Thaharah : Pengertian, Air, Najis, Wudhu dan Tayamum



📚 Fikih Thaharah Gema Dakwah

Thaharah merupakan salah satu pembahasan penting dalam fikih Islam. Bersuci menjadi bagian yang sangat penting karena sejumlah ibadah, terutama salat, berkaitan erat dengan keadaan suci dari hadas dan najis.

Artikel ini menyajikan terjemahan dan susunan materi fikih thaharah secara sistematis, mulai dari pembahasan air, tanah untuk tayamum, najis, hadas, hingga kesucian pakaian, badan, dan tempat.


1. Air (الماء)

Setiap air yang turun dari langit atau keluar dari bumi, seperti air hujan, air laut, air sungai, air sumur, dan air mata air, maka hukum asalnya adalah suci dan menyucikan.

Air tersebut disebut air mutlak, yaitu air yang suci pada dirinya sendiri dan dapat digunakan untuk menyucikan sesuatu yang lain.

Dalil Al-Qur'an

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci menyucikan.”
QS. Al-Furqan: 48

Dalil tentang Air Laut

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ
“Air laut itu suci dan menyucikan, serta bangkainya halal.”

Air yang Bercampur dengan Benda Suci

Air tetap memiliki hukum suci dan menyucikan apabila bercampur dengan benda yang suci, selama tidak menghilangkan statusnya sebagai air secara mutlak.

Rasulullah ﷺ memerintahkan para wanita yang memandikan putri beliau untuk menggunakan air, daun bidara, dan kapur barus pada basuhan terakhir.

Air yang Terkena Najis

Air tidak dihukumi najis hanya karena kemasukan najis, kecuali najis tersebut menyebabkan perubahan pada salah satu sifat air: warna, bau, atau rasa.

المَاءُ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ
“Air itu suci dan menyucikan. Tidak ada sesuatu pun yang menajiskannya.”

2. Tanah atau Debu yang Suci

الصعيد الطاهر

Barang siapa tidak mendapatkan air atau tidak mampu menggunakannya, maka tanah atau debu yang suci dapat menjadi pengganti air untuk bersuci melalui tayamum.

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا
“Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci).”

Catatan Penting

  • Hukum asal air adalah suci dan menyucikan.
  • Hukum asal tersebut tidak berubah kecuali dengan dalil atau keyakinan.
  • Keraguan semata tidak mengubah hukum asal kesucian.
  • Jika perubahan pada air telah hilang, maka hukum air kembali kepada keadaan asalnya sesuai dengan rincian hukum fikih.

3. Pembagian Air dan Hukum-Hukumnya

جدول أحكام المياه

Jenis Air Kondisi Wudu / Mandi Minum / Masak
Air Mutlak Tetap pada sifat asalnya Sah Boleh
Air Mutlak bercampur benda suci Tidak menghilangkan nama “air” Sah Boleh
Air bercampur benda suci Berubah hingga tidak lagi disebut air secara mutlak, seperti teh, kopi, atau jus Tidak sah Boleh
Air terkena najis Najis mengubah warna, bau, atau rasa Tidak sah Tidak boleh

4. Najis (النجاسات)

Kaidah Dasar

Hukum asal segala sesuatu adalah suci. Tidak ada sesuatu yang dihukumi najis kecuali dengan dalil yang jelas.

1. Air Kencing Manusia (بول الآدمي)

Seorang Arab Badui pernah kencing di dalam masjid. Para sahabat ingin mencegahnya, namun Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعُوهُ وَلاَ تُزْرِمُوهُ
“Biarkan dia, jangan kalian hentikan.”

Setelah orang tersebut selesai, Nabi ﷺ memerintahkan agar tempat tersebut disiram dengan seember air.

2. Tinja Manusia (غائط الآدمي)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ الأَذَى فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُورٌ
“Apabila salah seorang di antara kalian menginjak sesuatu yang mengganggunya dengan sandalnya, maka tanah menjadi penyuci baginya.”

3. Kotoran Hewan yang Tidak Halal Dimakan

Yang dimaksud adalah air kencing dan kotoran hewan yang tidak halal dimakan, dengan pengecualian yang disebutkan dalam pembahasan.

هِيَ رِجْسٌ
“Ini adalah najis.”

Kucing dan Hewan yang Disamakan Dengannya

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
“Sesungguhnya kucing itu tidak najis. Ia termasuk hewan yang biasa berkeliling di sekitar kalian.”

5. Jenis-Jenis Najis — Lanjutan

4. Madzi (المذي)

Madzi adalah cairan yang keluar ketika timbul syahwat, tetapi tidak memancar dan tidak diikuti rasa lemas seperti keluarnya mani.

Cara menyucikannya adalah dengan mencuci kemaluan dan berwudu.

5. Wadi (الودي)

Wadi adalah cairan putih dan kental yang biasanya keluar setelah buang air kecil.

Cara menyucikannya adalah dengan mencuci kemaluan kemudian berwudu.

6. Darah Haid (دم الحيض)

تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالمَاءِ وَتَنْضَحُهُ وَتُصَلِّي فِيهِ
“Kikislah darah itu, kemudian cucilah dengan air, percikilah, lalu salatlah dengan pakaian tersebut.”

7. Air Liur Anjing (لعاب الكلب)

إِذَا وَلَغَ الكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ
“Apabila anjing menjilat wadah salah seorang di antara kalian, hendaklah ia membuang isinya, kemudian mencucinya tujuh kali.”

8. Bangkai (الميتة)

Bangkai adalah hewan yang mati tanpa penyembelihan yang sesuai dengan syariat.


6. Hukum Bangkai dan Hadas

Hukum Bagian-Bagian Bangkai

  • Daging bangkai — najis.
  • Lemak bangkai — najis.
  • Usus bangkai — najis.
  • Rambut dan bulunya — suci.
  • Wol — suci.
  • Tulang — suci menurut pembahasan dalam materi.
  • Kulit bangkai — menjadi suci setelah disamak.
إِذَا دُبِغَ الإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ
“Apabila kulit telah disamak, maka sungguh ia telah menjadi suci.”

Hewan yang Bangkainya Suci

1. Ikan dan Belalang

Dua jenis bangkai yang dihalalkan adalah ikan dan belalang.

2. Hewan yang Tidak Memiliki Darah Mengalir

Contohnya lalat, lebah, semut, dan hewan sejenisnya.

Hadas (الأحداث)

Hadas adalah keadaan yang menyebabkan seseorang tidak berada dalam keadaan suci secara syar‘i sehingga diperlukan tata cara bersuci tertentu untuk menghilangkannya.

Hadas Besar — الحدث الأكبر

Contohnya janabah, haid, dan nifas. Cara menghilangkannya pada asalnya adalah dengan mandi wajib, atau tayamum ketika terdapat uzur syar‘i.

Hadas Kecil — الحدث الأصغر

Contohnya buang air kecil, buang air besar, kentut, dan perkara lain yang membatalkan wudu. Cara menghilangkannya adalah dengan wudu atau tayamum ketika memenuhi ketentuannya.

7. Thaharah Pakaian (طهارة الثوب)

Pakaian yang digunakan untuk salat harus bersih dari najis.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
“Dan pakaianmu bersihkanlah!”
QS. Al-Muddatstsir: 4

8. Thaharah Badan (طهارة البدن)

Badan seorang muslim juga harus dibersihkan dari najis, terutama setelah buang air kecil dan buang air besar.

9. Thaharah Tempat (طهارة المكان)

Tempat yang digunakan untuk salat harus bersih dari najis. Hal ini ditunjukkan oleh hadis tentang seorang Arab Badui yang kencing di masjid, kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan agar bekas kencing tersebut disiram dengan air.

10. Kesimpulan

Thaharah mencakup dua aspek utama:

1. Bersuci dari Hadas
Wudu untuk hadas kecil, mandi untuk hadas besar, dan tayamum sebagai pengganti ketika terdapat uzur syar‘i.
2. Bersuci dari Najis
Menghilangkan najis dari badan, pakaian, dan tempat.
الأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الطَّهَارَةُ
“Hukum asal segala sesuatu adalah suci.”

11. Catatan Kaki dan Referensi

  1. QS. Al-Furqan: 48.
  2. Hadis tentang air laut.
  3. Hadis Ummu ‘Athiyyah tentang memandikan jenazah.
  4. Hadis tentang air sumur Buda‘ah.
  5. Hadis Anas tentang Arab Badui yang kencing di masjid.
  6. Hadis tentang tanah sebagai penyuci.
  7. Hadis Ibnu Mas‘ud tentang kotoran hewan.
  8. Hadis Abu Qatadah tentang kucing.
  9. Hadis tentang madzi dan wudu.
  10. Hadis tentang darah haid.
  11. Hadis tentang jilatan anjing.
  12. Hadis tentang kulit bangkai yang disamak.

GEMA DAKWAH

Kajian Fikih Thaharah

Memahami hukum-hukum bersuci berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

أحدث أقدم