Iman kepada Qadar : Ridha, Sabar dan Tawakal kepada Allah

Iman kepada qadar merupakan salah satu dasar penting dalam kehidupan seorang Muslim. Keyakinan kepada ketetapan Allah tidak hanya berkaitan dengan pemahaman teologis, tetapi juga memberikan pengaruh nyata terhadap ketenangan hati, kesabaran, rasa syukur, sikap ridha dan kemampuan seorang mukmin dalam menghadapi berbagai keadaan kehidupan.

Pemahaman yang benar tentang qadar juga tidak berarti seorang Muslim meninggalkan usaha. Islam mengajarkan agar manusia mengambil sebab yang dibenarkan syariat, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh tawakal.

1. Pengantar

Keimanan kepada qadar memberikan kerangka berpikir yang penting bagi seorang mukmin dalam menghadapi kehidupan. Seorang Muslim memahami bahwa kehidupan tidak berlangsung secara kebetulan. Segala sesuatu berada dalam ilmu dan ketetapan Allah, sementara manusia tetap diperintahkan untuk berusaha, memilih jalan yang benar, dan mempertanggungjawabkan amalnya.

Dengan pemahaman tersebut, seorang mukmin tidak mudah sombong ketika memperoleh nikmat dan tidak mudah berputus asa ketika mendapatkan ujian. Ia bersyukur ketika mendapatkan kebaikan dan bersabar ketika menghadapi kesulitan.

2. Hakikat Iman kepada Qadar

Iman kepada qadar berarti meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, menetapkan segala sesuatu dengan hikmah-Nya, dan segala sesuatu terjadi dengan ilmu serta kehendak-Nya.

Keyakinan ini membentuk sikap batin seorang Muslim. Apa yang telah ditetapkan Allah akan terjadi, sedangkan sesuatu yang tidak ditetapkan untuknya tidak akan terjadi.

Karena itu, seorang mukmin tidak seharusnya hidup dalam ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Ia tetap berusaha memperbaiki keadaan, tetapi hatinya bergantung kepada Allah.

3. Dalil tentang Iman kepada Qadar

Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma

Di antara nasihat Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma adalah agar seorang hamba menjaga hubungan dengan Allah dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya.

Wahai anak muda, jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.

Hadis tersebut juga menjelaskan bahwa jika seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepada seseorang, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan baginya. Demikian pula mereka tidak akan mampu mencelakakannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan.

Pelajaran: Ketergantungan hati seorang mukmin harus diarahkan kepada Allah, bukan kepada makhluk.

4. Pengaruh Iman kepada Qadar

Iman kepada qadar memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian seorang Muslim. Di antara pengaruh tersebut adalah:

  1. Melahirkan ketenangan hati.
  2. Menguatkan kesabaran ketika mendapatkan ujian.
  3. Mendorong seseorang untuk bersyukur atas nikmat.
  4. Menghilangkan kesombongan ketika memperoleh keberhasilan.
  5. Mengurangi kecemasan terhadap sesuatu yang belum terjadi.
  6. Mendorong seorang mukmin untuk bertawakal kepada Allah.
  7. Membantu seseorang menerima ketetapan Allah dengan sikap yang benar.
  8. Membebaskan hati dari ketergantungan berlebihan kepada manusia.

5. Ridha terhadap Ketetapan Allah

Ridha merupakan salah satu buah penting dari pemahaman yang benar terhadap qadar. Ridha berarti menerima ketetapan Allah dengan hati yang tenang, seraya tetap menjalankan kewajiban dan mengambil sebab yang dibenarkan.

Namun, perlu dibedakan antara ridha terhadap qadar Allah dengan ridha terhadap segala bentuk kemaksiatan. Seorang Muslim tidak diperintahkan untuk menyukai kekufuran, kemaksiatan atau kedzaliman.

Penting: Ridha terhadap qadar tidak berarti membenarkan maksiat. Seorang mukmin menerima bahwa sesuatu terjadi dalam ketetapan Allah, tetapi ia tetap wajib membenci kemaksiatan dan berusaha meninggalkannya.

6. Sabar ketika Menghadapi Musibah

Ketika mendapatkan musibah, seorang mukmin tidak kehilangan harapan. Ia memahami bahwa kehidupan dunia merupakan tempat ujian. Karena itu, musibah dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesabaran, memperbaiki diri dan mendapatkan pahala.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa keadaan seorang mukmin sangat menakjubkan. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur sehingga kesenangan tersebut menjadi kebaikan. Ketika mendapatkan kesusahan, ia bersabar sehingga kesusahan tersebut juga menjadi kebaikan.

Sikap tersebut menunjukkan keseimbangan seorang mukmin: syukur ketika memperoleh nikmat dan sabar ketika mendapatkan ujian.

Musibah terjadi dengan izin Allah

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. At-Taghabun: 11)

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa keimanan kepada Allah ketika menghadapi musibah dapat menjadi sebab seseorang memperoleh petunjuk dan keteguhan hati.

7. Tawakal dan Mengambil Sebab

Salah satu kesalahpahaman terhadap qadar adalah anggapan bahwa tawakal berarti meninggalkan usaha. Pemahaman tersebut tidak tepat.

Tawakal yang benar menggabungkan dua hal: mengambil sebab yang dibenarkan dan menyerahkan hasil kepada Allah.

Seseorang yang ingin mendapatkan ilmu harus belajar. Orang yang ingin memperoleh penghidupan harus bekerja melalui jalan yang halal. Orang yang sakit dianjurkan berobat. Seseorang yang ingin membangun keluarga harus menempuh pernikahan yang sesuai syariat.

Semua usaha tersebut dilakukan dengan keyakinan bahwa sebab tidak bekerja secara mandiri di luar kehendak Allah.

8. Hubungan Qadar dengan Sebab

Allah adalah Pencipta sebab sekaligus Pencipta akibat. Karena itu, mengambil sebab tidak bertentangan dengan iman kepada qadar. Justru menggunakan sebab yang benar merupakan bagian dari kehidupan yang sesuai dengan sunnatullah.

Kesalahan dapat terjadi dalam dua arah:

Sikap Kesalahan
Meninggalkan semua usaha Menggunakan alasan tawakal untuk tidak melakukan kewajiban atau usaha yang diperlukan.
Bergantung kepada sebab Menganggap sebab memiliki kekuatan mandiri tanpa kehendak Allah.
Sikap yang benar Mengambil sebab yang dibenarkan, kemudian bertawakal kepada Allah.

9. Teladan Para Sahabat

Para sahabat memahami hubungan antara qadar dan ikhtiar secara seimbang. Mereka tidak menjadikan qadar sebagai alasan untuk meninggalkan usaha. Sebaliknya, mereka tetap melakukan langkah-langkah yang dianggap benar seraya menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Umar bin al-Khattab dan wabah

Salah satu peristiwa yang sering dijadikan contoh adalah sikap Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu ketika menghadapi berita tentang wabah. Ketika ditanya apakah ia menghindar dari takdir Allah, Umar menjelaskan bahwa perpindahan dari satu keadaan menuju keadaan lain juga berlangsung dalam takdir Allah.

Pelajaran penting dari peristiwa tersebut adalah bahwa seorang Muslim boleh, bahkan dalam keadaan tertentu wajib, mengambil langkah untuk menghindari bahaya. Hal tersebut tidak bertentangan dengan iman kepada qadar.

10. Qadar dan Ketenangan Jiwa

Keimanan kepada qadar dapat memberikan ketenangan karena seorang mukmin memahami bahwa kehidupannya berada dalam ilmu dan hikmah Allah. Ia tidak harus mengetahui seluruh hikmah di balik suatu kejadian untuk tetap percaya kepada kebijaksanaan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

11. Evaluasi Diri

Gunakan tabel berikut untuk melakukan muhasabah. Berikan nilai sesuai keadaan diri:

No. Pernyataan Nilai
1 Saya yakin bahwa apa yang telah Allah tetapkan untuk saya tidak akan meleset. 1–4
2 Saya berusaha ridha terhadap ketetapan Allah. 1–4
3 Saya bersyukur ketika mendapatkan nikmat. 1–4
4 Saya bersabar ketika mendapatkan musibah. 1–4
5 Saya berusaha menjaga ketenangan hati dengan mengingat Allah. 1–4
6 Saya mengambil sebab sebelum bertawakal kepada Allah. 1–4
7 Saya tidak mudah takut terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. 1–4
8 Saya lebih mengutamakan doa dan pertolongan Allah daripada ketergantungan kepada manusia. 1–4

Keterangan nilai: 4 = selalu, 3 = sering, 2 = kadang-kadang, 1 = jarang.

12. Pelajaran Penting

  1. Qadar menumbuhkan ketenangan. Seorang mukmin mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
  2. Qadar tidak menghapus ikhtiar. Manusia tetap diperintahkan untuk melakukan usaha yang benar.
  3. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha. Tawakal berarti menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan sebab yang dibenarkan.
  4. Musibah dihadapi dengan sabar. Kesulitan dapat menjadi jalan memperoleh pahala apabila dihadapi dengan iman dan kesabaran.
  5. Nikmat dihadapi dengan syukur. Keberhasilan tidak membuat seorang mukmin lupa bahwa segala nikmat berasal dari Allah.
  6. Ridha bukan berarti membenarkan maksiat. Seorang Muslim tetap wajib menjauhi dosa dan memperbaiki keadaan.
  7. Ketergantungan hati kepada Allah. Sebab digunakan, tetapi hati tidak menggantungkan hasil kepada sebab.

13. Kesimpulan

Iman kepada qadar merupakan bagian penting dalam pembentukan kepribadian seorang mukmin. Pemahaman yang benar terhadap qadar akan melahirkan ketenangan, kesabaran, rasa syukur, ridha dan tawakal.

Namun, iman kepada qadar tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk meninggalkan usaha. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang Muslim mengambil sebab yang benar, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Dengan demikian, qadar bukan alasan untuk pasif, tetapi menjadi sumber kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan kepada Allah. Ketika memperoleh nikmat ia bersyukur, ketika mendapatkan ujian ia bersabar, dan dalam seluruh keadaan ia tetap menggantungkan hatinya kepada Allah.

14. Referensi

Catatan kaki dari materi sumber disusun kembali menjadi daftar referensi agar pembaca lebih mudah menelusuri sumber pembahasan.

  1. Muhammad Nu'aim Yasin, Al-Iman: Haqiqatuhu wa Arkanuhu wa Nawaqidhuhu (Iman: Hakikat, Rukun dan Pembatalnya).
  2. Sayyid Sabiq, Al-'Aqa'id al-Islamiyyah (Akidah-Akidah Islamiyah).
  3. Yusuf al-Qaradawi, Al-Iman wa al-Hayah (Iman dan Kehidupan).
  4. Ibnul Qayyim, Ighatsat al-Lahfan.
  5. Ibnul Qayyim, Madarij as-Salikin.
  6. Ibnul Qayyim, Zad al-Ma'ad.
  7. Ibnul Jauzi, Shifat ash-Shafwah.
  8. Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam.
  9. Husam Hamidah, Fi Rihab al-Islam.
  10. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud.
  11. At-Tirmidzi, Jami' at-Tirmidzi.
  12. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari.
  13. Muslim, Shahih Muslim.
  14. Ibn Taymiyyah, Majmu' al-Fatawa.
Catatan GemaDakwah:

Artikel ini disusun kembali dalam bahasa Indonesia dengan penjelasan tematik, penataan materi, rangkuman, evaluasi diri dan penjelasan hubungan antara qadar, ikhtiar serta tawakal. Pembaca dianjurkan merujuk kepada karya-karya asli yang tercantum pada bagian referensi untuk penelitian lebih lanjut.

GemaDakwah
INTISYAR RISALAH DAKWAH

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama