Istilah durhaka kepada orang tua dalam bahasa Arab dikenal dengan 'uququl walidain (عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ). Secara umum, istilah ini mencakup berbagai bentuk perkataan maupun perbuatan yang menyakiti orang tua atau mengabaikan hak mereka secara tidak benar.
Islam tidak hanya mengajarkan anak untuk memenuhi kebutuhan orang tua, tetapi juga menjaga ucapan, sikap, dan perasaan mereka. Namun demikian, berbakti kepada orang tua tetap berada dalam batas ketaatan kepada Allah. Jika orang tua memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, seorang anak tidak boleh menaati perintah tersebut, tetapi tetap wajib memperlakukan keduanya dengan baik.
📚 Daftar Isi
- Pengertian Durhaka kepada Orang Tua
- Kedudukan Berbakti kepada Orang Tua dalam Islam
- Bentuk-Bentuk Durhaka kepada Orang Tua
- Bermuka Masam dan Membentak Orang Tua
- Mencela dan Mengumpat Orang Tua
- Menelantarkan dan Berlaku Kasar
- Tidak Menaati Orang Tua dalam Kebaikan
- Nasihat Penting tentang Ketaatan kepada Orang Tua
- Cara Berbakti kepada Orang Tua
- Kesimpulan
- Referensi
1. Pengertian Durhaka kepada Orang Tua
Dalam bahasa Arab, durhaka kepada orang tua disebut 'uququl walidain (عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ). Istilah ini berkaitan dengan sikap menyakiti, mengabaikan, atau melanggar hak orang tua dengan cara yang tidak dibenarkan.
Bentuknya tidak selalu berupa tindakan besar. Perkataan yang kasar, membentak, mempermalukan, menghina, sengaja menyakiti hati, atau mengabaikan kebutuhan orang tua juga dapat menjadi perilaku yang bertentangan dengan ajaran berbakti.
Berbakti kepada orang tua bukan hanya dilakukan ketika mereka sudah lanjut usia. Sikap hormat, perhatian, dan kasih sayang sebaiknya dibiasakan sejak sekarang.
2. Kedudukan Berbakti kepada Orang Tua dalam Islam
Setelah memerintahkan manusia untuk menyembah Allah, Al-Qur'an menyebutkan kewajiban berbuat baik kepada orang tua.
Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."
QS. Al-Isra' ayat 23Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga perkataan kepada orang tua. Bahkan ungkapan yang menunjukkan kejengkelan pun dilarang apabila ditujukan kepada mereka dalam konteks yang disebutkan ayat tersebut.
3. Bentuk-Bentuk Durhaka kepada Orang Tua
Durhaka dapat muncul dalam berbagai bentuk. Tidak semuanya berupa tindakan fisik. Karena itu, seorang Muslim perlu memperhatikan perkataan, sikap, dan perlakuannya terhadap ayah dan ibunya.
- Membentak atau berbicara kasar.
- Menghina atau mencela.
- Sengaja menyakiti perasaan orang tua.
- Mengabaikan kebutuhan mereka tanpa alasan yang benar.
- Bersikap kasar ketika mereka membutuhkan bantuan.
- Merendahkan orang tua karena usia atau kondisi mereka.
- Menolak nasihat yang baik dengan cara yang tidak sopan.
- Menjadi sebab orang lain mencela orang tua.
4. Bermuka Masam dan Membentak Orang Tua
Salah satu bentuk adab yang harus dijaga adalah cara berbicara kepada orang tua. Seorang anak mungkin memiliki perbedaan pendapat dengan ayah atau ibunya, tetapi perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk berkata kasar atau membentak.
Allah secara khusus melarang perkataan "uff" dan membentak orang tua dalam QS. Al-Isra' ayat 23. Larangan tersebut mengajarkan kepada kita bahwa komunikasi dengan orang tua harus dilakukan dengan penuh penghormatan.
Imam At-Thabari menjelaskan bahwa seorang anak hendaknya bersabar menghadapi kondisi orang tuanya dan mengharapkan pahala dari kesabarannya, sebagaimana orang tua dahulu bersabar dalam merawat anak ketika masih kecil.
Dengan demikian, ketika muncul rasa kesal, seorang anak sebaiknya menahan diri, memilih kata yang baik, dan memberikan waktu sebelum menjawab.
5. Mencela dan Mengumpat Orang Tua
Nabi ﷺ memberikan peringatan keras terhadap perbuatan yang menyebabkan seseorang mencela orang tuanya.
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa termasuk dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya.
Para sahabat bertanya bagaimana mungkin seseorang mencela orang tuanya sendiri. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa seseorang dapat menjadi sebab orang lain mencela ayah atau ibunya, misalnya dengan terlebih dahulu mencela orang tua orang lain.
HR. Bukhari dan Muslim.
Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa seorang Muslim tidak hanya dilarang mencela orang tua secara langsung, tetapi juga dilarang melakukan tindakan yang secara wajar dapat menjadi sebab orang tuanya dicela.
Ini merupakan contoh penting dari prinsip menutup jalan menuju perbuatan yang dilarang. Karena itu, menjaga lisan bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menjaga kehormatan keluarga.
6. Menelantarkan dan Berlaku Kasar terhadap Orang Tua
Ketika orang tua memasuki usia lanjut, mereka dapat membutuhkan perhatian yang lebih besar. Anak hendaknya berusaha memberikan bantuan sesuai kemampuan, baik dalam bentuk waktu, tenaga, perhatian, maupun kebutuhan sehari-hari.
Berbakti tidak selalu berarti seorang anak harus tinggal serumah dengan orang tua. Dalam keadaan tertentu, tinggal terpisah dapat menjadi pilihan yang baik. Yang terpenting adalah kebutuhan dan keselamatan orang tua tetap diperhatikan.
Jika kondisi keluarga membutuhkan bantuan pengasuhan profesional atau fasilitas perawatan, keputusan tersebut sebaiknya dipertimbangkan dengan penuh tanggung jawab dan tidak didasarkan semata-mata pada keinginan untuk menghindari kewajiban.
Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus terhadap kewajiban berbuat baik kepada ibu, kemudian ayah, dan kerabat yang paling dekat.
HR. Ibnu Majah7. Tidak Menaati Orang Tua dalam Kebaikan
Berbakti kepada orang tua termasuk kewajiban yang sangat besar. Namun, ketaatan kepada manusia tetap berada di bawah ketaatan kepada Allah.
Karena itu, apabila orang tua memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam, seorang anak tidak boleh menaati perintah tersebut. Meski demikian, ia tetap harus berbicara dengan sopan dan memperlakukan orang tuanya dengan baik.
Prinsip ini penting agar seorang anak tidak memahami berbakti sebagai ketaatan tanpa batas. Islam menggabungkan dua hal: ketaatan kepada Allah dan berbuat baik kepada orang tua.
Tidak menaati perintah yang salah bukan berarti boleh bersikap kasar kepada orang tua. Penolakan tetap harus disampaikan dengan cara yang santun.
8. Nasihat Penting tentang Ketaatan kepada Orang Tua
Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar yang sangat berat bagi orang yang mendapatkan kesempatan berbakti kepada orang tua ketika mereka sudah lanjut usia tetapi tidak memanfaatkannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan lanjut usia, tetapi kesempatan tersebut tidak membuatnya masuk surga.
HR. MuslimHadis tersebut menunjukkan bahwa keberadaan orang tua merupakan kesempatan besar untuk memperoleh pahala melalui pelayanan, kasih sayang, doa, dan perhatian.
Namun kita juga perlu berhati-hati dalam memahami musibah kehidupan. Tidak setiap kecelakaan, penyakit, atau kesulitan yang dialami seseorang dapat dipastikan sebagai hukuman Allah akibat durhaka. Penilaian semacam itu membutuhkan dalil dan tidak boleh dilakukan berdasarkan dugaan.
9. Cara Berbakti kepada Orang Tua
Berbakti kepada orang tua dapat dilakukan dengan berbagai cara, sesuai kondisi dan kemampuan setiap anak.
- Berbicara dengan lembut dan sopan.
- Mendengarkan ketika mereka berbicara.
- Membantu pekerjaan yang mereka perlukan.
- Memenuhi kebutuhan mereka sesuai kemampuan.
- Mengunjungi atau menghubungi mereka secara rutin.
- Mendoakan kebaikan bagi mereka.
- Menjaga nama baik keluarga.
- Menghindari tindakan yang sengaja menyakiti hati mereka.
- Menghormati pendapat mereka meskipun tidak selalu harus menyetujuinya.
- Tetap berbuat baik ketika terjadi perbedaan pendapat.
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya: "Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika aku masih kecil."
QS. Al-Isra': 24Refleksi untuk Anak
Ada kalanya seorang anak merasa bahwa nasihat orang tua terlalu banyak atau tidak sesuai dengan keinginannya. Dalam keadaan seperti itu, kita tetap dapat menjaga adab. Perbedaan pendapat dapat disampaikan dengan tenang tanpa merendahkan mereka.
Sebelum menjawab perkataan orang tua dengan emosi, cobalah berhenti sejenak dan bertanya:
- Apakah perkataan saya akan menyakiti mereka?
- Apakah saya sudah berbicara dengan sopan?
- Apakah saya benar-benar memahami maksud mereka?
- Apakah masalah ini dapat diselesaikan dengan cara yang lebih lembut?
Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu seorang anak mengendalikan emosi dan menjaga hubungan dengan orang tua.
Catatan Editorial GemaDakwah
Artikel ini disusun kembali oleh GemaDakwah sebagai materi edukasi tentang birrul walidain dan larangan durhaka kepada orang tua. Beberapa penjelasan ditambahkan untuk membantu pembaca memahami ayat dan hadis dalam konteks kehidupan sehari-hari.
GemaDakwah juga menekankan pentingnya membedakan antara ajaran yang memiliki dalil yang jelas dengan kesimpulan pribadi. Karena itu, musibah seperti kecelakaan atau penyakit tidak sepatutnya langsung dinyatakan sebagai hukuman Allah kepada seseorang tanpa dalil yang jelas.
Tujuan artikel ini adalah mengajak pembaca memperbaiki hubungan dengan orang tua, menjaga lisan, dan menjadikan berbakti sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim.
10. Kesimpulan
Durhaka kepada orang tua merupakan perilaku yang harus dijauhi oleh seorang Muslim. Bentuknya dapat berupa perkataan kasar, membentak, mencela, merendahkan, menyakiti, menelantarkan, atau melakukan tindakan yang menyebabkan kehormatan orang tua direndahkan.
Sebaliknya, berbakti kepada orang tua dapat diwujudkan melalui perkataan yang lembut, perhatian, bantuan, penghormatan, doa, dan pelayanan sesuai kemampuan.
Ketika terjadi perbedaan pendapat, seorang anak tidak harus selalu menyetujui semua keinginan orang tua. Namun, perbedaan tersebut harus disampaikan dengan cara yang baik. Ketaatan kepada Allah tetap menjadi prinsip utama, sementara berbuat baik kepada orang tua tetap harus dijaga.
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita anak-anak yang berbakti, menjaga lisan, menghormati orang tua, serta mampu membalas kebaikan mereka dengan amal terbaik.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
11. Referensi
Referensi berikut dapat digunakan sebagai bahan bacaan lanjutan untuk memahami pembahasan tentang birrul walidain, adab kepada orang tua, dan penjelasan ayat maupun hadis yang berkaitan:
- Al-Qur'an Al-Karim, khususnya QS. Al-Isra' ayat 23–24.
- Shahih al-Bukhari.
- Shahih Muslim.
- Sunan Ibnu Majah.
- Tafsir Ath-Thabari.
- Tafsir As-Sa'di.
- Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi.
Sumber Materi
Materi dasar artikel ini berasal dari bahan kajian yang kemudian disusun, diperjelas, dan diberi tambahan konteks oleh GemaDakwah. Penyusunan ulang dilakukan agar pembahasan lebih mudah dipahami dan memberikan manfaat praktis bagi pembaca.
Menyajikan kajian Islam, Al-Qur'an, hadis, fikih, akidah, akhlak, tafsir, dan dakwah dengan bahasa yang mudah dipahami.
Semoga setiap ilmu yang dibagikan menjadi amal yang bermanfaat.

Posting Komentar
Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com