728x90 AdSpace

[URL=http://www.4shared.com/document/zgFNm5ZSce/___-__.html]هل ترانا نلتقي - رامي محمد.swf[/URL]
Latest News
Friday, 7 March 2014

Ranu Pani, Desa Permai di Antara Semeru-Bromo yang Terancam Bencana dan Kristenisasi

Tarqiyah : Berada pada posisi di antara Gunung Semeru dan Gunung Bromo, dua gunung berapi yang sangat aktif yang belakangan ini berstatus Waspada. Itulah Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sebuah desa pada permai berhawa sejuk berada di ketinggian 2.100-2.200 meter dari permukaan laut (mdpl). Berada pada posisi senantiasa berbahaya dalam himpitan ancaman bencana gunung berapi. Berpenduduk Suku Tengger yang Hindu, berkembang menjadi mayoritas Islam, dan kini terancam gerusan Kristenisasi
 
Ranu Pani-- adapula yang menyebut dengan Ranu Pane. Nama tersebut diambil dari nama satu dari empat Danau (Ranu) bernama Pani, di pusat desa ini. Desa berpenduduk 1.387 jiwa --- terdiri dari 641 lelaki dan 746 perempuan. Pada posisinya senantiasa terancam bahaya erupsi dari dua gunung berapi yang sangat aktif. Di musim penghujan, sering  terancam terjangan banjir lumpur dengan karakter bandang serta angin puting beliung---badai yang menyertai hujan.
 
Bersama beberapa desa lain, juga dalam  kategori desa bahaya. Namun, yang tepat berada diantara Gunung Bromo (di utara) dan Gunung Semeru (di selatan) adalah Desa Ranu Pani. Ditetapkan sebagai desa Bahaya Semeru---karena berada pada jarak 20 kilometer dari puncak Semeru, juga menjadi desa dalam kawasan bahaya Bromo, karena berjarak lebih dekat lagi yaitu hanya sepuluh kilometer dari puncak Bromo.
 
Desa Ranu Pani yang permai, berada di ketinggian punggung Gunung Semeru  berudara  sejuk dengan suhu dalam kisaran +20 derajat Celsius (saat puncak kemarau bulan Juli – Agustus, suhu bisa turun hingga 4 derajat Celsius di bawah nol derajat). Penduduknya, sebagian besar bermata pencaharian utama bertani tanaman sayuran. Dengan lahan yang sangat subur, segala macam sayuran yang dihasilkan, berkualitas bagus, dan tidak sedikit dari jenisnya dapat menembus pasar swalayan di kota-kota besar. 
 
Ketika Gunung Bromo erupsi di akhir tahun 2010 dan awal 2011; Pemerintah Propinsi Jawa Timur menetapkan beberapa desa---terutama Desa Ranu Pani, berstatus sebagai Desa Siaga Bencana.  Agaknya status tersebut tidak pernah dicabut hingga sekarang.  Sebab setelah dua tahun berjalan, pada akhir tahun 2012, status Gunung Bromo kembali meningkat menjadi Waspada (level II) hingga saat ini tidak pernah diturunkan. Demikian pula dengan Gunung Semeru, yang sudah hampir 60 tahun terus-menerus menyemburkan material vulkanik dalam interval 20 – 30 menit .
 
Kendati berada diantara dua gunung yang saat ini dalam status Waspada, namun warga Desa Ranu Pani sama sekali seperti tidak pernah merasa khawatir, terhadap dampak erupsi. Meski berada di bawah Gunung Semeru, yang sejak tahun 1967 hingga sekarang setiap 20-30 menit menyemburkan lava pijar dan asap berdebu, namun rata-rata  warga Ranu Pani mengungkap  seumur-umur tidak pernah disakiti oleh erupsi ke dua gunung.
 
Warga mempercayai jika senantiasa berbuat baik, tidak berbuat kerusakan pada gunung dan lingkungannya;  gunung juga membalas  senantiasa tidak akan menyakiti. Tuturan turun-temurun  dari moyang warga desa ini, menjadi metologi sangat dipercaya. 
 
”Kami mempercayai itu. Terbukti ketika “amuk” Bromo akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011 silam, tidak terjadi sesuatu apa terhadap desa kami. Ketika itu, kami yang berada di jarak yang demikian dekat ini, hanya terguyur hujan abu yang tipis-tipis saja,” ungkap Wahyu, seorang warga Desa Ranu Pani.
 
Hermanto, warga yang lain menambahkan, walaupun Gunung  Semeru sering memperdengarkan  gemuruh dari dalam perutnya, menyemburkan material vulkanik dan juga sering tampak ada lava pijar meleleh mengalir ke arah lerengnya, namun kehidupan di desa ini tetap tenang-tenang saja. “Kami mengetahui ada berita-berita tentang gunung berapi yang meletus. Gunung Kelud meletus, hujan abunya kami rasakan sampai di sini, namun kegiatan sehar-hari warga yang bertani dan berternak, sama sekali tidak terpengaruh,”ungkapnya.
 
Banjir Lumpur Sangat Menakutkan
 
Masih Hermanto menambahkan, jika Gunung Semeru senantiasa menampakkan aktivitas dengan semburan asap bahkan lelehan lava pijar, disebut warga sebagai sedang batuk-batuk,  warga di desa di lereng bawahnya justru lebih tenang.  Sebab, diterima cerita secara turun tumurun dari para leluhur yang menyebut,  jika semeru sedang batuk-batuk  justru menandakan Semeru tidak akan meletus besar-besaran. Sebaliknya, jika Semeru tidak menyemburkan lava pijar dan tidak pula menebarkan abu halus, itu merupakan kondisi yang justru sangat berbahaya. 
 
“Sebab pada saat masih bisa batuk-batuk dan masih bisa mengeluarkan lelehan lava pijar, menyemburkan asap putih keabu-abuan membubung tinggi dan mengguyurkan abu halus, itu justru menandakan kondisi Gunung Semjeru sehat, ada jalan membuang material vulkanik dari dapur aktivitasnya, sehingga tekanan di dalam perutnya dapat berkurang secara teratur,”ungkap Hermanto, layaknya seorang ahli gung berapi.
 
Dari Pusat Vulkanik dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) didapat catatan, Gunung Semeru sebagai gunung berapi yang paling aktif; sejak tahun 1967 hingga sekarang pada setiap 20 – 30 menit menyemburkan material vulkanik. Setiap semburan material vukanik, sering  diikuti lelehan lava pijar. Lebih sering lagi diikuti keluarnya asap putih keabu-abuan, hingga mencapai ketinggian 200-300 meter.
 
Pada kondisi status waspada (level II) saat ini, semburan material vulkanik terjadi dengan interval relatif lebih sering lagi. Material vulkanik banyak tertumpuk di lereng atas. Jika terjadi hujan, sangat berbahaya dapat terbawa air turun menjadi lahar hujan. Gelontoran air dari Gunung Semeru, masuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS), salah satunya Sungai Mujur ke arah Kabupaten Lumajang, aliran air membawa endapan lahar, bandang, dapat sewaktu-waktu datang seperti tidak terduga
 
Warga Desa Ranu Pani mengungkap;  banjir bandang  yang membawa lumpur adalah yang  paling ditakutkan. “Warga tidak pernah merasa khawatir dengan letusan gunung---baik Gunung Semeru maupun Gunung Bromo. Hujan abu, biasa dirasakan warga Desa Ranu Pani di hampir setiap hari, baik siang maupun malam. Namun, yang paling ditakuti warga adalah banjir bandang yang membawa lumpur lahar yang sudah dingin,“ ungkap salah seorang warga.
 
Bajir berlumpur datangnya sangat mendadak. Memang tidak berlangsung lama; namun setelah banjir berlalu, lumpur yang tertinggal bisa setebal satu meter. “Perkampungan di desa ini, lokasinya kira-kira hanya satu meter lebih tinggi dari muka Ranu Pani. Ketika terjadi banjir bandang membawa lumpur, Ranu Pani sudah tidak mampu menampung. Ranu itu sudah sangat dangkal, sehingga luber ke perkampungan. Paling mengkhawatirkan, jika banjir tersebut  terjadi di malam hari,” tambah Sugito, salah seorang warga.       
 
Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS) menempatkan Desa Ranu Pani sebagai desa yang sangat penting, menjadi salah satu pintu masuk rute pendakian ke puncak Semeru (Mahameru).  Di puncak---lokasi tertinggi di desa ini, ditempatkan pos perijinan dan registrasi bagi masyarakat yang hendak memulai pendakian ke Mahameru (3.676 mdpl) tertinggi di Jawa. 
 
Desa Ranu Pani menjadi sangat penting bagi para pendaki. Setelah registrasi, para pendaki dapat menentukan pilihan untuk meneruskan pendakian atau berhenti dan menunda. Sebab, setelah Ranu Pani, perjalanan mendaki sejauh 4,5 kilometer yang memerlukan waktu hingga lima jam, menuju Ranu Kumbolo (2.400 mdpl)---lokasi yang memungkinkan dan menjadi pilihan para pendaki untuk bermalam, di tepian sebuah danau, sebelum melanjutkan pendakian lagi menuju puncak mahameru setinggi 3.676 mdpl.
 
Buat Musala terus masuk Islam
 
Kasimin, warga Desa Ranu Pani
 
Desa Ranu Pani, berada di kaki Gunung Semeru. Namun tidak ubahnya dengan desa-desa lain di sekitar Gunung Bromo ---di luar Kaldera Gunung Tengger, mayoritas penduduk asli adalah suku Tengger, yang hingga saat ini mayoritas adalah pemeluk Hindu, disebut sebagai Hindu Tengger.
 
Suatu hari di tahun 1972, Camat Senduro yang ketika itu dijabat Heru Purnomo. Di kantornya kedatangan Kasimin, seorang warga desa Ranu Pani yang sudah menempuh perjalanan---dengan jalan kaki--- sejauh lebih dari 30 Kilometer. Paling mengejutkan, kedatangan Kasimin “menghadap” itu, untuk meminta izin mendirikan mushala, sedang ia sebenarnya beragama Hindu.
 
Diperoleh keterangan, ketika itu Pak Kasimin menerima pertanyaan bertubi-tubi dan  cukup berat dari Camat. 
 
“Pak Kasimin, sampiyan ini agamanya apa?” tanya Camat Heru yang dijawab Kasimin; “Agami Kulo Hindu Pak,” Camat kemudian bertanya lagi; “Lha beragama Hindu, Pak Kasimin untuk apa membangun mushala?” menerima pertanyaan itu, Kasimin tidak kikuk dalam menyampaikan alasan karena banyak sekali teman-teman datang dari desa-desa yang jauh. Mereka, beragama Islam, membutuhkan mushala untuk tumpangan melaksanakan salat. Yang dimaksud teman-teman datang dari desa-desa jauh, mungkin para pendaki Gunung Semeru.
 
Berangkat dari desanya pukul 05.00 berjalan kaki ke ibukota kecamatan. Ketika itu bukan merupakan perjalanan yang mudah. Kasimin, dengan mengantongi surat izin dari Camat Heru Purnomo, tiba kembali di desanya sudah hampir senja.
 
Ketika kemudian mushala mulai didirikan dan selama membangun, kendati sudah mengantongi surat  izin dari camat, warga tetangganya yang semuanya Suku Tengger beragama Hindu fanatik, tidak berhenti memberi pertentangan. Kasimin pantang surut, walaupun para tetangga mencaci bahkan menyebutnya sudah gila, dan sekelompok orang ada juga sampai ada yang berniat mengeroyoknya. Pembangunan mushala jalan terus.
 
Kasimin, memberi kejutan lain lagi kepada Camat Heru Purnomo, yang datang memenuhi undangan untuk meletakkan batu pertama tanda mulai pembangunan mushala. Camat bertanya, “Pak Kasimin, setelah mushala ini berhasil berdiri, apa yang akan sampian lakukan?” Kasimin menjawab singkat  yang sama sekali tidak diduga; “Masuk Islam Pak.” Sejumlah warga yang mendengar jawaban Kasimin tersebut sejenak tertegun, namun kemudian bertepuk tangan.
 
Mushala kecil ukuran 3 x 3 meter, berhasil berdiri. Kasimin memenuhi janji masuk Islam. Mengharukan. Ternyata tidak hanya Kasimin, tetapi sejumlah tetangga, bahkan yang sebelumnya sangat menentang Kasimin juga menyatakan masuk Islam. Penghulu dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Senduro, hadir dan memimpin upacara masuk Islam dengan melafaltkan dua Kalimah Syahadat. Sayang seorang guru ngaji yang ditempatkan di desa ini, tidak bertahan lama.
 
Mashala Kasimin semakin berkembang hingga menjadi masjid. Sepuluh tahun kemudian, dalam tahun 1983, datang  seorang dermawan, menurut Kasimin adalah kakak kandung dari Adnan Buyung Nasution bernama Syamsi, memberikan sumbangan sebesar Rp 3 juta. Sumbangan tersebut memicu warga mengumpulkan dana, hingga terkumpul juga sebesar Rp 3 juta. Pemerintah Kabupaten Lumajang,  juga menyalurkan bantuan sebesar Rp 10 juta.  Dengan dana sebasar Rp 16 juta, mushala tersebut kemudian dirombak menjadi sebuah masjid.
 
Dari sebuah keterangan menyebutkan, dalam awal dasawarsa 1980-an itu,  penduduk Desa Ranu Pani berjumlah 1.190 jiwa dalam 357 Kepala Keluarga (KK). Pemeluk Islam sudah berkembang dalam 250 KK, pemeluk Hindu Tengger sejumlah 100-an KK dan pemeluk Kristen sejumlah tujuh KK, termasuk satu keluarga keturunan Belanda yang bermukim di Desa Ranu Pani sejak tahun 1939. 
 
Kristenisasi Mengintai
 
Sofyan Hadi, seorang dai  yang dikirim oleh Pesantren Hidayatullah; dalam tulisannya yang di posting melalui Hidayatullah.com mengungkap, ketika bersama istri dan seorang anaknya lima tahun silam menginjakkan kaki di Ranu Pani menemukan desa ini sudah berpenduduk mayoritas beragama Islam.
 
“Namun sangat memprihatinkan. Terdapat sebuah masjid tetapi mati suri,“  katanya dengan menambah, segera mengambil langkah menghidupkan masjid itu dengan mendirikan shalat lima waktu dan mengumandangkan azan dan iqamah, juga mendirikan shalat jumat.
 
Ketika Sofyan pertama kali menyelenggarakan salat Jumat, jamaah yang datang hanya seorang. Itupun seorang  pedagang keliling.  
 
“Saya yang azan, saya yang berdiri jadi khatib dan merangkap pula jadi imam,” katanya.  Hari-hari berikutnya, dilalui dengan penuh kesabaran. Diselenggarakan pengajian sore dan malam di Masjid untuk anak-anak. Sampai akhir tahun 2013 kemarin, tercatat sudah tidak kurang dari 80 anak-anak mengikuti pengajian Sofyan.
 
Agaknya kondisi Ranu Pani yang demikian, sudah berlangsung sejak lama. Menurut keterangan, ketika tahun 1980-an warga berbondong-bondong menyatakan masuk Islam, guru ngaji yang diharapkan dapat memberi bimbingan pengamalan agama, ternyata tidak dapat selamanya tinggal di Ranu Pani.
 
Pada perkembangan berikutnyan Sofyan berada di Ranu Pani, diminta pula untuk menjadi guru agama di sebuah sekolah TK.  Permintaan itu segera saja dipenuhi,  karena ia mengetahui di Desa Ranu Pani ini, juga terdapat satu TK lain yang didirikan oleh kalangan Kristen. “Saya satu-satunya guru TK laki-laki,” katanya.
 
Pada suatu hari,  Sofyan menjumpai seorang anak yang sedang tidak bersekolah. Ia datangi orang tua anak itu, untuk mengajak masuk ke TK tempatnya ia mengajar. Namun beberapa hari kemudian, Sofyan didatangi seseorang yang kemudian menghardik.
 
“Jangan mengajak anak masuk sekolahmu, sedang anak itu sudah sekolah,” kata Sofyan menirukan. Belakangan Sofyan mengetahui, anak tadi ternyata telah bersekolah di TK Kristen, sedang sebenarnya orang tua anak itu Muslim.
 
Sofyan menangkap suatu gejala yang sangat mengancam. Seluruh penduduk Desa Ranu Pani berjumlah 500 KK. Sebagian besar KK Muslim, hanya puluhan KK saja yang masih Hindu Tengger, sedang Kristen hanya tujuh KK.  
 
“Tetapi di Ranu Pani berdiri sebuah sekolah TK Kristen. Agaknya ini menjadi pertanda masyarakat Ranu Pani yang terbelakang  dalam beragama ---dengan latar belakang  pendidikan rata-rata SD dan hanya beberapa saja lulusan Sekolah Menengah--- kini menjadi incaran Kristenisasi,” ungkap Sofyan Hadi menutup tulisannya.    
 
Rep : Muhammad Halwan / dbs 
 Wallahu A‘lam.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Kontak Gema Dakwah : admin@gemadakwa.com

Item Reviewed: Ranu Pani, Desa Permai di Antara Semeru-Bromo yang Terancam Bencana dan Kristenisasi Rating: 5 Reviewed By: Tarqiyah Online