Al-Ihtiqār (Meremehkan dan Merendahkan Orang Lain)

Pendahuluan. Di antara penyakit akhlak yang dapat menghalangi seseorang dalam menempuh jalan kebaikan dan dakwah adalah al-ihtiqār, yaitu sikap meremehkan, merendahkan, menganggap kecil, atau memandang hina orang lain.

Penyakit ini tidak kalah berbahayanya dengan penyakit-penyakit hati lainnya. Seseorang yang telah terjangkit sikap meremehkan orang lain sering kali tidak menyadari bahwa perbuatannya dapat melukai kehormatan sesama Muslim, memutus persaudaraan, menghilangkan keberkahan amal, bahkan mendatangkan akibat buruk bagi dirinya sendiri.

Karena itu, agar seseorang dapat membebaskan diri dari penyakit ini dan mampu menjaga dirinya agar tidak terjangkit, diperlukan pemahaman yang baik tentang hakikat, tanda-tanda, dampak, sebab-sebab, serta cara mengobatinya.

Daftar Isi
  1. Pendahuluan
  2. 1. Hakikat Al-Ihtiqār Secara Bahasa dan Istilah
  3. 2. Ciri-Ciri Sikap Ihtiqār dan Sikap Islam terhadapnya
  4. 1. Memotong pembicaraan dan menunjukkan kelemahannya
  5. 2. Meniru perilaku orang lain untuk mengejeknya
  6. 3. Mencaci, menghina, dan merendahkan
  7. 4. Menjauhkan seseorang dari posisi terhormat tanpa alasan yang benar
  8. 5. Tidak mau berbicara atau berinteraksi dengan orang yang dianggap rendah
  9. 3. Dampak dan Akibat Buruk Ihtiqār
  10. 1. Mendatangkan kemurkaan Allah
  11. 2. Kehilangan pertolongan dan dukungan Allah
  12. 3. Berani melanggar kehormatan orang yang diremehkan
  13. 4. Kehilangan pahala dan terkikisnya amal kebaikan
  14. 5. Orang-orang zalim dapat menguasai orang yang saling merendahkan
  15. 6. Dibenci manusia dan dijauhi masyarakat
  16. 7. Membuka pintu doa orang yang dizalimi
  17. 4. Dampak Ihtiqār terhadap Amal Islam
  18. 1. Kehilangan dukungan dan para pendukung
  19. 2. Munculnya perpecahan dan pemutusan hubungan
  20. 3. Jalan menjadi panjang dan biaya menjadi semakin besar
  21. 5. Sebab-Sebab Timbulnya Ihtiqār
  22. 1. Lingkungan keluarga
  23. 2. Pengaruh lingkungan pertemanan
  24. 3. Keinginan membalas dendam
  25. 4. Berhenti pada nikmat dan melupakan Sang Pemberi nikmat
  26. 5. Tidak memahami ukuran kemuliaan dalam Islam
  27. 6. Tidak memperhatikan penampilan dan kondisi diri
  28. 7. Masyarakat tidak menjalankan kewajibannya
  29. 8. Pemimpin tidak menjalankan kewajibannya
  30. 9. Melupakan akibat buruk ihtiqār
  31. 10. Tidak merasa diawasi Allah dan lupa kepada akhirat
  32. 6. Mengobati dan Mencegah Penyakit Ihtiqār
  33. 1. Menguatkan muraqabah kepada Allah
  34. 2. Mengingat bahwa kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan
  35. 3. Mengingat akibat buruk pada hari kiamat
  36. 4. Membiasakan diri menghormati orang lain
  37. 5. Mengingat jasa orang lain
  38. 6. Meneladani Rasulullah ﷺ
  39. 7. Kemuliaan Manusia dalam Islam
  40. 8. Pelajaran dari Bilal, Usamah dan Para Sahabat
  41. 9. Tanggung Jawab Masyarakat dalam Memberantas Ihtiqār
  42. 10. Tanggung Jawab Pemimpin
  43. 2. Hendaknya seseorang mengingat kematian yang akan menimpanya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla
  44. 3. Hendaknya keluarga membiasakan sikap saling menghormati dalam perilaku mereka
  45. 4. Hendaknya seseorang menjauhkan dirinya dari sebagian pertemanan yang buruk dan dari pertemanan yang bermanfaat
  46. 5. Hendaknya seseorang berjihad melawan dirinya untuk meninggalkan rasa dengki yang menjadi penyebab kemarahan dan pembalasan
  47. 6. Hendaknya seseorang banyak mengingat kematian ketika mengingat kenikmatan
  48. 7. Hendaknya seseorang memahami hakikat timbangan keutamaan dalam agama ini
  49. 8. Hendaknya seseorang memperhatikan penampilannya dengan baik
  50. 9. Hendaknya masyarakat menjalankan kewajibannya untuk menghormati orang lain
  51. 10. Hendaknya wali/pemimpin melaksanakan kewajibannya dalam menghormati orang lain
  52. 11. Hendaknya seseorang selalu mengingat akibat buruk dari penghinaan
  53. Penutup

1. Hakikat Al-Ihtiqār Secara Bahasa dan Istilah

A. Pengertian secara bahasa

Secara bahasa, al-ihtiqār (الاحتقار) mengandung makna meremehkan, menganggap kecil, memandang rendah, menghinakan, atau menganggap sesuatu tidak bernilai.

Di antara makna yang terkandung di dalamnya adalah:

Al-Istiṣghār (الاستصغار), yaitu menganggap kecil atau tidak berarti.

Al-Iżlāl dan al-Istihānah (الإذلال والاستهانة), yaitu merendahkan dan menganggap hina.

Al-Mubālaghah fī al-Iḥtiqār (المبالغة في الاحتقار), yaitu berlebih-lebihan dalam meremehkan dan merendahkan seseorang.

Dengan demikian, penghinaan bukan hanya berupa ucapan kasar. Sikap meremehkan dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik melalui perkataan, sikap, ekspresi, tindakan maupun perlakuan terhadap seseorang.

B. Pengertian secara istilah

Secara istilah, al-ihtiqār adalah sikap merendahkan seseorang atau suatu kelompok terhadap orang atau kelompok lain, baik pada pribadi orang tersebut maupun terhadap sesuatu yang keluar darinya, dengan cara yang menyebabkan kehinaan dan penghinaan, baik dilakukan secara berlebihan maupun tidak.

Dengan kata lain, seseorang dikatakan melakukan ihtiqār ketika ia memandang orang lain lebih rendah daripada dirinya sehingga ia merasa berhak memperlakukannya dengan hina, mengabaikannya, mencela, atau mempermalukannya.

Padahal, ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah bukanlah kekayaan, kedudukan, keturunan, bentuk fisik, maupun popularitas.

2. Ciri-Ciri Sikap Ihtiqār dan Sikap Islam terhadapnya

Sikap meremehkan orang lain mempunyai sejumlah tanda yang dapat dikenali, antara lain:

1. Memotong pembicaraan dan menunjukkan kelemahannya

Orang yang meremehkan orang lain sering tidak memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk berbicara. Ia memotong pembicaraan, menganggap pendapatnya tidak penting, kemudian berusaha menonjolkan kekurangan atau kesalahannya.

2. Meniru perilaku orang lain untuk mengejeknya

Salah satu bentuk penghinaan adalah menirukan cara berbicara, gerak tubuh, atau perilaku seseorang dengan tujuan mengejek dan mempermalukannya.

3. Mencaci, menghina, dan merendahkan

Ini merupakan bentuk ihtiqār yang paling jelas. Seseorang menggunakan kata-kata yang merendahkan martabat orang lain, mencela, memaki, atau mempermalukannya di hadapan orang lain.

4. Menjauhkan seseorang dari posisi terhormat tanpa alasan yang benar

Sikap meremehkan juga dapat terlihat ketika seseorang sengaja menghalangi orang lain dari kedudukan atau kesempatan yang semestinya ia dapatkan hanya karena menganggap dirinya lebih tinggi.

5. Tidak mau berbicara atau berinteraksi dengan orang yang dianggap rendah

Orang yang terkena penyakit ihtiqār terkadang merasa dirinya terlalu tinggi untuk duduk bersama, berbicara, atau bergaul dengan orang yang dianggap lebih rendah darinya.

Islam Menolak Sikap Meremehkan

Islam berdiri tegas menolak sikap meremehkan dan menghina manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«المسلم أخو المسلم، لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يحقره، التقوى هاهنا»

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya, dan tidak meremehkannya. Ketakwaan itu berada di sini.”

Rasulullah ﷺ kemudian menunjuk ke dadanya.

Beliau juga menjelaskan bahwa darah, harta dan kehormatan seorang Muslim adalah sesuatu yang harus dijaga.

Hal ini menunjukkan bahwa kehormatan manusia bukan perkara ringan dalam Islam. Merendahkan seseorang berarti menyentuh sesuatu yang telah dijaga oleh syariat.

Larangan Merendahkan Tetangga

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan agar seseorang tidak meremehkan tetangganya.

Di antara bentuk kasih sayang dalam kehidupan bermasyarakat adalah tidak menjadikan kondisi ekonomi, penampilan, pekerjaan, status sosial, atau keadaan keluarga seseorang sebagai alasan untuk merendahkannya.

Demikian pula seseorang tidak boleh menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan tertawaan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, boleh jadi perempuan yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka.”

(QS. Al-Hujurāt: 11)

Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting: orang yang kita anggap rendah bisa jadi jauh lebih mulia di sisi Allah daripada diri kita sendiri.

3. Dampak dan Akibat Buruk Ihtiqār

Sikap meremehkan tidak berhenti pada perasaan atau ucapan. Ia mempunyai dampak besar terhadap kehidupan individu, masyarakat, bahkan aktivitas dakwah dan amal Islam.

A. Dampak terhadap pelaku dan orang yang diremehkan

1. Mendatangkan kemurkaan Allah

Allah SWT memerintahkan agar orang beriman tidak menjauhkan diri dari orang-orang yang lemah dan miskin hanya karena keadaan mereka.

Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.”

(QS. Al-Kahf: 28)

Ketika seseorang merendahkan mereka yang lemah, miskin, atau tidak mempunyai kedudukan, ia sesungguhnya sedang mempertaruhkan dirinya terhadap kemurkaan Allah.

2. Kehilangan pertolongan dan dukungan Allah

Al-Qur'an juga menggambarkan bagaimana kaum yang lemah sering dipandang rendah oleh orang-orang yang merasa mempunyai kedudukan.

Nabi Nuh عليه السلام pernah menghadapi kaumnya yang merendahkan para pengikut beliau. Mereka berkata:

أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ

“Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu adalah orang-orang yang rendah?”

(QS. Asy-Syu‘arā’: 111)

Nabi Nuh عليه السلام menjawab:

وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ

“Aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman.”

Dan beliau berkata:

وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ طَرَدْتُهُمْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari Allah jika aku mengusir mereka? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?”

(QS. Hūd: 30)

Ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan dalam dakwah bukanlah status sosial seseorang, tetapi iman dan ketakwaannya.

3. Berani melanggar kehormatan orang yang diremehkan

Ketika seseorang terus-menerus melihat orang lain sebagai manusia yang rendah dan tidak berharga, ia akan lebih mudah melakukan tindakan yang melanggar kehormatan orang tersebut.

Penghinaan dapat berkembang menjadi:

pencemaran nama baik,

permusuhan,

perampasan hak,

tindakan zalim,

bahkan berbagai bentuk pelanggaran terhadap kehormatan dan harta.

Karena itu, penyakit hati yang tampaknya kecil dapat berkembang menjadi kerusakan sosial yang besar.

4. Kehilangan pahala dan terkikisnya amal kebaikan

Salah satu akibat yang sangat berat adalah hilangnya pahala karena seseorang mencaci, memfitnah, menyakiti, atau menzalimi orang lain.

Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang orang yang benar-benar bangkrut:

«أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟»

“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut?”

Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta.

Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa orang yang bangkrut dari umat beliau adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa dan zakat, tetapi ia juga datang setelah mencaci seseorang, menuduh seseorang, memakan harta orang lain, menumpahkan darah dan menyakiti orang lain. Pahala-pahalanya kemudian diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Jika pahala itu habis sebelum seluruh tanggungannya selesai, dosa orang-orang yang dizaliminya akan dibebankan kepadanya.

Hadis ini memberikan peringatan keras bahwa kesalehan pribadi tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan dan menyakiti orang lain.

5. Orang-orang zalim dapat menguasai orang yang saling merendahkan

Di antara sunnatullah dalam kehidupan adalah bahwa kezaliman dapat melahirkan kezaliman yang lain.

Allah SWT berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa dengannya.”

(QS. Asy-Syūrā: 40)

Allah juga berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka kerjakan.”

(QS. Al-An‘ām: 129)

Masyarakat yang membiarkan penghinaan dan kezaliman tumbuh akan mudah mengalami perpecahan dan kehilangan kekuatan.

6. Dibenci manusia dan dijauhi masyarakat

Manusia secara umum cenderung menyukai orang yang menghormati mereka dan menjauhi orang yang merendahkan mereka.

Seseorang yang sepanjang hidupnya terbiasa menghina, meremehkan, dan menyakiti orang lain pada akhirnya akan kehilangan kepercayaan dan kasih sayang dari lingkungan.

Ketika menghadapi kesulitan, ia mungkin tidak menemukan orang yang bersedia membantunya.

Pada saat itulah penyesalan tidak lagi banyak berguna.

7. Membuka pintu doa orang yang dizalimi

Orang yang diremehkan dan diperlakukan secara zalim dapat mengadukan keadaannya kepada Allah.

Doa orang yang dizalimi memiliki kedudukan yang sangat serius dalam Islam.

Rasulullah ﷺ memperingatkan:

«اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.”

Karena itu, seseorang hendaknya berhati-hati dalam memperlakukan orang lain. Jangan sampai sebuah ucapan yang dianggap ringan ternyata menjadi sebab datangnya musibah akibat doa orang yang disakiti.

4. Dampak Ihtiqār terhadap Amal Islam

Penyakit meremehkan bukan hanya merusak individu. Ia juga dapat menghancurkan sebuah gerakan, lembaga, organisasi, keluarga, dan aktivitas dakwah.

1. Kehilangan dukungan dan para pendukung

Ketika seorang pemimpin atau aktivis dakwah meremehkan orang-orang yang bekerja bersamanya, maka ia akan kehilangan dukungan.

Dalam kehidupan bersama, manusia memiliki keterbatasan. Seseorang mungkin sedikit dalam kemampuan ketika sendirian, tetapi menjadi kuat ketika mendapatkan dukungan dari saudara-saudaranya.

Karena itu, meremehkan orang lain berarti secara tidak langsung mengurangi kekuatan sendiri.

2. Munculnya perpecahan dan pemutusan hubungan

Sebuah amal yang dibangun di atas sikap saling merendahkan sulit menghasilkan persatuan.

Jika sebagian anggota merasa lebih tinggi daripada anggota lainnya, maka akan muncul:

saling curiga,

sakit hati,

perselisihan,

kelompok-kelompok kecil,

putusnya hubungan,

dan akhirnya melemahnya aktivitas dakwah.

Padahal kekuatan umat sangat bergantung pada persatuan.

3. Jalan menjadi panjang dan biaya menjadi semakin besar

Perpecahan internal memberikan peluang kepada pihak yang berseberangan untuk mengambil keuntungan.

Jika umat kehilangan persatuan, musuh akan lebih mudah menguasai sumber daya, melemahkan kekuatan, menghabiskan energi, dan menghambat cita-cita yang hendak dicapai.

Akibatnya, perjalanan menuju tujuan menjadi semakin panjang dan membutuhkan pengorbanan yang lebih besar.

5. Sebab-Sebab Timbulnya Ihtiqār

Ada berbagai sebab yang dapat menumbuhkan penyakit meremehkan orang lain.

1. Lingkungan keluarga

Seseorang bisa tumbuh dalam keluarga yang terbiasa memandang rendah orang lain.

Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menghina tetangga, pembantu, orang miskin, atau orang yang berbeda status sosial dapat meniru perilaku tersebut.

Pengaruh perilaku sering kali lebih kuat daripada pengaruh nasihat dan perkataan.

Karena itu, pendidikan akhlak dalam keluarga harus dimulai dari keteladanan.

2. Pengaruh lingkungan pertemanan

Seseorang juga dapat terpengaruh oleh teman-temannya.

Jika lingkungan pertemanan terbiasa mengejek, menghina, menertawakan kekurangan orang lain, dan melanggar kehormatan sesama, seseorang yang belum memiliki kepribadian kuat dapat ikut terbawa.

Terutama pada masa pembentukan karakter, lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar.

3. Keinginan membalas dendam

Seseorang yang sejak kecil atau dalam perjalanan hidupnya sering diperlakukan secara hina dan kasar dapat menyimpan kebencian.

Ketika memperoleh kesempatan dan kekuasaan, ia mungkin ingin membalas perlakuan tersebut kepada orang lain.

Dari sinilah lahir siklus:

dihina → menyimpan dendam → mendapat kesempatan → menghina orang lain → melahirkan dendam baru.

Islam datang untuk memutus rantai tersebut.

4. Berhenti pada nikmat dan melupakan Sang Pemberi nikmat

Seseorang terkadang mendapatkan harta, jabatan, ilmu, keturunan, popularitas, atau kemampuan tertentu.

Namun ia kemudian berhenti pada nikmat tersebut dan lupa bahwa semuanya berasal dari Allah.

Ketika seseorang lupa kepada Pemberi nikmat, ia dapat melihat dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Akhirnya, nikmat yang seharusnya melahirkan syukur justru menjadi sebab kesombongan.

5. Tidak memahami ukuran kemuliaan dalam Islam

Ini merupakan salah satu penyebab utama.

Sebagian manusia mengukur kemuliaan berdasarkan:

harta,

jabatan,

keturunan,

pendidikan,

popularitas,

penampilan,

kekuasaan,

dan status sosial.

Padahal Islam mempunyai ukuran yang berbeda.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurāt: 13)

Jadi, ukuran kemuliaan bukanlah apa yang terlihat oleh manusia, tetapi kualitas iman dan ketakwaan seseorang di hadapan Allah.

6. Tidak memperhatikan penampilan dan kondisi diri

Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan nikmat Allah.

Allah berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau nyatakan.”

(QS. Ad-Duḥā: 11)

Seseorang hendaknya menjaga kebersihan, kerapian, pakaian, tempat tinggal dan penampilan sesuai kemampuannya.

Sebab, mengabaikan diri secara berlebihan terkadang dapat membuka peluang bagi orang lain untuk meremehkannya.

Namun demikian, kekurangan seseorang dalam pakaian, harta atau penampilan tidak pernah menjadi alasan yang dibenarkan untuk menghina dirinya.

7. Masyarakat tidak menjalankan kewajibannya

Masyarakat mempunyai kewajiban menjaga nilai-nilai kebaikan dan mencegah berkembangnya perilaku buruk.

Jika masyarakat membiarkan budaya mengejek, menghina, merundung, mempermalukan, dan merendahkan orang lain berkembang, maka penyakit tersebut akan menyebar ke berbagai sisi kehidupan.

Karena itu, budaya saling menghormati harus dibangun bersama.

8. Pemimpin tidak menjalankan kewajibannya

Pemimpin mempunyai tanggung jawab menjaga keamanan, ketertiban dan kemaslahatan masyarakat.

Termasuk di dalamnya adalah mencegah perilaku yang merusak kehormatan manusia.

Jika pemimpin membiarkan penghinaan dan kezaliman berlangsung tanpa penanganan, penyakit tersebut dapat menyebar seperti api yang menjalar pada sesuatu yang mudah terbakar.

9. Melupakan akibat buruk ihtiqār

Seseorang dapat terjerumus ke dalam penghinaan karena lupa terhadap konsekuensinya.

Jika manusia selalu mengingat bahwa setiap perkataan dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, ia akan lebih berhati-hati dalam memperlakukan sesama.

10. Tidak merasa diawasi Allah dan lupa kepada akhirat

Lemahnya muraqabah—kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi—dapat membuat seseorang mudah melakukan penghinaan.

Begitu pula lupa terhadap hari akhir.

Orang yang yakin bahwa semua perkataan dan perbuatannya akan diperhitungkan akan lebih berhati-hati untuk tidak menyakiti orang lain.

6. Mengobati dan Mencegah Penyakit Ihtiqār

Setelah memahami hakikat, ciri, akibat dan sebab-sebab ihtiqār, langkah berikutnya adalah melakukan pengobatan.

1. Menguatkan muraqabah kepada Allah

Langkah pertama adalah memperkuat kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi manusia.

Jika seseorang benar-benar yakin bahwa Allah mengetahui setiap perkataan, gerakan, niat dan sikapnya, maka ia akan malu untuk merendahkan hamba-hamba Allah.

Muraqabah membuat manusia bertanya sebelum berbicara:

Apakah perkataan saya diridai Allah?

Sebelum mengejek seseorang:

Apakah saya rela mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan manusia dan di hadapan Allah?

Kesadaran seperti inilah yang dapat membentengi hati.

2. Mengingat bahwa kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan

Jangan mengukur seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak.

Boleh jadi orang yang kita pandang sederhana memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.

Sebaliknya, orang yang memiliki harta, jabatan dan popularitas belum tentu mempunyai kedudukan mulia di sisi-Nya.

Allah melihat hati dan amal manusia.

3. Mengingat akibat buruk pada hari kiamat

Setiap penghinaan terhadap manusia mempunyai konsekuensi.

Orang yang merasa dirinya aman karena memiliki banyak amal hendaknya mengingat hadis tentang al-muflis, orang yang bangkrut di akhirat.

Salat, puasa, zakat dan berbagai amal dapat berkurang pahalanya karena seseorang menzalimi orang lain.

Karena itu, menjaga kehormatan manusia merupakan bagian penting dari menjaga keselamatan amal.

4. Membiasakan diri menghormati orang lain

Obat yang efektif untuk kesombongan adalah membiasakan diri menghormati sesama.

Hormatilah:

orang tua,

guru,

tetangga,

teman,

orang miskin,

orang yang berbeda kedudukan,

orang yang memiliki kekurangan,

dan setiap Muslim.

Jangan menilai manusia hanya berdasarkan penampilan luarnya.

5. Mengingat jasa orang lain

Seseorang tidak pernah berdiri sendiri.

Di balik keberhasilan kita terdapat orang tua, guru, keluarga, sahabat, masyarakat dan banyak orang yang membantu.

Mengingat jasa mereka akan menghilangkan rasa tinggi hati.

6. Meneladani Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ memberikan contoh bagaimana memperlakukan orang-orang lemah dan sederhana.

Beliau tidak mengukur manusia berdasarkan kekayaan atau status sosial.

Dalam sejarah dakwah Islam, kita menemukan banyak sahabat yang berasal dari latar belakang berbeda. Bilal bin Rabah, misalnya, bukanlah orang yang memiliki kedudukan sosial tinggi ketika awal Islam. Namun keimanan dan ketakwaannya mengangkat kedudukannya.

Demikian pula para sahabat lainnya yang mungkin tidak memiliki kekayaan atau status sosial tinggi, tetapi memiliki kedudukan agung karena iman dan pengorbanannya.

7. Kemuliaan Manusia dalam Islam

Islam menghancurkan ukuran-ukuran jahiliah yang menjadikan harta, keturunan, warna kulit, kedudukan atau kekuasaan sebagai ukuran utama kemuliaan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurāt: 13)

Ayat ini menjadi prinsip dasar dalam membangun masyarakat yang sehat.

Perbedaan bukan alasan untuk saling menghina.

Perbedaan seharusnya menjadi jalan untuk saling mengenal, saling melengkapi dan saling bekerja sama dalam kebaikan.

8. Pelajaran dari Bilal, Usamah dan Para Sahabat

Sejarah Islam memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana Rasulullah ﷺ menghancurkan budaya diskriminasi dan kesombongan.

Bilal bin Rabah رضي الله عنه berasal dari kalangan yang secara sosial dipandang rendah oleh masyarakat jahiliah. Namun Islam mengangkatnya berdasarkan iman dan ketakwaan.

Demikian pula Usamah bin Zaid رضي الله عنه memperoleh kedudukan penting dalam kehidupan umat Islam meskipun usianya masih muda.

Ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam bukanlah usia, warna kulit, keturunan, kekayaan, ataupun kedudukan sosial.

Yang menjadi ukuran adalah iman, ketakwaan, ilmu, amal saleh dan kemampuan memberikan manfaat.

9. Tanggung Jawab Masyarakat dalam Memberantas Ihtiqār

Penyakit meremehkan tidak dapat diselesaikan hanya dengan nasihat kepada individu.

Masyarakat harus membangun budaya yang menghormati manusia.

Di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, masjid, organisasi dan media sosial harus dibangun budaya:

tidak menghina, tidak merundung, tidak mempermalukan, tidak mencaci, dan tidak merendahkan.

Jika seseorang melakukan kesalahan, kesalahannya boleh dikoreksi.

Namun koreksi tidak boleh berubah menjadi penghinaan terhadap martabat manusia.

10. Tanggung Jawab Pemimpin

Pemimpin memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Pemimpin harus memastikan bahwa:

hak masyarakat terlindungi;

kezaliman tidak dibiarkan;

orang lemah mendapatkan perlindungan;

penghinaan dan perundungan tidak berkembang;

masyarakat mendapatkan pendidikan akhlak;

hukum dan aturan ditegakkan secara adil.

Jika pemimpin membiarkan penyakit sosial berkembang, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Al-Ihtiqār, yaitu meremehkan dan merendahkan orang lain, bukan sekadar persoalan etika pergaulan. Ia merupakan penyakit hati yang dapat merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia.

Penyakit ini dapat muncul melalui perkataan, tindakan, ekspresi, sikap, pergaulan, bahkan melalui cara seseorang memandang orang lain.

Islam menolak keras sikap tersebut. Seorang Muslim tidak boleh menghina saudaranya, sebab boleh jadi orang yang ia hina justru jauh lebih mulia di sisi Allah.

Allah tidak menilai manusia berdasarkan harta, jabatan, keturunan, penampilan atau popularitas. Ukuran utama kemuliaan adalah iman dan ketakwaan.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya senantiasa menjaga lisannya, membersihkan hatinya, memperkuat muraqabah kepada Allah, mengingat hari akhir, menghormati sesama dan menjauhi segala bentuk penghinaan.

Dalam kehidupan dakwah, pesan ini menjadi semakin penting. Dakwah tidak akan kuat jika dibangun di atas kesombongan, penghinaan dan saling meremehkan. Dakwah akan tumbuh apabila dibangun di atas ukhuwah, kasih sayang, penghormatan, keadilan dan ketakwaan.

“Boleh jadi orang yang engkau pandang rendah justru lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah daripada dirimu.”

Maka, sebelum meremehkan seseorang, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri:

“Bagaimana jika orang yang saya hina ternyata lebih mulia di sisi Allah daripada saya?”

Pertanyaan tersebut cukup untuk membuat seorang mukmin berhati-hati dalam menjaga kehormatan saudaranya.

2. Hendaknya seseorang mengingat kematian yang akan menimpanya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla

Hal itu karena ketika seseorang mengingat saat dirinya akan berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى, dan bahwa dirinya akan ditanya tentang segala sesuatu, termasuk tentang merendahkan hamba-hamba Allah dan mencela mereka, kemudian setelah itu ia akan mendapatkan balasan berupa siksa dengan api neraka dan buruknya tempat kembali, maka ketika mengingat hal tersebut ia akan berusaha membersihkan dirinya dari sifat tersebut. Ia tidak akan melakukan penghinaan itu lagi, dan ia akan menjaga dirinya dari keadaan yang menyakitkan tersebut serta dari akibat yang akan menimpanya berupa kesengsaraan dan kehinaan.

3. Hendaknya keluarga membiasakan sikap saling menghormati dalam perilaku mereka

Hal itu karena apabila keluarga membiasakan diri untuk saling menghormati dalam perkataan dan perbuatan, serta meminta maaf kepada anak-anak atas apa yang pernah dilakukan pada masa lalu, dan mereka membiasakan anak-anak untuk menghargai manusia serta menghormati mereka, dan menjauhi menyakiti mereka, maka apabila hal itu dilakukan, dampak terbesar yang akan diperoleh adalah meninggalkan sikap merendahkan dan menahan diri dari membalas dendam.

4. Hendaknya seseorang menjauhkan dirinya dari sebagian pertemanan yang buruk dan dari pertemanan yang bermanfaat

Hal itu karena apabila seseorang melepaskan dirinya dari pertemanan yang buruk dan berusaha menjauhi teman-teman yang memiliki kebiasaan merendahkan orang lain, maka hal itu akan membuka jalan baginya untuk memutuskan hubungan dengan orang lain dan mencegah dirinya kembali kepada kebiasaan tersebut.

Sebaliknya, ia dapat kembali kepada pertemanan yang baik ketika ia menemukan orang-orang yang memberikan bantuan kepadanya setelah sebelumnya ia berada dalam keburukan.

5. Hendaknya seseorang berjihad melawan dirinya untuk meninggalkan rasa dengki yang menjadi penyebab kemarahan dan pembalasan

Hal itu karena apabila seseorang ingin membebaskan dirinya dari sikap merendahkan orang lain dan menyakiti mereka, ia harus membiasakan dirinya untuk menghormati orang lain yang menjadi sasaran perlakuan buruknya.

Jika ia telah berbuat salah kepada mereka, hendaknya ia memikirkan kebaikan-kebaikan mereka dan mengingat pahala memaafkan serta berbuat baik. Hal itu berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

(QS. Ali ‘Imran: 134)

Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf, perintahkanlah kepada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

(QS. Al-A‘raf: 199)

Dan Allah سبحانه وتعالى berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang antara engkau dan dia terdapat permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.”

(QS. Fussilat: 34)

Hendaknya seseorang mengingat sikap Nabi Yusuf عليه السلام terhadap saudara-saudaranya. Mereka dahulu telah berbuat buruk kepadanya dan menzaliminya, namun ia membalas semua itu dengan pengampunan. Allah Ta‘ala berfirman:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian. Dan Dia adalah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

(QS. Yusuf: 92)

Demikian pula hendaknya seseorang mengingat sikap Nabi ﷺ terhadap orang-orang yang dahulu memusuhinya. Ketika mereka masuk Islam, beliau membalas mereka dengan pengampunan dan memberikan maaf kepada mereka setelah sebelumnya mereka memusuhi beliau.

6. Hendaknya seseorang banyak mengingat kematian ketika mengingat kenikmatan

Hal itu karena kenikmatan yang dirasakan oleh seorang hamba pada suatu malam, yang mungkin saja tidak ia temukan lagi pada siang harinya, sesungguhnya merupakan karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Apabila seorang hamba beribadah kepada Allah pada hari ketika ia berada dalam keadaan berkecukupan, maka ia akan menjaga dirinya dari merendahkan orang lain dan dari memusuhi mereka. Ia akan mengingat pintu taubat atas apa yang pernah ia lakukan pada masa lalu.

Dan tekad yang kuat untuk tidak kembali kepada perilaku tersebut lagi akan mengingatkannya bahwa apa yang pernah ia lakukan kepada orang lain dapat saja kembali kepadanya. Sebab, orang yang dihina hari ini bisa jadi merupakan orang yang memiliki nikmat yang sebelumnya tidak ia miliki, sedangkan apa yang diberikan Allah kepada seseorang bukanlah sesuatu yang terlarang.

7. Hendaknya seseorang memahami hakikat timbangan keutamaan dalam agama ini

Timbangan keutamaan dalam agama ini sesungguhnya adalah iman dan amal saleh (ketakwaan).

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Bukanlah harta dan anak-anak kalian yang mendekatkan kalian kepada Kami, tetapi orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.”

(QS. Saba’: 37)

Nabi ﷺ juga memberikan gambaran praktis tentang timbangan keutamaan ini.

Diriwayatkan dari Sahl, ia berkata: Seorang laki-laki melewati Rasulullah ﷺ. Beliau kemudian bersabda:

“Apa pendapat kalian tentang orang ini?”

Para sahabat menjawab, “Ia termasuk orang yang jika meminang, tentu akan dinikahkan; jika meminta syafaat, tentu diberi syafaat; dan jika berbicara, tentu didengarkan.”

Kemudian Rasulullah ﷺ diam.

Lalu lewatlah seorang laki-laki dari kalangan kaum Muslimin yang miskin. Rasulullah ﷺ kembali bersabda:

“Apa pendapat kalian tentang orang ini?”

Mereka menjawab, “Jika ia meminang, ia tidak akan dinikahkan; jika meminta syafaat, ia tidak akan diberi syafaat; dan jika berbicara, ia tidak akan didengarkan.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

«هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَذَا»

“Orang ini lebih baik daripada sepenuh bumi yang dipenuhi oleh orang seperti yang pertama tadi.”

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

“Ketika beliau sedang berbicara di antara para sahabat, datanglah seorang laki-laki dengan menunggang kendaraan yang indah dan melewati mereka. Ia kemudian mengucapkan salam kepada ibunya dan berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti laki-laki ini.’”

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah engkau menjadikan anakku seperti orang ini. Tetapi katakanlah: ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia,’ kemudian ia turun dari kendaraannya dan mencium tangan ibunya.”

Kemudian Rasulullah ﷺ memandang kepadanya dan beliau tersenyum.

Orang-orang berkata: “Mereka melewati seorang laki-laki yang sedang memukul anaknya.”

Ibunya berkata: “Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti anaknya itu.”

Kemudian dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya dia adalah orang yang kuat.”

Maka ibunya berkata: “Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia.”

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

“Janganlah engkau menjadikan anakmu seperti dia.”

Ibunya berkata: “Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya laki-laki itu adalah seorang yang kuat.”

Kemudian orang-orang berkata kepada ibunya: “Anakmu itu tidak melakukan sesuatu yang buruk; ia tidak berbuat zina dan tidak mencuri.”

Maka ibunya berkata: “Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia.”

Datang beberapa penerapan dari para sahabat untuk menegaskan timbangan keutamaan ini.

Dalam Shahih al-Bukhari, diriwayatkan bahwa Umar رضي الله عنه menyebut keutamaan Abu Bakar dan sahabat-sahabat lainnya. Di antaranya beliau berkata:

“Dan ini adalah Bilal, tuan kami dan orang yang telah dibebaskan oleh tuan kami.”

Demikian pula Umar رضي الله عنه menyebut berbagai keutamaan Abu Bakar dan sahabat-sahabatnya.

Beliau juga berkata tentang Bilal رضي الله عنه dan saudaranya dalam Islam ketika mereka pergi kepada suatu kaum dari Khulan. Mereka berkata:

“Kami datang kepada kalian sebagai orang yang berbicara, dan kami telah menjadi kafir. Maka Allah memberikan petunjuk kepada kami. Kami dahulu adalah orang-orang yang lapar, kemudian Allah memberikan makanan kepada kami. Kami dahulu telanjang, kemudian Allah memberikan pakaian kepada kami. Kami dahulu berada dalam kesesatan, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kami. Dan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah.”

Hal ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah berdasarkan keturunan, kekayaan, kedudukan, atau penampilan, tetapi berdasarkan iman, ketakwaan, dan amal saleh.

Demikian pula Usamah bin Zaid رضي الله عنه. Al-Walid, maula beliau, pernah menetapkan baginya bagian sebesar tiga ribu dan memberikan kepada putranya Abdullah tiga ribu.

Maka Abdullah berkata:

“Mengapa engkau tidak memberikan kelebihan kepadaku dibandingkan Usamah?”

Ia menjawab:

“Sesungguhnya ayahnya lebih dicintai oleh Rasulullah ﷺ daripada ayahmu, dan Usamah lebih dicintai oleh Rasulullah ﷺ daripada engkau.”

Umar رضي الله عنه juga pernah ditanya tentang Usamah. Beliau menjawab:

“Tidaklah Usamah diminta sesuatu kecuali ia berkata: ‘Salam sejahtera atasmu wahai Amirul Mukminin,’ dan Rasulullah ﷺ telah wafat sedangkan engkau masih menjadi Amirul Mukminin.”

Maksud dari semua ini adalah bahwa seseorang harus memahami hakikat timbangan keutamaan dalam Islam. Islam sangat mendorong manusia untuk menghormati orang lain dan menjaga kehormatan mereka, bukan merendahkan mereka.

8. Hendaknya seseorang memperhatikan penampilannya dengan baik

Ketika seseorang memperhatikan dirinya dan menjaga penampilannya, maka ia akan menjaga kehormatannya di hadapan orang lain. Dengan demikian ia akan menyadari nikmat Allah Ta‘ala atas dirinya dan bahwa ia tidak boleh merendahkan orang lain.

Ia juga akan menyadari bahwa orang lain memiliki kemampuan, kedudukan, dan kehormatan yang harus dihargai.

9. Hendaknya masyarakat menjalankan kewajibannya untuk menghormati orang lain

Maksudnya, apabila masyarakat menjalankan kewajibannya dalam menghormati orang lain dengan berbagai cara yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat yang hanif, maka akan berkurang sikap saling mengingkari dalam hati terhadap masyarakat tersebut.

Masyarakat tidak akan lagi merasa bahwa mereka adalah orang-orang asing atau tidak memiliki tempat di tengah masyarakat.

Sebaliknya, kepentingan mereka akan menjadi bagian dari kepentingan bersama.

Apabila masyarakat sampai pada kondisi seperti ini, maka akan hilang berbagai jalan yang mengantarkan kepada sikap merendahkan dan menghina orang lain. Bahkan akan tumbuh usaha untuk memperbaiki jiwa dan membiasakannya kembali menghormati orang lain.

10. Hendaknya wali/pemimpin melaksanakan kewajibannya dalam menghormati orang lain

Sebaiknya seorang wali atau pemimpin memperlakukan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya dengan berbagai cara.

Kadang-kadang dengan kelembutan, kadang dengan ketegasan, kadang dengan dorongan dan pemberian semangat, dan kadang dengan menunjukkan perhatian serta penghormatan kepada mereka.

Hal tersebut dilakukan agar ia dapat segera menangani penghinaan dan permusuhan yang terjadi di antara mereka.

Akan lebih baik apabila semua itu dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ. Dengan demikian Allah akan memudahkan urusannya, memberikan pertolongan dan kemenangan kepadanya.

11. Hendaknya seseorang selalu mengingat akibat buruk dari penghinaan

Mengingat akibat tersebut akan menjadi penghalang yang kuat bagi seseorang untuk meninggalkan sikap menghina.

Hal itu juga akan menjaga dirinya agar tidak kembali melakukan perbuatan tersebut.

Sebab, akibat dari perilaku tersebut tidak hanya berkaitan dengan kehidupan dunia, tetapi juga menyangkut kehidupan akhirat. Dampaknya dapat menimpa individu maupun masyarakat secara keseluruhan.

Penutup

Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa menghormati manusia dan menjaga kehormatan mereka merupakan bagian penting dari akhlak Islam. Sikap merendahkan, menghina, mencela, dan menyakiti orang lain bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga dapat merusak jiwa pelakunya.

Islam mengajarkan agar seseorang membiasakan memaafkan, menahan amarah, menghormati orang lain, menjaga lisan, memperbaiki diri, serta mengingat bahwa ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah bukanlah harta, keturunan, penampilan, ataupun kedudukan, melainkan iman, ketakwaan, dan amal saleh.

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama