Sifat Orang Munafik dalam Al-Qur’an : Larangan Najwa dan Pembinaan Orang Beriman II Surah Al-Mujādilah Ayat 8–10

GemaDakwah — Menyebar Ilmu, Menebar Kebaikan


Ringkasan: Materi ini membahas sifat orang-orang munafik, larangan melakukan najwa untuk tujuan dosa dan permusuhan, adab bermusyawarah, serta pentingnya tawakal kepada Allah berdasarkan QS. Al-Mujadilah ayat 8–10.

1. Pendahuluan

Materi ini membahas sifat orang-orang munafik dan bagaimana kaum mukmin dibina agar memiliki akhlak yang benar dalam kehidupan berjamaah.

Salah satu perilaku yang dibahas adalah najwa, yaitu pembicaraan secara rahasia antara beberapa orang yang tidak melibatkan orang lain.

Najwa tidak selalu terlarang. Hukumnya bergantung kepada tujuan dan isi pembicaraan. Islam melarang pembicaraan rahasia apabila digunakan untuk melakukan dosa, permusuhan, menyakiti orang lain, atau menentang Rasulullah ﷺ.

Sebaliknya, pembicaraan rahasia yang bertujuan kepada kebaikan dan ketakwaan diperbolehkan.

2. Ayat Al-Qur’an tentang Najwa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

QS. Al-Mujadilah: 9

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu berbicara secara rahasia, janganlah kamu berbicara rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Tetapi berbicaralah rahasia untuk berbuat kebajikan dan ketakwaan. Bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.”

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

QS. Al-Mujadilah: 10

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanyalah dari setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati. Namun dia tidak akan membahayakan mereka sedikit pun kecuali dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.”

3. Terjemah Makna Ayat

Ayat-ayat ini menjelaskan keadaan sebagian orang yang sebelumnya telah dilarang melakukan pembicaraan rahasia untuk tujuan buruk, tetapi mereka tetap mengulangi perbuatan tersebut.

Mereka melakukan pembicaraan yang mengandung dosa, permusuhan, dan pembangkangan terhadap Rasulullah ﷺ.

Allah kemudian mengingatkan kaum mukmin agar tidak mengikuti perilaku tersebut. Apabila mereka perlu berbicara secara rahasia, pembicaraan tersebut hendaknya diarahkan kepada al-birr (kebaikan) dan at-taqwa (ketakwaan).

Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa setan berusaha menimbulkan kesedihan dan kegelisahan di hati orang-orang beriman.

Namun orang beriman tidak boleh takut secara berlebihan. Setan tidak dapat memberikan mudarat kepada seorang mukmin kecuali dengan izin Allah. Karena itu, seorang mukmin harus menggantungkan hatinya kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya.

4. Sifat Orang Munafik

Dari materi ini dapat diketahui beberapa sifat buruk yang terdapat pada orang-orang munafik, di antaranya:

  • Mengulangi perbuatan yang telah dilarang.
  • Melakukan pembicaraan rahasia untuk tujuan dosa dan permusuhan.
  • Berusaha mengganggu dan menyakiti orang-orang beriman.
  • Menentang aturan dan arahan Rasulullah ﷺ.
  • Menyembunyikan keburukan di dalam hati.
  • Berusaha melemahkan persatuan kaum muslimin.
  • Menyebarkan keresahan dan keraguan.

5. Pembinaan dan Sikap Rasulullah ﷺ

Menghadapi orang-orang yang memiliki sifat buruk membutuhkan hikmah dan pembinaan. Rasulullah ﷺ membina masyarakat dengan memberikan nasihat, menjelaskan prinsip-prinsip agama, menanamkan keikhlasan, serta membangun persatuan.

Dalam kehidupan berjamaah, kaum muslimin juga diperintahkan untuk menjaga adab dalam bermusyawarah, menjaga rahasia yang memang perlu dirahasiakan, serta menghindari tindakan yang dapat merusak persatuan.

6. Larangan Najwa yang Mengandung Keburukan

Tidak semua pembicaraan rahasia dilarang. Yang dilarang adalah pembicaraan rahasia yang mengandung unsur keburukan.

  1. Al-Itsm (الإثم) — dosa dan perbuatan yang melanggar syariat.
  2. Al-'Udwan (العدوان) — permusuhan dan tindakan melampaui batas terhadap orang lain.
  3. Ma'shiyat ar-Rasul (معصية الرسول) — pembangkangan terhadap Rasulullah ﷺ.

Dengan demikian, pembicaraan rahasia tidak boleh menjadi sarana untuk merencanakan keburukan, menimbulkan permusuhan, menyebarkan fitnah, atau merusak persatuan kaum muslimin.

7. Najwa yang Diperbolehkan

Islam tidak mengharamkan seluruh pembicaraan rahasia. Pembicaraan rahasia diperbolehkan apabila memiliki tujuan yang baik.

  • Merencanakan suatu kebaikan.
  • Menyelesaikan masalah secara bijaksana.
  • Menjaga rahasia yang memang harus dijaga.
  • Memberikan nasihat kepada seseorang secara pribadi.
  • Membahas urusan penting yang membutuhkan kerahasiaan.
  • Melakukan musyawarah untuk kemaslahatan.
Prinsip penting: Yang menjadi pertimbangan bukan sekadar rahasianya, tetapi tujuan dan isi pembicaraan tersebut.

8. Bahaya Membuat Orang Beriman Bersedih

Salah satu pelajaran penting dari ayat ini adalah larangan melakukan sesuatu yang sengaja membuat orang beriman merasa takut, sedih, atau gelisah tanpa alasan yang dibenarkan.

Pembicaraan rahasia yang dilakukan di hadapan seseorang tanpa melibatkannya dapat menimbulkan prasangka dan kesedihan. Karena itu, seorang muslim hendaknya mempertimbangkan dampak perkataannya terhadap orang lain.

9. Tawakal kepada Allah

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.”

Seorang mukmin harus tetap tenang ketika menghadapi gangguan, bisikan, atau rencana buruk dari orang lain.

Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Seorang muslim tetap mengambil sebab yang dibenarkan syariat, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

10. Pelajaran yang Dapat Diambil

  1. Seorang muslim harus menjauhi sifat-sifat orang munafik.
  2. Pembicaraan rahasia harus digunakan untuk tujuan yang baik.
  3. Najwa untuk dosa dan permusuhan adalah perbuatan tercela.
  4. Islam mengajarkan kaum muslimin untuk menjaga persatuan.
  5. Musyawarah harus dilakukan dengan adab dan tujuan yang benar.
  6. Jangan menggunakan pembicaraan rahasia untuk menimbulkan keresahan.
  7. Seorang muslim hendaknya menjaga perasaan dan kehormatan saudaranya.
  8. Setan berusaha menimbulkan kesedihan dan keraguan dalam hati orang beriman.
  9. Orang beriman harus memperkuat tawakal kepada Allah.
  10. Kemaslahatan kaum muslimin harus diperhatikan dalam kehidupan berjamaah.

11. Evaluasi dan Jawaban

Soal 1. Apa yang dimaksud dengan النجوى (najwa)? Kapan diharamkan dan kapan diperbolehkan?

Jawaban: Najwa adalah pembicaraan secara rahasia antara dua orang atau lebih.

Najwa menjadi terlarang apabila digunakan untuk melakukan dosa, permusuhan, pembangkangan kepada Rasulullah ﷺ, atau tujuan lain yang merusak dan menyakiti kaum muslimin.

Najwa diperbolehkan apabila dilakukan untuk tujuan yang baik, seperti musyawarah, nasihat, menjaga rahasia, menyelesaikan masalah, atau merencanakan suatu kemaslahatan.

Soal 2. Tanasji (التناجي) merupakan salah satu sifat orang munafik. Jelaskan!

Jawaban: Tanasji atau saling berbicara secara rahasia menjadi sifat tercela apabila digunakan oleh orang-orang munafik untuk merencanakan keburukan, melakukan permusuhan, menentang Rasulullah ﷺ, atau membuat orang beriman merasa sedih dan gelisah.

Namun, sekadar berbicara secara rahasia tidak otomatis menjadi sifat kemunafikan. Hukumnya bergantung pada tujuan dan isi pembicaraan.

Soal 3. Apa akibat buruk dari najwa terhadap individu dan masyarakat?

Jawaban:

  • Menimbulkan kesedihan dan kegelisahan.
  • Menimbulkan prasangka buruk.
  • Memicu permusuhan.
  • Menyebabkan perpecahan.
  • Menghilangkan kepercayaan.
  • Merusak persatuan kaum muslimin.
  • Dapat menjadi sebab munculnya fitnah dan konflik.

12. Kesimpulan

QS. Al-Mujadilah ayat 8–10 memberikan pelajaran penting tentang adab dalam berkomunikasi dan kehidupan berjamaah.

Islam tidak melarang seluruh pembicaraan rahasia. Yang dilarang adalah pembicaraan rahasia yang mengandung dosa, permusuhan, pembangkangan, atau bertujuan menyakiti orang beriman.

Sebaliknya, pembicaraan rahasia yang digunakan untuk kebaikan, nasihat, musyawarah, menjaga rahasia, dan kemaslahatan diperbolehkan.

Seorang mukmin hendaknya menjauhi sifat-sifat orang munafik, menjaga persatuan, memperhatikan perasaan sesama muslim, serta senantiasa bertawakal kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga lisan, memperbaiki akhlak, mencintai persatuan kaum muslimin, dan senantiasa bertawakal kepada-Nya.

📌 Catatan GemaDakwah

Sumber: في نور الإسلام — محمود أبو رية
Jilid: الأول — Jilid Pertama

GemaDakwah
Menyebar Ilmu, Menebar Kebaikan

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama