Ringkasan Perangkat Tafsir: Penjelasan Terperinci dan Contoh

Dalam kajian Studi Al-Qur'an dan Tafsir, seorang mufasir membutuhkan berbagai perangkat keilmuan agar dapat memahami ayat secara tepat, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Perangkat tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks Al-Qur'an, tetapi juga mencakup aspek sumber, metodologi, bahasa, konteks sejarah, serta ilmu-ilmu Al-Qur'an.

Artikel ini membahas 7 perangkat penting dalam penalaran tafsir, yaitu Al-Qur'an sebagai sumber primer, sifat tauqifi dan ijtihadi dalam tafsir, pemahaman holistik melalui munasabah, aspek kebahasaan dan balaghah, perbedaan makna-tafsir-ta'wil, asbab al-nuzul dan konteks historis, serta nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih dan qira'at.

Pengantar Perangkat Tafsir

Tafsir merupakan usaha ilmiah untuk memahami dan menjelaskan kandungan Al-Qur'an. Dalam proses tersebut, mufasir tidak cukup hanya mengandalkan terjemahan. Ia perlu menggunakan berbagai perangkat keilmuan agar penafsiran tidak keluar dari prinsip-prinsip bahasa, riwayat, konteks, dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Rangkaian perangkat tafsir:

Sumber → Sikap → Metode → Alat → Tingkatan → Konteks → Kualifikasi

1. Al-Qur'an sebagai Sumber Primer Otentik

Al-Qur'an merupakan sumber utama dan otoritatif dalam kajian tafsir. Seluruh proses penafsiran harus menjadikan Al-Qur'an sebagai dasar utama dalam memahami ajaran Islam.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
QS. Al-Hijr: 9

Mengapa Al-Qur'an menjadi sumber primer?

Al-Qur'an menjadi sumber utama bagi berbagai bidang ajaran Islam, antara lain:

  • Akidah
  • Ibadah
  • Akhlak
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Prinsip kehidupan manusia

Contoh

Al-Qur'an memerintahkan:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ
“Dan dirikanlah salat.”
QS. Al-Baqarah: 43

Ayat tersebut menjadi dasar kewajiban salat. Adapun rincian seperti jumlah rakaat dan tata cara salat dijelaskan melalui sunnah Nabi Muhammad ﷺ.

Inti Poin 1: Al-Qur'an adalah sumber primer, sedangkan hadis, bahasa Arab, sejarah dan ilmu lainnya berfungsi membantu memahami kandungan Al-Qur'an.

2. Tafsir Bersifat Tauqifi dan Ijtihadi

Dalam proses penafsiran terdapat aspek yang bersumber dari wahyu dan riwayat, serta terdapat ruang bagi kemampuan intelektual mufasir dalam menggunakan perangkat ilmu yang benar.

A. Tauqifi

Tauqifi adalah sesuatu yang didasarkan pada sumber wahyu atau riwayat yang dapat dijadikan landasan. Dalam tafsir, hal ini terutama terlihat pada penafsiran Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, hadis Nabi ﷺ, serta penjelasan sahabat yang dapat dipertanggungjawabkan.

Contoh

Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman...”
QS. Al-An'am: 82

Kata zulm dalam ayat tersebut dijelaskan dalam riwayat Nabi ﷺ dengan merujuk kepada syirik, sebagaimana QS. Luqman: 13 menyebut syirik sebagai kezaliman yang besar.

B. Ijtihadi

Ijtihadi adalah ruang penggunaan kemampuan intelektual dan metodologis mufasir untuk memahami ayat berdasarkan perangkat ilmu yang benar.

Perangkat tersebut antara lain:

  • Nahwu
  • Sharaf
  • Balaghah
  • Munasabah
  • Asbab al-nuzul
  • Usul fikih
  • Qira'at
  • Konteks sejarah
Catatan penting: Ijtihad dalam tafsir bukan berarti bebas memberikan makna sesuai keinginan pribadi. Ijtihad harus mengikuti kaidah keilmuan dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an dan sumber yang otoritatif.
Rumus: Tauqifi = bersandar pada wahyu/riwayat.
Ijtihadi = menggunakan kemampuan ilmiah dengan kaidah yang benar.

3. Pemahaman Holistik dan Munasabah

Pemahaman holistik berarti memahami ayat secara menyeluruh dan tidak memisahkannya dari konteks teks secara sembarangan. Salah satu perangkat yang digunakan adalah munasabah, yaitu hubungan atau keterkaitan antara bagian-bagian dalam Al-Qur'an.

Munasabah dapat berupa hubungan:

  • Antarayat
  • Antarkelompok ayat
  • Antartema
  • Awal dan akhir surat
  • Antarsurat

Contoh

Allah berfirman:

وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
“Maka celakalah orang-orang yang salat.”

Jika kalimat tersebut dipahami sendirian, seseorang dapat memperoleh kesimpulan yang keliru. Ayat berikutnya menjelaskan:

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.”
QS. Al-Ma'un: 4–5

Contoh ini menunjukkan pentingnya membaca ayat dalam hubungan dengan ayat sesudahnya.

Inti Poin 3: Munasabah membantu mufasir memahami keterkaitan antarayat dan antartema sehingga penafsiran tidak bersifat terpotong-potong.

4. Aspek Kebahasaan dan Balaghah

Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab merupakan salah satu perangkat penting dalam memahami Al-Qur'an.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا
“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur'an berbahasa Arab.”
QS. Yusuf: 2

A. Nahwu

Nahwu berkaitan dengan struktur kalimat dan kedudukan kata. Pemahaman nahwu membantu mufasir menentukan fungsi sebuah kata dalam kalimat.

B. Sharaf

Sharaf berkaitan dengan perubahan bentuk kata. Satu akar kata dalam bahasa Arab dapat menghasilkan bentuk kata yang berbeda dan memiliki nuansa makna yang berbeda pula.

Contohnya akar kata:

ع ل م
  • عِلْم = ilmu
  • عَلِمَ = mengetahui
  • عَلَّمَ = mengajarkan
  • مُعَلِّم = pengajar

C. Balaghah

Balaghah berkaitan dengan ketepatan, keindahan dan kekuatan penyampaian bahasa. Pembahasannya antara lain meliputi tasybih, isti'arah, majaz, kinayah, ijaz dan ithnab.

Contoh

وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا
“Dan kepala telah dipenuhi uban.”
QS. Maryam: 4

Ungkapan tersebut memberikan gambaran yang kuat mengenai penyebaran uban pada kepala. Pemahaman seperti ini membutuhkan kepekaan terhadap gaya bahasa Arab dan balaghah.

Inti Poin 4: Bahasa membantu memahami makna kata dan struktur kalimat, sedangkan balaghah membantu menangkap nuansa dan gaya penyampaian Al-Qur'an.

5. Membedakan Makna, Tafsir dan Ta'wil

Dalam studi tafsir, istilah makna, tafsir dan ta'wil perlu dipahami secara hati-hati karena para ulama memiliki beberapa penggunaan dan definisi yang berbeda.

A. Makna

Makna adalah kandungan yang dipahami dari suatu kata atau teks.

B. Tafsir

Tafsir secara umum merupakan usaha menjelaskan maksud dan kandungan ayat Al-Qur'an berdasarkan perangkat dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.

C. Ta'wil

Ta'wil secara bahasa berkaitan dengan mengembalikan sesuatu kepada makna atau konsekuensi akhirnya. Dalam sejarah ilmu tafsir, istilah ini digunakan dengan pengertian yang beragam.

Sebagian ulama menggunakan istilah tafsir dan ta'wil hampir sebagai sinonim. Sebagian lainnya memberikan perbedaan penggunaan antara keduanya.

Catatan akademik: Jangan menyederhanakan bahwa tafsir selalu memiliki satu definisi dan ta'wil selalu memiliki satu definisi. Penggunaan kedua istilah tersebut berkembang dalam sejarah keilmuan Islam.
Rumus sederhana: Makna → kandungan teks.
Tafsir → penjelasan kandungan teks.
Ta'wil → interpretasi/pengembalian kepada makna tertentu sesuai pendekatan yang digunakan.

6. Asbab al-Nuzul dan Konteks Historis

Asbab al-nuzul berarti sebab atau peristiwa yang berkaitan dengan turunnya suatu ayat. Pengetahuan tentang konteks historis membantu mufasir memahami situasi yang melatarbelakangi turunnya ayat.

Fungsi Asbab al-Nuzul

  • Menjelaskan konteks turunnya ayat
  • Membantu memahami maksud ayat
  • Mengetahui persoalan yang sedang terjadi
  • Menghindari kesalahan memahami ayat
  • Membantu memahami penerapan hukum

Contoh

QS. Al-Mujadilah ayat 1 berbicara tentang seorang perempuan yang mengadukan persoalannya kepada Rasulullah ﷺ:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya...”
QS. Al-Mujadilah: 1

Mengetahui konteks persoalan zhihar membantu memahami mengapa ayat tersebut turun dan bagaimana rangkaian ketentuan dalam surat tersebut dipahami.

Apakah sebab turun membatasi makna ayat?

Tidak selalu. Dalam pembahasan usul tafsir dikenal kaidah:

العِبْرَةُ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ
“Yang menjadi pertimbangan adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab.”

Kaidah ini menunjukkan bahwa sebuah ayat yang turun karena peristiwa tertentu dapat memiliki kandungan yang lebih luas apabila lafaznya memang bersifat umum.

7. Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih dan Qira'at

Poin ketujuh mencakup beberapa perangkat penting dalam Ulumul Qur'an yang berkaitan dengan karakter teks, kronologi dan ragam bacaan Al-Qur'an.

A. Nasikh dan Mansukh

Nasikh adalah dalil yang dalam pembahasan nasakh menggantikan atau menghapus ketentuan sebelumnya. Mansukh adalah ketentuan terdahulu yang terkena nasakh.

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا
“Setiap ayat yang Kami nasakh atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.”
QS. Al-Baqarah: 106

Contoh

Pembahasan tentang tahapan ketentuan mengenai khamar sering digunakan untuk menjelaskan perkembangan hukum dalam Al-Qur'an, antara lain QS. Al-Baqarah: 219, QS. An-Nisa': 43 dan QS. Al-Ma'idah: 90–91.

Catatan: Pembahasan nasakh sangat kompleks dan terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai jumlah dan bentuk ayat yang benar-benar mengalami nasakh. Karena itu, penetapan suatu ayat sebagai mansukh harus memiliki dasar ilmiah yang kuat.

B. Muhkam dan Mutasyabih

Allah SWT berfirman:

مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
“Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an, dan yang lain mutasyabih.”
QS. Ali 'Imran: 7

Muhkam secara umum menunjuk kepada ayat yang maknanya jelas dan kokoh.

Mutasyabih berkaitan dengan ayat yang memiliki sisi yang tidak langsung atau tidak mudah dipahami, dengan rincian definisi yang berbeda dalam pembahasan para ulama.

C. Qira'at

Qira'at adalah ragam bacaan Al-Qur'an yang diriwayatkan dan diakui dalam tradisi keilmuan qira'at sesuai kriteria yang ditetapkan para ulama.

Contoh Qira'at

QS. Al-Fatihah ayat 4 memiliki bacaan:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Dan terdapat bacaan:

مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Kedua bacaan tersebut memberikan nuansa makna yang saling melengkapi, yaitu Allah sebagai Pemilik/Penguasa dan Raja pada hari pembalasan.

Contoh Penerapan Perangkat Tafsir Secara Terintegrasi

Sebagai contoh, perhatikan firman Allah:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ
“Dan janganlah kamu mendekati zina.”
QS. Al-Isra': 32

Untuk memahami ayat tersebut secara metodologis, seorang mufasir dapat melakukan beberapa langkah.

  1. Sumber primer: Al-Qur'an menjadi sumber utama.
  2. Tauqifi: mencari penjelasan berdasarkan hadis dan riwayat yang relevan.
  3. Holistik: membaca ayat dalam hubungan dengan ayat sebelum dan sesudahnya serta tema surat.
  4. Bahasa: menganalisis kata لَا تَقْرَبُوا yang secara literal berarti jangan mendekati.
  5. Tafsir dan ta'wil: menjelaskan kandungan ayat berdasarkan metode dan perangkat ilmu tafsir.
  6. Konteks: memahami pesan ayat dalam konteks sosial dan moral Al-Qur'an.
  7. Ulumul Qur'an: memperhatikan perangkat lain yang relevan dalam memahami teks.

Ringkasan 7 Perangkat Tafsir

No. Perangkat Fungsi Utama
1 Al-Qur'an sebagai sumber primer Menetapkan sumber utama dan otoritatif dalam penafsiran.
2 Tauqifi dan Ijtihadi Menentukan sikap metodologis antara riwayat dan penggunaan nalar ilmiah.
3 Holistik/Munasabah Memahami hubungan antarayat, antartema dan keseluruhan Al-Qur'an.
4 Bahasa dan Balaghah Menganalisis kata, struktur kalimat dan gaya bahasa.
5 Makna, Tafsir dan Ta'wil Memahami tingkatan dan bentuk interpretasi teks.
6 Asbab al-Nuzul dan sejarah Memahami konteks historis turunnya ayat.
7 Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih dan Qira'at Memahami karakter teks, kronologi hukum dan ragam bacaan.

Rumus Hafalan untuk Tes S2

SUMBER → SIKAP → METODE → ALAT → TINGKATAN → KONTEKS → KUALIFIKASI

1. Sumber → Al-Qur'an

2. Sikap → Tauqifi dan Ijtihadi

3. Metode → Holistik/Munasabah

4. Alat → Bahasa dan Balaghah

5. Tingkatan → Makna, Tafsir dan Ta'wil

6. Konteks → Asbab al-Nuzul dan sejarah

7. Kualifikasi → Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih dan Qira'at

Kesimpulan

Perangkat tafsir merupakan seperangkat prinsip, metode dan ilmu yang membantu mufasir memahami Al-Qur'an secara tepat dan bertanggung jawab. Penafsiran tidak cukup dilakukan dengan membaca terjemahan, tetapi membutuhkan pemahaman terhadap sumber, metodologi, bahasa, konteks dan karakter teks Al-Qur'an.

Ketujuh perangkat tersebut dapat dipahami sebagai satu rangkaian:

Al-Qur'an sebagai sumber → sikap tauqifi dan ijtihadi → pendekatan holistik → analisis bahasa → pemahaman makna/tafsir/ta'wil → konteks historis → kualifikasi teks.

Kerangka ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa Studi Al-Qur'an dan Tafsir, khususnya dalam memahami metodologi penafsiran dan mempersiapkan diri menghadapi ujian akademik tingkat pascasarjana.

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama