GemaDakwah — Al-Qur'an menjelaskan bahwa dakwah kepada tauhid bukanlah risalah yang baru dimulai pada masa Nabi Muhammad ﷺ. Para nabi dan rasul sebelum beliau juga membawa seruan untuk beribadah kepada Allah dan mengikuti kebenaran yang diturunkan-Nya.
Surah As-Saff ayat 5–9 menggambarkan perjalanan dakwah Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Isa عليه السلام, sekaligus menjelaskan bagaimana sebagian manusia menolak kebenaran. Pada akhirnya, Allah menegaskan bahwa cahaya-Nya akan disempurnakan meskipun orang-orang kafir membencinya.
- Pendahuluan
- Ayat-Ayat Al-Qur'an
- Dakwah Nabi Musa عليه السلام
- Dakwah Nabi Isa عليه السلام
- Kesatuan Risalah Para Nabi
- Makna Cahaya Allah
- Janji Kemenangan Agama Allah
- Hadis tentang Kesatuan Risalah Para Nabi
- Pelajaran bagi Para Pendakwah
- Pelajaran yang Dapat Diambil
- Evaluasi dan Muhasabah
- Kesimpulan
- Referensi
1. Pendahuluan
Allah سبحانه وتعالى mengutus para nabi dan rasul kepada umat manusia untuk menunjukkan jalan yang benar. Meskipun terdapat perbedaan dalam sebagian syariat dan hukum yang berlaku bagi masing-masing umat, inti dakwah para nabi adalah satu, yaitu mentauhidkan Allah dan mengajak manusia untuk tunduk kepada-Nya.
Dalam Surah As-Saff, Allah memperlihatkan bagaimana Nabi Musa عليه السلام menghadapi kaumnya dan bagaimana Nabi Isa عليه السلام memberikan kabar gembira tentang kedatangan Rasul setelahnya.
Rangkaian ayat tersebut berakhir dengan penegasan bahwa Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya dan memenangkan agama yang benar.
2. Ayat-Ayat Al-Qur'an
Surah As-Saff Ayat 5
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku! Mengapa kalian menyakitiku, padahal kalian sungguh mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepada kalian?’ Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”
Surah As-Saff Ayat 6
“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan kitab yang turun sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad.’ Tetapi ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’”
Surah As-Saff Ayat 7
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, padahal dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Surah As-Saff Ayat 8
“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir membencinya.”
Surah As-Saff Ayat 9
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkannya di atas segala agama, sekalipun orang-orang musyrik membencinya.”
3. Dakwah Nabi Musa عليه السلام
Nabi Musa عليه السلام merupakan salah seorang rasul Allah yang menghadapi berbagai macam ujian dalam menyampaikan dakwah. Kaumnya mengetahui bahwa Musa adalah utusan Allah, tetapi sebagian mereka tetap menyakitinya dan menolak kebenaran yang disampaikannya.
Seorang pendakwah tidak boleh mengukur keberhasilan dakwah hanya berdasarkan banyak atau sedikitnya orang yang menerima ajakannya. Tugas seorang rasul dan orang yang mengikuti jalan dakwah adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar, sedangkan hidayah berada di tangan Allah.
Ayat ini juga menunjukkan bahaya berpaling dari kebenaran setelah seseorang mengetahui kebenaran tersebut.
4. Dakwah Nabi Isa عليه السلام
Nabi Isa عليه السلام juga menyampaikan risalah Allah kepada Bani Israil. Ia membenarkan Taurat dan memberikan kabar gembira tentang kedatangan seorang rasul setelahnya yang bernama Ahmad.
Ayat ini menunjukkan adanya kesinambungan risalah kenabian. Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ bukanlah sesuatu yang terpisah dari rangkaian risalah sebelumnya, tetapi merupakan penyempurna risalah para nabi.
5. Kesatuan Risalah Para Nabi
Para nabi memiliki satu tujuan pokok, yaitu menyeru manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan.
Allah berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.”
QS. Al-Anbiya': 25
Ayat tersebut menjadi salah satu dalil penting bahwa inti dakwah seluruh rasul adalah tauhid.
6. Makna Cahaya Allah
Firman Allah:
“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka.”
Ungkapan tersebut menggambarkan usaha orang-orang yang menentang kebenaran untuk menghalangi dakwah Allah. Mereka menggunakan berbagai cara, seperti penolakan, tuduhan, kebohongan, dan propaganda.
Namun Allah menegaskan:
“Dan Allah menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir membencinya.”
Cahaya Allah dalam konteks ayat ini berkaitan dengan agama, wahyu, petunjuk, dan kebenaran yang Allah turunkan kepada manusia.
7. Janji Kemenangan Agama Allah
Pada ayat kesembilan, Allah menjelaskan tujuan pengutusan Rasulullah ﷺ:
“Untuk memenangkannya di atas segala agama.”
Ayat ini memberikan keyakinan kepada orang-orang beriman agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan. Kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang mendukungnya, tetapi oleh dalil dan pertolongan Allah.
Keyakinan terhadap janji Allah bukan berarti seorang Muslim boleh meninggalkan usaha. Sebaliknya, seorang Muslim harus terus belajar, beramal, memperbaiki akhlak, menyampaikan dakwah dengan hikmah, dan berusaha menjadi sebab tersebarnya kebaikan.
8. Hadis tentang Kesatuan Risalah Para Nabi
Rasulullah ﷺ menjelaskan hubungan antara para nabi dengan sebuah perumpamaan yang sangat indah:
“Para nabi adalah saudara seayah; ibu mereka berbeda-beda, tetapi agama mereka satu.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Hadis ini menjelaskan bahwa para nabi membawa satu pokok agama, yaitu tauhid dan penghambaan kepada Allah. Adapun beberapa rincian syariat dapat berbeda sesuai dengan umat dan zaman masing-masing.
9. Pelajaran bagi Para Pendakwah
Kisah Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Isa عليه السلام memberikan pelajaran penting bagi para pendakwah pada setiap zaman.
- Bersabar dalam berdakwah. Penolakan manusia tidak boleh membuat seorang pendakwah berhenti menyampaikan kebaikan.
- Menyampaikan kebenaran dengan ilmu. Dakwah harus dibangun berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman yang benar.
- Tidak mudah menyerah. Para nabi menghadapi tantangan yang berat, tetapi mereka tetap menjalankan tugasnya.
- Menjaga akhlak. Dakwah bukan hanya berbicara, tetapi juga memberikan teladan melalui perilaku.
- Bertawakal kepada Allah. Seorang pendakwah berusaha maksimal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
10. Pelajaran yang Dapat Diambil
Semua nabi menyeru manusia kepada penghambaan kepada Allah dan tauhid.
Seorang pendakwah pasti menghadapi tantangan dan penolakan. Karena itu, kesabaran menjadi bagian penting dalam perjalanan dakwah.
Kebenaran tetap merupakan kebenaran meskipun banyak manusia menolaknya.
Tidak ada kekuatan manusia yang mampu mengalahkan kehendak Allah.
Nabi Muhammad ﷺ merupakan Rasul terakhir yang membawa risalah Islam yang sempurna dan berlaku bagi seluruh manusia.
11. Evaluasi dan Muhasabah
Pertanyaan 1
Mengapa sabar menjadi salah satu sifat penting bagi seorang pendakwah?
Karena dakwah menghadapi berbagai ujian, penolakan, dan rintangan. Kesabaran membuat pendakwah tetap teguh dalam menjalankan tugasnya.
Pertanyaan 2
Lengkapilah kalimat berikut:
Jawaban: الإسلام — Islam.
Pertanyaan 3
Apa janji Allah tentang cahaya-Nya?
Allah menjanjikan bahwa Dia akan menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.
Pertanyaan 4
Apa sikap seorang Muslim ketika menghadapi tantangan dalam dakwah?
Tetap berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bersabar, memperbaiki diri, berdakwah dengan hikmah, serta bertawakal kepada Allah.
12. Kesimpulan
Surah As-Saff ayat 5–9 memberikan gambaran tentang perjalanan dakwah para nabi, mulai dari Nabi Musa عليه السلام hingga Nabi Isa عليه السلام, serta kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad ﷺ.
Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa risalah para nabi memiliki inti yang sama, yaitu tauhid dan penghambaan kepada Allah. Meskipun para penentang berusaha menghalangi kebenaran, Allah menegaskan bahwa cahaya-Nya akan disempurnakan.
“Dan Allah menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir membencinya.”
Karena itu, seorang Muslim hendaknya memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah, bersabar dalam menjalankan agama, terus menuntut ilmu, memperbaiki amal dan akhlak, serta menyampaikan kebaikan dengan cara yang bijaksana.
13. Referensi
- Al-Qur'an al-Karim, Surah As-Saff ayat 5–9.
- Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Anbiya' ayat 25.
- Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Ma'idah ayat 48.
- Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya'.
- Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Fadha'il.
- Tafsir Ibn Katsir, penjelasan Surah As-Saff.
- Tafsir As-Sa'di, penjelasan Surah As-Saff ayat 5–9.
QS. As-Saff [61]: 5–9
QS. Al-Anbiya' [21]: 25

Posting Komentar
Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com