728x90 AdSpace

[URL=http://www.4shared.com/document/zgFNm5ZSce/___-__.html]هل ترانا نلتقي - رامي محمد.swf[/URL]
Latest News
Tuesday, 30 September 2014

Di Papua Banyak yang Mati Karena Pilkada Langsung

TarqiyahWACANA tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dikembalikan ke sistem perwakilan atau dipilih DPRD, banyak menimbulkan pro dan kontra. Sebagian pihak menilai wacana tersebut merupakan upaya pembajakan kedaualatan rakyat. Ada pula yang menilai ide itu untuk menghambat pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Maka tak heran kalau hasil survey LSI (Lingkar Survey Indonesia) tanggal 5-7 September 2014 menunjukkan 81,25 persen responden setuju Pilkada langsung tetap dilanjutkan, hanya 10,71 persen yang setuju dengan Pilkada oleh DPRD. (Republika, 10 September 2014).
Masih terkait pro-kontra tersebut, Selasa (9/9/2014) sejumlah tokoh masyarakat asal Papua mendatangi DPR RI di Senayan menyatakan dukungan terhadap Pilkada tidak langsung. Kalaupun nantinya secara nasional tidak setuju Pilkada oleh DPRD, mereka minta perlakuan khusus untuk wilayah Papua diterapkan Pilkada tidak langsung dimana DPR Papua yang memilih Bupati dan Gubernur.
Perlakuan khusus tesebut agar diformalkan dalam revisi Undang-undang Otsus Papua yang kini tengah dibahas DPR RI. Alasannya, kata Basir Rohrohmana (Ketua rombongan yang juga Dosen Ilmu Politik Universitas Cendrawasih Jayapura), karena setiap kali Pilkada selalu menimbulkan banyak konflk dan korban,sampai-sampai merusak tatanan adat dan keluarga di Papua.
Menurutnya, Pilkada langsung di Papua lebih banyak mudharatnya. Bukan cuma menelan biaya besar tapi juga memakan korban jiwa. “Di Papua banyak yang mati karena Pilkada langsung. Kemudian rentan dengan perang suku,” jelasnya, sebagaimana dirilis JPNN.com.
Pilkada Langsung telah melahirkan ratusan koruptor. Selama 10 tahun terakhir sejak Pilkada dilaksanakan (Juni 2005, sebagai pelaksanaan dari UU No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah) sudah ratusan kader-kader terbaik bangsa yang rusak moralnya lantaran tak tahan atas godaan korupsi. Menurut data KPK, hingga awal September 2014, tercatat ada 332 kepala daerah produk Pilkada Langsung menjadi tersangka. 86 persen di antaranya karena kasus korups. Maka tak heran kalau hasil kompilasi dari berbagai instansi menunjukkan indeks pembanguan pasca-pilkda langsung lebih buruk daripada pilkada tidak langsung (DPR yang memilih Bupati/Walikota/Gubernur). Bahkan lebih buruk di bawah 40 persen. http://news.okezone.com/read/2014/09/07/339/1035382/332-produk-pilkada-langsung-terjerat-kasus-hukum
Maka, terlepas dari berbagai kecurigaan terkait wacana mengembalikan proses dan mekanisme Pilkada dari Pilkada langsung oleh rakyat kepada Pilkada melalui sistem perwakilan (dipilih oleh DPRD), ada baiknya elit-elit politik bersama para akademisi ahli tata negara melakukan kajian secara obyektif. Karena sejatinya Pilkada adalah bagian dari sistem politik di daerah.
Sistem dan mekanisme pilkada adalah juga bagian dari sistem politik di daerah. Pemilihan secara langsung atau melalui sistem perwakilan hanyalah mekanisme yang suatu saat dapat dievaluasi untuk diperbaiki atau diubah.
Mungkin saja di dalam wacana Pilkada oleh DPRD ada terselip kepentingan politik kelompok tertentu, sebut saja kelompok Koalisi Merah-Putih untuk memenangkan kursi Kepala Daerah secara mayoritas di berbagai daerah, namun politik tak selamanya buruk sesuai anggapan negatif yang terlanjur dilekatkan kepadanya, bahwa ‘politik itu kotor’.
Mungkin saja di balik kepentingan politik kelompok tertentu itu, tersimpan kepentingan jangka bagi upaya pembenahan bangsa dan negara tercinta yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Lagi pula, koalisi dan oposisi itu tidaklah abadi, sebagaimana adagium populer : “tiada musuh atau teman yang abadi dalam politik, kecuali kepentingan”.(inilah)
* Gerry Setiawan  Wallahu A‘lam.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Kontak Gema Dakwah : admin@gemadakwa.com

Item Reviewed: Di Papua Banyak yang Mati Karena Pilkada Langsung Rating: 5 Reviewed By: Tarqiyah Online