Dalam kajian Studi Al-Qur'an dan Tafsir, seorang mufasir membutuhkan berbagai perangkat keilmuan agar dapat memahami ayat secara tepat, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Perangkat tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks Al-Qur'an, tetapi juga mencakup aspek sumber, metodologi, bahasa, konteks sejarah, serta ilmu-ilmu Al-Qur'an.
Artikel ini membahas 7 perangkat penting dalam penalaran tafsir, yaitu Al-Qur'an sebagai sumber primer, sifat tauqifi dan ijtihadi dalam tafsir, pemahaman holistik melalui munasabah, aspek kebahasaan dan balaghah, perbedaan makna-tafsir-ta'wil, asbab al-nuzul dan konteks historis, serta nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih dan qira'at.
📚 Daftar Isi
- Pengantar Perangkat Tafsir
- Al-Qur'an sebagai Sumber Primer Otentik
- Tafsir Bersifat Tauqifi dan Ijtihadi
- Pemahaman Holistik dan Munasabah
- Aspek Kebahasaan dan Balaghah
- Membedakan Makna, Tafsir dan Ta'wil
- Asbab al-Nuzul dan Konteks Historis
- Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih dan Qira'at
- Contoh Penerapan Perangkat Tafsir Secara Terintegrasi
- Ringkasan 7 Perangkat Tafsir
- Rumus Hafalan untuk Tes S2
- Kesimpulan
Pengantar Perangkat Tafsir
Tafsir merupakan usaha ilmiah untuk memahami dan menjelaskan kandungan Al-Qur'an. Dalam proses tersebut, mufasir tidak cukup hanya mengandalkan terjemahan. Ia perlu menggunakan berbagai perangkat keilmuan agar penafsiran tidak keluar dari prinsip-prinsip bahasa, riwayat, konteks, dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sumber → Sikap → Metode → Alat → Tingkatan → Konteks → Kualifikasi
1. Al-Qur'an sebagai Sumber Primer Otentik
Al-Qur'an merupakan sumber utama dan otoritatif dalam kajian tafsir. Seluruh proses penafsiran harus menjadikan Al-Qur'an sebagai dasar utama dalam memahami ajaran Islam.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
QS. Al-Hijr: 9
Mengapa Al-Qur'an menjadi sumber primer?
Al-Qur'an menjadi sumber utama bagi berbagai bidang ajaran Islam, antara lain:
- Akidah
- Ibadah
- Akhlak
- Hukum
- Pendidikan
- Sosial
- Ekonomi
- Prinsip kehidupan manusia
Contoh
Al-Qur'an memerintahkan:
“Dan dirikanlah salat.”
QS. Al-Baqarah: 43
Ayat tersebut menjadi dasar kewajiban salat. Adapun rincian seperti jumlah rakaat dan tata cara salat dijelaskan melalui sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
2. Tafsir Bersifat Tauqifi dan Ijtihadi
Dalam proses penafsiran terdapat aspek yang bersumber dari wahyu dan riwayat, serta terdapat ruang bagi kemampuan intelektual mufasir dalam menggunakan perangkat ilmu yang benar.
A. Tauqifi
Tauqifi adalah sesuatu yang didasarkan pada sumber wahyu atau riwayat yang dapat dijadikan landasan. Dalam tafsir, hal ini terutama terlihat pada penafsiran Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, hadis Nabi ﷺ, serta penjelasan sahabat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Contoh
Allah berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman...”
QS. Al-An'am: 82
Kata zulm dalam ayat tersebut dijelaskan dalam riwayat Nabi ﷺ dengan merujuk kepada syirik, sebagaimana QS. Luqman: 13 menyebut syirik sebagai kezaliman yang besar.
B. Ijtihadi
Ijtihadi adalah ruang penggunaan kemampuan intelektual dan metodologis mufasir untuk memahami ayat berdasarkan perangkat ilmu yang benar.
Perangkat tersebut antara lain:
- Nahwu
- Sharaf
- Balaghah
- Munasabah
- Asbab al-nuzul
- Usul fikih
- Qira'at
- Konteks sejarah
Ijtihadi = menggunakan kemampuan ilmiah dengan kaidah yang benar.
3. Pemahaman Holistik dan Munasabah
Pemahaman holistik berarti memahami ayat secara menyeluruh dan tidak memisahkannya dari konteks teks secara sembarangan. Salah satu perangkat yang digunakan adalah munasabah, yaitu hubungan atau keterkaitan antara bagian-bagian dalam Al-Qur'an.
Munasabah dapat berupa hubungan:
- Antarayat
- Antarkelompok ayat
- Antartema
- Awal dan akhir surat
- Antarsurat
Contoh
Allah berfirman:
“Maka celakalah orang-orang yang salat.”
Jika kalimat tersebut dipahami sendirian, seseorang dapat memperoleh kesimpulan yang keliru. Ayat berikutnya menjelaskan:
“(Yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.”
QS. Al-Ma'un: 4–5
Contoh ini menunjukkan pentingnya membaca ayat dalam hubungan dengan ayat sesudahnya.
4. Aspek Kebahasaan dan Balaghah
Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab merupakan salah satu perangkat penting dalam memahami Al-Qur'an.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur'an berbahasa Arab.”
QS. Yusuf: 2
A. Nahwu
Nahwu berkaitan dengan struktur kalimat dan kedudukan kata. Pemahaman nahwu membantu mufasir menentukan fungsi sebuah kata dalam kalimat.
B. Sharaf
Sharaf berkaitan dengan perubahan bentuk kata. Satu akar kata dalam bahasa Arab dapat menghasilkan bentuk kata yang berbeda dan memiliki nuansa makna yang berbeda pula.
Contohnya akar kata:
- عِلْم = ilmu
- عَلِمَ = mengetahui
- عَلَّمَ = mengajarkan
- مُعَلِّم = pengajar
C. Balaghah
Balaghah berkaitan dengan ketepatan, keindahan dan kekuatan penyampaian bahasa. Pembahasannya antara lain meliputi tasybih, isti'arah, majaz, kinayah, ijaz dan ithnab.
Contoh
“Dan kepala telah dipenuhi uban.”
QS. Maryam: 4
Ungkapan tersebut memberikan gambaran yang kuat mengenai penyebaran uban pada kepala. Pemahaman seperti ini membutuhkan kepekaan terhadap gaya bahasa Arab dan balaghah.
5. Membedakan Makna, Tafsir dan Ta'wil
Dalam studi tafsir, istilah makna, tafsir dan ta'wil perlu dipahami secara hati-hati karena para ulama memiliki beberapa penggunaan dan definisi yang berbeda.
A. Makna
Makna adalah kandungan yang dipahami dari suatu kata atau teks.
B. Tafsir
Tafsir secara umum merupakan usaha menjelaskan maksud dan kandungan ayat Al-Qur'an berdasarkan perangkat dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
C. Ta'wil
Ta'wil secara bahasa berkaitan dengan mengembalikan sesuatu kepada makna atau konsekuensi akhirnya. Dalam sejarah ilmu tafsir, istilah ini digunakan dengan pengertian yang beragam.
Sebagian ulama menggunakan istilah tafsir dan ta'wil hampir sebagai sinonim. Sebagian lainnya memberikan perbedaan penggunaan antara keduanya.
Tafsir → penjelasan kandungan teks.
Ta'wil → interpretasi/pengembalian kepada makna tertentu sesuai pendekatan yang digunakan.
6. Asbab al-Nuzul dan Konteks Historis
Asbab al-nuzul berarti sebab atau peristiwa yang berkaitan dengan turunnya suatu ayat. Pengetahuan tentang konteks historis membantu mufasir memahami situasi yang melatarbelakangi turunnya ayat.
Fungsi Asbab al-Nuzul
- Menjelaskan konteks turunnya ayat
- Membantu memahami maksud ayat
- Mengetahui persoalan yang sedang terjadi
- Menghindari kesalahan memahami ayat
- Membantu memahami penerapan hukum
Contoh
QS. Al-Mujadilah ayat 1 berbicara tentang seorang perempuan yang mengadukan persoalannya kepada Rasulullah ﷺ:
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya...”
QS. Al-Mujadilah: 1
Mengetahui konteks persoalan zhihar membantu memahami mengapa ayat tersebut turun dan bagaimana rangkaian ketentuan dalam surat tersebut dipahami.
Apakah sebab turun membatasi makna ayat?
Tidak selalu. Dalam pembahasan usul tafsir dikenal kaidah:
“Yang menjadi pertimbangan adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab.”
Kaidah ini menunjukkan bahwa sebuah ayat yang turun karena peristiwa tertentu dapat memiliki kandungan yang lebih luas apabila lafaznya memang bersifat umum.
7. Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih dan Qira'at
Poin ketujuh mencakup beberapa perangkat penting dalam Ulumul Qur'an yang berkaitan dengan karakter teks, kronologi dan ragam bacaan Al-Qur'an.
A. Nasikh dan Mansukh
Nasikh adalah dalil yang dalam pembahasan nasakh menggantikan atau menghapus ketentuan sebelumnya. Mansukh adalah ketentuan terdahulu yang terkena nasakh.
“Setiap ayat yang Kami nasakh atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.”
QS. Al-Baqarah: 106
Contoh
Pembahasan tentang tahapan ketentuan mengenai khamar sering digunakan untuk menjelaskan perkembangan hukum dalam Al-Qur'an, antara lain QS. Al-Baqarah: 219, QS. An-Nisa': 43 dan QS. Al-Ma'idah: 90–91.
B. Muhkam dan Mutasyabih
Allah SWT berfirman:
“Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an, dan yang lain mutasyabih.”
QS. Ali 'Imran: 7
Muhkam secara umum menunjuk kepada ayat yang maknanya jelas dan kokoh.
Mutasyabih berkaitan dengan ayat yang memiliki sisi yang tidak langsung atau tidak mudah dipahami, dengan rincian definisi yang berbeda dalam pembahasan para ulama.
C. Qira'at
Qira'at adalah ragam bacaan Al-Qur'an yang diriwayatkan dan diakui dalam tradisi keilmuan qira'at sesuai kriteria yang ditetapkan para ulama.
Contoh Qira'at
QS. Al-Fatihah ayat 4 memiliki bacaan:
Dan terdapat bacaan:
Kedua bacaan tersebut memberikan nuansa makna yang saling melengkapi, yaitu Allah sebagai Pemilik/Penguasa dan Raja pada hari pembalasan.
Contoh Penerapan Perangkat Tafsir Secara Terintegrasi
Sebagai contoh, perhatikan firman Allah:
“Dan janganlah kamu mendekati zina.”
QS. Al-Isra': 32
Untuk memahami ayat tersebut secara metodologis, seorang mufasir dapat melakukan beberapa langkah.
- Sumber primer: Al-Qur'an menjadi sumber utama.
- Tauqifi: mencari penjelasan berdasarkan hadis dan riwayat yang relevan.
- Holistik: membaca ayat dalam hubungan dengan ayat sebelum dan sesudahnya serta tema surat.
- Bahasa: menganalisis kata لَا تَقْرَبُوا yang secara literal berarti jangan mendekati.
- Tafsir dan ta'wil: menjelaskan kandungan ayat berdasarkan metode dan perangkat ilmu tafsir.
- Konteks: memahami pesan ayat dalam konteks sosial dan moral Al-Qur'an.
- Ulumul Qur'an: memperhatikan perangkat lain yang relevan dalam memahami teks.
Ringkasan 7 Perangkat Tafsir
| No. | Perangkat | Fungsi Utama |
|---|---|---|
| 1 | Al-Qur'an sebagai sumber primer | Menetapkan sumber utama dan otoritatif dalam penafsiran. |
| 2 | Tauqifi dan Ijtihadi | Menentukan sikap metodologis antara riwayat dan penggunaan nalar ilmiah. |
| 3 | Holistik/Munasabah | Memahami hubungan antarayat, antartema dan keseluruhan Al-Qur'an. |
| 4 | Bahasa dan Balaghah | Menganalisis kata, struktur kalimat dan gaya bahasa. |
| 5 | Makna, Tafsir dan Ta'wil | Memahami tingkatan dan bentuk interpretasi teks. |
| 6 | Asbab al-Nuzul dan sejarah | Memahami konteks historis turunnya ayat. |
| 7 | Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih dan Qira'at | Memahami karakter teks, kronologi hukum dan ragam bacaan. |
Rumus Hafalan untuk Tes S2
SUMBER → SIKAP → METODE → ALAT → TINGKATAN → KONTEKS → KUALIFIKASI
1. Sumber → Al-Qur'an
2. Sikap → Tauqifi dan Ijtihadi
3. Metode → Holistik/Munasabah
4. Alat → Bahasa dan Balaghah
5. Tingkatan → Makna, Tafsir dan Ta'wil
6. Konteks → Asbab al-Nuzul dan sejarah
7. Kualifikasi → Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih dan Qira'at
Kesimpulan
Perangkat tafsir merupakan seperangkat prinsip, metode dan ilmu yang membantu mufasir memahami Al-Qur'an secara tepat dan bertanggung jawab. Penafsiran tidak cukup dilakukan dengan membaca terjemahan, tetapi membutuhkan pemahaman terhadap sumber, metodologi, bahasa, konteks dan karakter teks Al-Qur'an.
Ketujuh perangkat tersebut dapat dipahami sebagai satu rangkaian:
Kerangka ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa Studi Al-Qur'an dan Tafsir, khususnya dalam memahami metodologi penafsiran dan mempersiapkan diri menghadapi ujian akademik tingkat pascasarjana.

Posting Komentar
Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com