta maaf dan segera bertaubat.

Kesimpulan

Iman kepada hari akhir memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan seorang Muslim.

Keimanan tersebut mendorong seseorang untuk bersegera dalam amal saleh, tidak berlebihan mencintai dunia, memiliki kekuatan jiwa, menghargai waktu, selalu mengingat akhirat, memperbaiki diri dan mempersiapkan kematian.

Karena itu, iman kepada hari akhir harus diwujudkan dalam perilaku nyata. Seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui bahwa hari akhir itu benar, tetapi harus menjadikan keyakinan tersebut sebagai motivasi untuk memperbaiki ibadah, akhlak, hubungan dengan manusia dan seluruh kehidupannya.

Sumber : في نور الإسلام — محمود أبو رية
Jilid: الأول — Jilid Pertama

Gema Dakwah
Kajian Islam, Al-Qur'an, Hadis, Fikih dan Pendidikan Islam

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama