728x90 AdSpace

[URL=http://www.4shared.com/document/zgFNm5ZSce/___-__.html]هل ترانا نلتقي - رامي محمد.swf[/URL]
Latest News
Tuesday, 11 November 2014

Menunggu Nasib Ahok

Tarqiyah : Terkait fenomena penolakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) belakangan ini saya mencoba untuk membacanya dengan tidak serta merta 'saklek' dalam sudut pandang konstitusional atau tidak. Tapi lebih pada tingkat penerimaan oleh masyarakat socio-politics.

Bagaimana pun, pada pemilihan gubernur (pilgub) DKI Jakarta 2012 yang lalu juga banyak yang tidak memilih Ahok. Di putaran kedua, yang memilih pasangan Foke-Nara sudah pasti tidak memilih Ahok. Dan yang memilih pasangan Jokowi Ahok (Jokohok) pun belum tentu karena suka Ahok. Banyak yang lebih karena faktor Jokowinya. Ibaratnya, Ahok ini mendapat durian runtuh.

Ahok terpilih karena popularitas Jokowi waktu itu. Ditambah dengan kemasan kampanye yg di-endorse oleh media-media besar. Maka terpilih lah pasangan Jokohok utk mengurus DKI. Sebagian warga Jakarta 'terhipnotis' dengan hebatnya Jokowi di media. Jokowi adalah harapan utk DKI Jakarta. Itulah harapan sebagian warga Jakarta.

Sayangnya, sebelum Jokowi benar-benar dapat menjawab harapan warga DKI itu, beliau lebih memilih mengejar jabatan yg lebih tinggi. Maka tinggallah Ahok seorang diri. Yang secara 'syah' menurut Ahok sudah pasti langsung menjadi pelaksana tugas (plt) gubernur DKI. Sementara menurut penolak, secara perundangan sebagaimana dalam pasal 173 ayat (1) Perppu Pilkada, menegaskan bahwa dalam hal kepala daerah berhalangan tetap, maka wakil kepala daerah tidak serta merta bisa menggantikan.

Selanjutnya, pada pasal 174 ayat (2) dalam peraturan perundang-undangan yang sama, mengatur mekanisme pemilihan gubernur harus melalui DPR apabila sisa masa jabatan gubernur berhenti atau dihentikan dan sisa masa jabatan lebih dari 18 bulan.

Menurut warga Jakarta (yang menolak), Ahok ini menjadi plt gubernur lebih karena 'kondisi' bukan karena preferensi warga. Maka, fenomena demo besar menolak Ahok di hari-hari belakangan ini menjadi tampak menemukan 'alasannya'. Mereka merasa tidak pernah memilih Ahok sebagai gubernur. Itu alasannya.

Selanjutnya, secara konstitusi kita tinggal tunggu prosesnya, apakah Ahok otomatis menjadi gubernur atau celah hukum yang ada bisa memberikan peluang mengangkat gubernur lain sebagai hak dari partai pengusung (PDIP + Gerindra) untuk memnberikan nama pengganti Joko Widodo. (keyakinan saya, akan ada UU yang diajukan ke MK terkait ini).

Dengan demikian, kita kembalikan saja fenomena ketegangan antara Ahok dan penolak ini pada prinsip kepemimpinan efektif. Secara teori, kepemimpinan efektif itu terjadi jika pemimpinnya memiliki faktor-faktor prinsipil seperti berikut: Integrity, Capability, Credibility, and Acceptability.

Integrity? Ahok masih 'baru' dari sisi waktu untuk benar-benar membuktikan dirinya sbg pejabat yg berintegritas.
Capability? Harusnya sudah punya, setidaknya memiliki pengalaman memimpin di Belitung beberapa tahun silam.
Credibility? Ini dapat diuji seiring dengan masa jabatannya.
Acceptability? Nah, ini nampaknya yang menjadi masalah. Bukan hanya karena sentimen SARA, tapi juga disebabkan oleh karakter Ahok sendiri yang sering tampak 'arogan'. Ditambah dengan dalil pasal 173 dan pasal 174 dalam perppu PILKADA. Jika jernih melihatnya, prinsip akseptabilitas ini memang belum sepenuhnya dimiliki oleh Ahok.

Fenomena ini adalah permainan dalam demokrasi. Sekaligus ujian kepemimpinan Ahok. Juga sebagai proses pendewasaan kita dalam berbangsa dan bernegara. Jadi Ahok tidak perlu berlebihan menyikapinya. Sampai-sampai ingin membubarkan FPI. Padahal yang menolak Ahok dalam demo besar kemarin itu bukan hanya dari FPI, tapi ada juga kelompok masyarakat yang menamakan dirinya sebagai GMJ (Gerakan Masyarakat Jakarta).

Mari kita lihat apa yang akan terjadi dalam beberapa waktu yang akan datang. Akankah kehendak sejarah lebih saklek pada tekstual konstitusi atau juga rasional dalam menerima konsep akseptabilitas?
Satu hal yang pasti yg kita inginkan adalah agar suasana tenang dan damai tetap harus tercipta di ibu kota negara dan juga di seluruh wilayah NKRI. InsyaAllah. *picture is powered by google (Feri Susanto / PIN BBM: 221A8441)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Kontak Gema Dakwah : admin@gemadakwa.com

Item Reviewed: Menunggu Nasib Ahok Rating: 5 Reviewed By: Tarqiyah Online